Advertisement

3 Pohon Beringin di Alun-Alun Utara Tumbang, Begini Makna Pohon Beringin bagi Kraton Jogja

Sunartono
Sabtu, 02 April 2022 - 15:07 WIB
Budi Cahyana
3 Pohon Beringin di Alun-Alun Utara Tumbang, Begini Makna Pohon Beringin bagi Kraton Jogja Pohon beringin Alun-Alun Utara tumbang, Jumat (1/4/2022). - Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA-Tiga pohon beringin di area Alun-Alun Utara Jogja tumbang akibat hujan deras dan angin kencang pada, Jumat (1/4/2022) sore. 

BACA JUGA: Update Pohon Tumbang hingga Atap Terbang Akibat Hujan Angin di Kota Jogja

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Berdasarkan data BPBD Kota Jogja, dari tiga pohon beringin yang tumbang tersebut, dua berada di Kompleks Dwi Satawarsa Alun-Alun Utara Jogja. Pohon beringin pertama tumbang dengan tinggi 20 meter dan diameter 2,5 meter. Dampak robohnya pohon ini pun menutup akses jalan dan menimpa kabel listrik. 

Kemudian pohon beringin kedua juga masih berada di Kompleks Dwi Satawarsa Alun-Alun Utara. Pohon ini memiliki tinggi 15 meter dan diameter 2 meter, dampaknya menutup jalan, menimpa kabel listrik, dan menimpa pagar Alun-Alun Utara Jogja.

Pohon beringin ketiga relatif kecil berada di Kompleks Pelataran Masjid Gede Kauman atau tepat di depan Bina Manggala. Pohon ini dengan tinggi 7 meter dan diameter 29 sentimeter. 

Berdasarkan situs resmi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, kratonjogja.id, Pohon beringin (Ficus Benjamina) memiliki posisi istimewa bagi Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Sebagai tanaman kerajaan, pohon beringin yang besar dan rimbun melambangkan pengayoman raja kepada rakyatnya. Ada puluhan pohon beringin yang ditanam di kawasan Kraton Jogja, beberapa di antaranya bahkan memiliki nama.

Masyarakat Jawa memandang pohon beringin sebagai pohon hayat, memberikan hayat atau kehidupan pada manusia, juga memberikan pengayoman dan perlindungan. Pohon yang besar dan rimbun seperti beringin dianggap menimbulkan rasa gentar dan hormat.

Penghormatan terhadap beringin sudah ada sejak masa Mataram Islam, kerajaan yang menjadi cikal bakal Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pohon beringin termasuk dalam barang yang diangkut pada proses perpindahan keraton Mataram dari Kartasura menuju Surakarta. 

“Rombongan pengangkut yang membawa empat buah pohon beringin pusaka berjalan di depan, diikuti oleh rombongan pengangkut lainnya. Keempat pohon ini kemudian ditanam kembali di ibukota yang baru,” tulis situs resmi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Bahkan di kalangan masyarakat Jawa masa lalu, dikenal frasa neres ringin kurung. Secara harfiah berarti menguliti kulit pohon beringin kurung tersebut dimaknai sebagai memberontak terhadap kekuasaan raja. Pandangan seperti ini tidak dapat dilepaskan dari bentuk dan sifat pohon beringin. 

BACA JUGA: Cuaca Ekstrem di DIY Terkini Ada Kaitannya dengan Merapi, Ini Penjelasan BMKG

Pohon beringin memiliki sifat-sifat yang dihubungkan dengan kebesaran Kraton Jogja. Ukurannya besar, tumbuh di segala musim, berumur panjang, dan akar-akarnya dalam dan kuat mencengkram tanah, memiliki kemampuan mengikat air dengan baik.

Daun-daunnya kecil rimbun memberi keteduhan dan pasokan oksigen dalam jumlah besar, memberi rasa aman bagi yang berteduh di bawahnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Wisata Plunyon Merapi Kembali Dibuka

Wisata Plunyon Merapi Kembali Dibuka

Jogjapolitan | 5 hours ago

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Musyawarah Rakyat Tempatkan Airlangga di Tiga Besar Bersama Ganjar & Prabowo

News
| Kamis, 02 Februari 2023, 22:57 WIB

Advertisement

alt

3 Tempat Dingin di Sleman, Cocok Buat Healing

Wisata
| Kamis, 02 Februari 2023, 12:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement