Advertisement

Mantan Dubes Ungkap Penyebab Konflik Bersumber dari Ideologi Agama

Sunartono
Jum'at, 08 Juli 2022 - 16:07 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
Mantan Dubes Ungkap Penyebab Konflik Bersumber dari Ideologi Agama Mantan Duta Besar Qatar 2003-2007 KH Abdul Wahid Maktub - Ist.

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA-Mantan Duta Besar Qatar 2003-2007 KH Abdul Wahid Maktub menilai ada sejumlah penyebab persoalan yang bersumber dari ideologi agama. Hal itu disampaikan pada Public Lecture Kontestasi Politik Luar Negeri dan Perkembangan Islam di Indonesia, di Gedung Kuliah Umum Sardjito, UII, Kamis (7/7/2022).

Abdul Wahid Maktub menyatakan di dunia seringkali persoalan atau konflik muncul bersumber dari ideologi agama. Penyebabnya menurutnya ada dua faktor, pertama, misinterpretation yang kemudian berimbas pada kekeliruan implementasi. Dalam konteks ini seorang ulama Qatar, Yusuf Qardawi berharap Indonesia dapat menjadi pembawa Islam yang rahmatan lil alamin. "Bukan hanya untuk segolongan saja, tetapi untuk masyarakat global secara umum," katanya dalam rilis yang diterima Jumat (8/7/2022)

Faktor kedua, lanjut mantan Waketum PBNU ini, saat ini banyak masalah yang tidak bisa diidentifikasi. Tidak hanya aspek fisik tapi juga aspek non-fisik yang harus dihitung. Untuk melakukan pemberdayaan, harus mulai belajar dari diri sendiri sehingga akan terjadi akselerasi. Perbedaan bukan lagi menjadi ancaman, melainkan justru menjadi anugerah.

Ia mengatakan dengan chaosnya keadaan dunia saat ini menjadi kesempatan Islam untuk tampil dan membawa pemikiran baru sebagai solusi banyaknya masalah yang terjadi. Akan tetapi harus dipastikan dahulu, konsep Islam yang akan melakukannya.

"Semua harus dimulai dengan pemikiran dan keilmuan, karena Islam selama ini digunakan oleh orang-orang yang tidak berilmu sehingga memberikan gambaran Islam yang salah atau keliru," katanya.

Ia menilai pentingnya melihat konflik baik lokal maupun global, sekaligus menjadikan evaluasi bahwa bangsa masih tergolong lemah. Kondisi saat ini seluruh elemen masyarakat harus melakukan perubahan dan pembaharuan. "Human resource menentukan nasib negara di samping natural resource. Dengan ilmu, dengan menyadari, dengan self reform akan muncul self confident, bahkan self resilient. Sama halnya seperti negara, kepercayaan diri akan berubah menjadi ketahanan diri," katanya.

Rektor UII Profesor Fathul Wahid dalam sambutannya mengutip laporan dari The Brookings Institution, tentang sebuah pendekatan baru yang membahas bagaimana Islam menjadi soft power yang digunakan oleh aktor negara. Islam garis keras yang kerap didengar selama ini adalah Islam yang dimunculkan oleh aktor non-negara.

"Ini menjadi penting bagaimana pesan-pesan Islam yang damai, mengandung nilai universal, keadilan, kejujuran, kesetaraan, peduli lingkungan dan lain-lain. Ini bisa kita lantangkan bersama," katanya. 

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Dari Bidang Makanan sampai Kesehatan, 21 CEO Meraih Achievement Award

News
| Minggu, 02 Oktober 2022, 07:17 WIB

Advertisement

alt

3 Rekomendasi Glamcamp Seru di Jogja

Wisata
| Sabtu, 01 Oktober 2022, 17:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement