Advertisement
Sultan Ground Disewakan 40 Tahun untuk Tol Jogja-Solo-YIA, Hak Anggaduh Kalurahan Dikembalikan Ke Kraton Ngayogyakarta
Pekerjaan pemasangan pierhead menggunakan metode sosrobahu dalam proyek Tol Jogja-Solo Seksi 2 Paket 2.2B Trihanggo-Junction Sleman, seperti terlihat belum lama ini. - Istimewa - Dokumen PT Adhi Karya
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat menyewakan lahan seluas 320.000 meter persegi untuk proyek jalan tol melalui skema sewa jangka panjang. Lahan Sultan Ground tersebut sebagian merupakan hak anggaduh kalurahan yang dikembalikan ke Kraton.
Penghageng II Panitikismo, KRT Suryo Satriyanto, menjelaskan seluruh lahan yang disewakan ini berstatus Sultan Ground. Beberapa bidang sebelumnya merupakan tanah anggaduh kalurahan, yakni hak pakai oleh pemerintah desa.
Advertisement
Dalam hal ini, hak anggaduh tersebut telah dikembalikan secara resmi kepada Kraton, sehingga secara administratif seluruh bidang kini berstatus murni Sultan Ground. Pengembalian hak anggaduh ini menjadi syarat penting agar proses sewa tidak menimbulkan tumpang tindih administratif.
“Agar tidak terjadi kesalahan dalam administrasi sewa, maka hak anggaduh dari kalurahan terlebih dahulu dikembalikan kepada Kraton. Setelah itu, baru disusun skema sewa yang sah secara hukum dan adat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (25/7/2025).
Sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi, Kraton memberikan kompensasi tahunan kepada kalurahan yang telah mengembalikan hak anggaduh tersebut. Sayangnya tidak dijelaskan detail bagaimana kompensasi yang diberikan tersbut.
Adapun Kraton menyewakan lahan untuk tol tersebut dengan harga Rp12.500 per meter per tahun, atau setara Rp500.000 per meter untuk jangka waktu 40 tahun, dengan total nilai sewa mencapai Rp160 miliar.
Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR, Roy Rizali Anwar, memastikan bahwa seluruh biaya sewa ditanggung oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT). “Masuk ke investasinya BUJT. Rp160 miliar untuk 320 ribu meter persegi, selama masa konsesi,” katanya beberapa waktu lalu.
Lahan SG tersebut digunakan untuk dua Proyek Strategis Nasional (PSN): Jalan Tol Solo-Jogja-Kulonprogo dan Jalan Tol Jogja-Bawen. Untuk proyek Tol Solo-Jogja-Kulonprogo, lahan yang digunakan mencapai 245.302 meter persegi, terdiri dari 177 bidang tanah desa dan 17 bidang Sultan Ground. Proyek ini terbagi dalam tiga tahap.
BACA JUGA: Pemkab Bantul Siapkan Penataan Kawasan Sekitar Jalur Tol Jogja-YIA
Ruas Klaten-Prambanan telah selesai dan kini beroperasi tanpa tarif. Sementara ruas Prambanan-Purwomartani telah mencapai progres 78,93%. Adapun ruas lainnya, seperti Purwomartani–Maguwo dan JC Sleman-Trihanggo, masih dalam tahap pembangunan. Tol ini ditargetkan beroperasi penuh pada 2028.
Sementara itu, Jalan Tol Jogja-Bawen memanfaatkan lahan seluas 75.440 meter persegi, terdiri dari 90 bidang tanah desa dan delapan bidang Sultan Ground. Jalan tol sepanjang 75,12 Km ini terbagi menjadi enam seksi, menghubungkan Jogja hingga Bawen melalui Borobudur, Magelang, Temanggung, dan Ambarawa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Iran Izinkan Kapal Negara Sahabat Lewati Selat Hormuz di Tengah Blokad
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- UMKM Jadi Mesin Perputaran Uang Saat Libur Lebaran di Sleman
- Mobil Dinas Baru di Pemkab Gunungkidul Batal, Jalan Rusak Jadi Fokus
- Arus Balik Mulai Padat di Bantul, Akses Parangtritis Diatur Satu Arah
- Duel Remaja di Pakualaman Jogja Terbongkar, Dua Pelajar Luka Parah
- Puluhan Telur Piton Ditemukan di Selokan Permukiman Warga Gunungkidul
Advertisement
Advertisement





