Kelok 23 Dibuka September, Ada 3 Gardu Pandang di JJLS
Kelok 23 JJLS Gunungkidul-Bantul hampir rampung dan bakal dilengkapi tiga gardu pandang untuk menikmati panorama Laut Selatan.
Petugas BPBD Gunungkidul menyalurkan bantuan air bersih kepada warga di Padukuhan Gebang di Kalurahan Girisuko, Kapanewon Panggang, Kamis (20/8/2026)./Istimewa-BPBD Gunungkidul
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Warga di sejumlah wilayah Kapanewon Gedangsari, Gunungkidul, harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan air bersih selama musim kemarau. Harga satu tangki air berkapasitas 5.000 liter bahkan mencapai Rp350.000.
Panewu Gedangsari, Eko Krisdiyanto, mengatakan tingginya harga air bersih di wilayahnya tidak terlepas dari kondisi geografis. Sebagian besar wilayah Gedangsari berada di kawasan perbukitan dengan medan yang terjal sehingga distribusi air membutuhkan kendaraan dan pengemudi yang benar-benar memahami kondisi jalan.
Selain medan yang sulit, jarak sumber air dari lokasi warga juga menjadi faktor yang membuat biaya distribusi meningkat.
“Di tempat kami paling mahal Rp350.000 per tangki. Lokasinya di Kalurahan Mertelu tepatnya di Padukuhan Batutur, Guyangan Lor dan Guyangan Kidul. Untuk lokasi lain paling murah Rp250.000 per tangki kapasitas 5.000 liter,” kata Eko, Jumat (4/9/2026).
Menurut Eko, Gedangsari termasuk wilayah yang terdampak kekeringan. Sejumlah warga mengalami kesulitan memperoleh air bersih sehingga sebagian kebutuhan sehari-hari harus dipenuhi dengan membeli air secara swadaya.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena tidak semua wilayah dapat dijangkau dengan mudah oleh kendaraan pengangkut air.
“Tim BPBD tidak berani menyalurkan bantuan secara langsung karena droping dilakukan lewat pihak ketiga yang hafal medan dan kendaraan juga sudah dimodifikasi secara khusus. Kalau sopirnya tidak hafal, medan maka sangat rawan kecelakaan. Inilah kenapa membuat harga air bersih di Gedangsari lebih mahal,” katanya.
Eko menjelaskan distribusi air menuju sejumlah wilayah di Gedangsari membutuhkan kehati-hatian. Kendaraan tangki harus melewati jalan perbukitan dengan tanjakan dan kondisi medan yang berisiko.
Situasi itu membuat penyaluran tidak bisa dilakukan secara cepat. Pengemudi juga harus memiliki pengalaman dan mengetahui jalur yang aman agar distribusi air tidak justru menimbulkan risiko kecelakaan.
Faktor lain yang ikut memengaruhi harga adalah lokasi pengambilan air. Menurut Eko, pengusaha tangki air yang memasok kebutuhan warga Gedangsari umumnya mengambil air dari sumber di Kapanewon Playen, tepatnya di sekitar Pasar Playen.
“Jaraknya lumayan jauh sehingga butuh waktu. Sehari hanya bisa mengantarkan pesanan air ke warga tiga kali karena harus pulang pergi dari Playen ke Gedangsari,” katanya.
Dengan jarak tersebut, satu kendaraan tangki tidak dapat melayani banyak pesanan dalam satu hari. Waktu yang dibutuhkan untuk mengambil air, mengirimkannya ke Gedangsari, lalu kembali ke sumber air membuat kapasitas distribusi menjadi terbatas.
Di tengah tingginya kebutuhan masyarakat, pemerintah kapanewon juga menyiapkan anggaran untuk membantu penyaluran air bersih kepada warga yang terdampak kekeringan.
Hingga awal September 2026, dari target penyaluran sebanyak 266 tangki, sebanyak 160 tangki telah didistribusikan kepada masyarakat.
“Sebarannya sudah merata di seluruh kalurahan di Gedangsari. Selain dari kapanewon, juga ada bantuan yang disalurkan oleh pihak ketiga seperti PMI hingga Ikatan Keluarga Gunungkidul,” katanya.
Bantuan tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengurangi beban masyarakat di tengah kebutuhan air bersih yang meningkat selama musim kemarau.
Namun, kebutuhan air tidak hanya dirasakan secara merata di seluruh wilayah. Sejumlah padukuhan yang berada di kawasan perbukitan menghadapi keterbatasan akses sumber air yang lebih besar.
Carik Tegalrejo, Gedangsari, Sugiyanto, mengatakan beberapa padukuhan di wilayahnya mengalami kesulitan mendapatkan air bersih ketika kemarau. Di antaranya Hargosari, Sermo dan Ngipik.
“Lokasinya ada di ketinggian sehingga akses sumber sangat terbatas, khususnya saat kemarau,” katanya.
Menurut Sugiyanto, bantuan air bersih telah masuk ke sejumlah wilayah yang mengalami kesulitan. Bantuan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga selama kondisi sumber air masih terbatas.
“Sudah ada yang masuk, tapi untuk harganya kurang paham karena semuanya diurusi oleh pihak pemberi bantuan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kelok 23 JJLS Gunungkidul-Bantul hampir rampung dan bakal dilengkapi tiga gardu pandang untuk menikmati panorama Laut Selatan.
George Russell mengakui McLaren menjadi tim yang harus dikalahkan jelang F1 GP Italia 2026. Mercedes masih mengejar dalam pengembangan mobil.
Memperingati Hari Pelanggan Nasional, Epson Indonesia kembali menyelenggarakan Epson Customer Day 2026 pada 3–4 September 2026
DPRD Bantul mendorong pembangunan dan rehabilitasi RJIT di kawasan Pansela untuk membantu petani mendapatkan pasokan air dan menekan risiko gagal panen.
Massimo Rivola menilai Aprilia bisa belajar dari kecerdasan Marc Marquez dalam mengelola risiko dan mengamankan poin di MotoGP 2026.
Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026 mencatat rencana investasi sebesar Rp20,073 triliun untuk Jawa Tengah.