Advertisement

Atasi Kemiskinan, DIY Fokus Kuntul Gunung

Media Digital
Sabtu, 21 Januari 2023 - 08:27 WIB
Sunartono
Atasi Kemiskinan, DIY Fokus Kuntul Gunung Tugu Pal Putih atau Tugu Jogja - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah DIY terus berusaha untuk mengentaskan kemiskinan pada 2023 ini dengan fokus menyasar wilayah kantong kemiskinan di Kuntul Gunung.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIY, Beny Suharsono, mengatakan Pemda DIY akan menyasar daerah-daerah tertinggal di mana angka kemiskinannya paling tinggi.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Pemda DIY akan menfokuskan pengentasan kemiskinan di tiga kabupaten sisi selatan DIY meliputi Kulonprogo, Bantul, dan Gunungkidul, yang belakangan populer disebut Kuntul Gunung. Ketiga daerah juga sudah berkomitmen untuk saling berkolaborasi dalam perencanaan pembangunan terutama untuk kawasan pesisir.

Gubernur DIY Sri Sultan HB X, lanjut Benny, sudah memerintahkan untuk segera memberi perlindungan sosial dan jaminan sosial kepada warga miskin. Saat ini, Pemda DIY melalui pemerintah kabupaten/kota sedang memverifikasi siapa-siapa saja penduduk yang masuk kategori miskin. "Jadi ini tidak bicara sampling lagi, tapi aksi nyata, siapa dan di mana penduduk miskinnya. Nanti ketemu siapa dan di mana 463.000 itu. Kalau masih sampling, nanti bisa salah sasaran lagi," katanya, Jumat (20/1).

Beny menjelaskan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyatakan angka kemiskinan di DIY tertinggi se-Jawa merupakan angka statistik kuarter per kuarter. Dengan cara perbandingan seperti itu, angka kemiskinan di DIY tampak naik. Tetapi jika dibandingkan tahun per tahun, angka kemiskinan di DIY sebenarnya menurun. "Jadi mohon tidak dibaca sepenggal-sepenggal [kuarter per kuarter] karena proses perjalanan pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan itu bisa bicara kuarter per kuarter, dan akumulasi tahun per tahun. Yang kemarin dirilis [BPS], itu angka tiga bulan terakhir, kemiskinan naik 11,34 menjadi 11,59," katanya.

Benny menyebut pada angka-angka statistik yang lain di DIY justru naik positif. Sebut saja angka usia harapan hidup, indeks kebahagiaan, angka harapan rata-rata lama sekolah, indeks kesejahteraan, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Hal itu dinilai Benny memang menjadi kontradiksi, paradoks atau anomali bila dihadapkan pada angka kemiskinan.

Benny mencontohkan, di Kulonprogo kemiskinannya mendekati 18%, tetapi usia harapan hidup warga di sana mencapai 75 tahun, paling tinggi se-DIY bahkan secara nasional. Selain itu, angka harapan rata-rata sekolah di DIY, menurut Benny tergolong cukup tinggi yakni mencapai 15,59 atau nomor dua tertinggi nasional setelah DKI Jakarta.

Bappeda DIY juga mencatat pada kurun 2010 hingga 2022, IPM di DIY bertambah 5,37 poin, dari 75,37 pada 2010, menjadi 80,64 pada 2022.

"Ini fakta yang lain. Apa mungkin kalau kemiskinan ekstrem DIY tertinggi, angka-angka yang tadi tidak menjadi diskusi? Kami tidak dalam posisi meluruskan, tetapi menyampaikan data-data lainnya yang juga perlu kami informasikan," katanya.

Program Bantuan

Paniradya Pati Aris Eko Nugroho menyampaikan instansinya juga berupaya mengurai kemiskinan yang ada di DIY dengan memanfaatkan berbagai program bantuan untuk masyarakat.

Program-program ini dibuat dengan didasari oleh pemanfaatan Dana Keistimewaan (Danais) DIY yang memiliki alokasi tertentu yang dikhususkan untuk pengentasan kemiskinan. Sejumlah program seperti desa mandiri budaya, desa wisata sebagai rintisan kalurahan mandiri budaya kemudian juga RTLH atau rumah tinggal layak huni menjadi program-program yang dibiayai oleh Danais.

Ada pula program-program seperti beasiswa bagi anak, desa prima untuk ibu yang diutamakan kepala keluarga, RTLH per individu maupun RTLH terintegrasi, KUBE, penggunaan tanah kas desa yang diperuntukkan untuk masyarakat yang kurang mampu sehingga salah satu kebutuhan papan bisa terpenuhi dengan baik.

Pemulihan Tercepat

Bank Indonesia menilai dengan menggunakan indikator Produk Domestik Bruto (PDRB) untuk mengukur pertumbuhan ekonomi, DIY telah memasuki masa pemulihan ekonomi pasca-pandemi Covid-19.

Direktur Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Yogyakarta, Budiharto Setyawan, mengatakan akumulasi PDRB DIY Triwulan I hingga Triwulan III 2022 atas dasar konstan telah berada pada level Rp83,58 triliun atau meningkat 4,68% (ctc) dibandingkan akumulasi PDRB Triwulan I hingga Triwulan III 2021. "Level PDRB dimaksud bahkan telah melampaui akumulasi PDRB triwulan yang sama 2019 sebesar Rp74,79 triliun. Apabila pencapaian tersebut digunakan sebagai ukuran keberhasilan, maka DIY menjadi salah satu provinsi yang [proses] pemulihannya tercepat di Indonesia," kata Budi.

Dalam pengukuran kemiskinan, lanjut Budi, BPS telah merilis beberapa indikator. Berdasarkan indikator tersebut, meskipun pertumbuhan ekonomi DIY tergolong sangat baik, tetapi indikator garis kemiskinan yang mencerminkan nilai rupiah pengeluaran minimum untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup selama sebulan menurun, baik itu di perkotaan maupun di pedesaan. "Untuk indikator kemiskinan ini, kami telah melakukan asesmen. Beberapa hal penting dari hasil asesmen yang dapat kami sampaikan," katanya.

Mayoritas masyarakat di DIY telah memiliki pekerjaan yang menghasilkan pendapatan. Tingkat pengangguran di DIY berkisar 4,06% (Agustus 2022), dinilai Budi tergolong sangat baik karena jauh berada di bawah rata-rata nasional 5,86%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Angka Kemiskinan di Kabupaten Magelang Turun 0,82 Persen

News
| Rabu, 01 Februari 2023, 14:57 WIB

Advertisement

alt

Seru! Ini Detail Paket Wisata Pre-Tour & Post Tour yang Ditawarkan untuk Delegasi ATF 2023

Wisata
| Rabu, 01 Februari 2023, 14:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement