Kendala Gawai dan Jaringan Hambat Aktivasi IKD di Gunungkidul
Aktivasi Identitas Kependudukan Digital di Gunungkidul baru mencapai 6,4 persen. Disdukcapil memperluas layanan jemput bola untuk mengejar target 20 persen pada
Ilustrasi longsor./Pixabay-Saiful Mulia
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—BPBD Gunungkidul mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana alam dalam beberapa hari ke depan.
Pasalnya, di awal musim kemarau, masih terjadi hujan disertai angin kencang yang berpotensi menyebabkan pohon tumbang maupun tanah longsor.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Gunungkidul, Sumadi mengatakan, wilayah Gunungkidul sudah memasuki musim kemarau. Meski demikian, di awal-awal kemarau masih berpeluang terjadinya hujan dengan intensitas tinggi.
BACA JUGA: Kasus Korupsi Stadion Sultan Agung, Tersangka Ditahan Terkait Nota Fiktif
“Kami terus berkoordinasi dengan BMKG. Adapun prediksinya hujan masih akan turun dalam beberapa hari ke depan,” kata Sumadi kepada wartawan, Jumat (5/5/2023).
Dia menjelaskan, potensi bencana yang harus diwaspadai di antaranya angin kencang, tanah longso hingga banjir. Meski demikian, Sumadi mengakui belum ada laporan terkait dengan musibah atau bencana alam.
“Laporan terakhir jembatan rusak di Ngawen. Setelah itu, belum ada lagi,” katanya.
Untuk antisipasi bencana di awal kemarau, ia meminta masyarakat tetap waspada. Salah satunya dengan memperhatikan cuaca di sekeliling.
Dia mencontohkan, pada saat terjadi hujan deras, warga di daerah rawan-rawan longsor agar lebih berhati-hati dan apabila diperlukan mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman. Hal yang sama untuk potensi pohon tumbang, bisa diantisipasi dengan memangkas dahan dan ranting pohoh yang telah rimbun.
“Untuk perkembangan cuaca kami akan terus berkoordinasi dengan BMKG. Adapun hasilnya akan disosialisasikan ke masyarakat melalui relawan maupun kalurahan tangguh bencana yang ada,” katanya.
Kepala BPBD Gunungkidul, Purwono mengatakan, untuk menghadapi kemarau yang diprediksi lebih panjang, sudah menyiapkan sejumlah antisipasi. Salah satunya mengalokasikan anggaran penyaluran bantuan air bersih ke masyarakat.
Ia tidak menampik, hingga sekarang masih ada wilayah kapanewon, khususnya di sisi selatan Gunungkidul yang kesulitan mendapatkan air bersih. Oleh karenanya, akan ada bantuan air bersih ke warga yang membutuhkan.
“Anggaran yang disediakan sekitar Rp230 juta untuk penyaluran 1.000 tangki,” katanya.
Purwono menambahkan, bantuan air bersih tidak hanya dilakukan BPBD karena kapanewon juga memiliki anggaran tersendiri. “Tentunya biar tepat sasaran akan ada koordinasi lanjutan. Selain, untuk pemetakan wilayah terdampak kekeringan, juga agar penyaluran bantuan tidak tumpang tindih,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Aktivasi Identitas Kependudukan Digital di Gunungkidul baru mencapai 6,4 persen. Disdukcapil memperluas layanan jemput bola untuk mengejar target 20 persen pada
Kecerdasan emosional, kreativitas, dan kepemimpinan diprediksi menjadi keterampilan paling dicari di era AI. Mengapa kemampuan manusia justru semakin berharga.
"Trump Curse" ramai di media sosial usai AS kalah 1-4 dari Belgia di Piala Dunia 2026. Trump disebut bawa sial setelah hubungi FIFA. Ini deretan kekalahan lain
Petani di Bantul mulai beralih menanam kacang tanah dan palawija saat musim kemarau. Tanaman ini dinilai lebih hemat air dan memiliki masa panen yang relatif si
DuckDuckGo luncurkan pemblokir iklan YouTube bawaan gratis. Cukup aktifkan di pengaturan browser, nonton video tanpa iklan tanpa ekstensi. Alternatif YouTube Pr
Prancis vs Maroko: 19 pemain diaspora di skuad Maroko, 6 lahir di Prancis. Sejarah migrasi, identitas, dan sepak bola mewarnai duel perempat final Piala Dunia