Duh, Baru 2,8% Masyarakat Indonesia yang Menyikat Gigi dengan Benar
Berdasarkan data, baru 2,8% masyarakat yang sudah melakukan gosok gigi secara benar.
Ilustrasi air minum dalam kemasan/Womenshealthmag
Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah DIY terus meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya mengonsumsi air bersih yang bersumber dari Perusahaan Daerah Air Bersih (PDAB) Tirtamarta DIY. Sebab, masih ada masyarakat yang menganggap bahwa air sumur yang jernih cenderung lebih sehat dan aman.
Ditemui di kantornya, Direktur Utama PDAB Tirtamarta DIY, Teddy Kustriyanto Widodo mengatakan masyarakat masih banyak yang menilai bahwa air sumur yang jernih lebih sehat. Padahal air jernih belum tentu aman karena masih bisa mengandung bakteri E.coli.
BACA JUGA: PDAB Tirtatama Terus Berusaha Perluas Cakupan Penyediaan Air Bersih di Wilayahnya
“Ada pula yang takut dengan kaporit atau klorin. Begitu mencium airnya seperti ada bau kimianya, masyarakat takut. Padahal kalau orang asing [luar negeri] itu, air yang tidak bau malah dia curiga, jangan-jangan enggak ada disinfektannya. Nah, ini beda sama pemikiran kita [orang Indonesia],” kata dia, Jumat (25/4/2025).
Teddy mengatakan kaporit dan klorin di dalam air justru akan membuat bakteri-bakteri mati. Dari segi bau memang menyengat, namun bau tersebut jika didiamkan akan menguap dan hilang dengan sendirinya. “Selama [kandungan kaporit dan klorin] dalam batas yang diperbolehkan, dari Kemenkes di bawah 0,5 mg/L, itu malah sehat,” terang dia.
Batas maksimal 0,5 mg/L tersebut ditetapkan untuk memastikan air minum aman dikonsumsi dan tidak menimbulkan efek samping pada kesehatan. Edukasi lain yang tidak kalah penting adalah tentang jarak antara sumur dengan kamar mandi/toilet. Hingga saat ini masih dijumpai di rumah-rumah penduduk yang mana lokasi sumur berdampingan atau berdekatan dengan saluran pembuangan. Hal ini tanpa disadari akan memberikan kontaminasi buruk pada air.
BACA JUGA: Korban Gempa Myanmar Butuh Obat-obatan, Air Bersih hingga Tempat Tinggal
Oleh karena itu diperlukan edukasi dan sosialisasi untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya air bersih dan cara mengenalinya. Diperlukan konten-konten di media sosial yang bisa menjelaskan hal tersebut agar mudah dipahami oleh semua kalangan.
Pimpinan Redaksi Harian Jogja Anton Wahyu Prihartono mengatakan konten-konten tentang edukasi air bersih memang perlu digenjot untuk memberikan pemahaman yang tepat kepada masyarakat. Jangan sampai masyarakat salah paham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berdasarkan data, baru 2,8% masyarakat yang sudah melakukan gosok gigi secara benar.
Xiaomi 18 Pro Max dikabarkan hadir dengan kamera 200MP ganda, chipset Snapdragon terbaru, dan peningkatan signifikan pada fotografi.
Kemnaker menegaskan komitmen menindaklanjuti laporan PHK, perlindungan pekerja, hingga K3 demi hubungan industrial yang adil dan kondusif.
Bank Mandiri Taspen melalui program Glow and Grow dorong pensiunan tetap aktif, sehat, dan produktif lewat edukasi dan pemberdayaan lansia.
Bapanas mencatat penyaluran bantuan pangan beras dan Minyakita telah mencapai 55,37% dari target 33,2 juta KPM hingga Juni 2026.
Pemkab Kulonprogo evaluasi dampak embarkasi haji yang dinilai belum optimal bagi UMKM dan hotel. Okupansi masih stagnan 25%.