Advertisement
Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
Foto ilustrasi warga Jogja berbelanja di Pasar Tradisional, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Biaya hidup di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 2026 masih tergolong ramah di kantong. Namun, dalam keseharian, banyak warga mulai merasakan tekanan pengeluaran, terutama dari kebutuhan pangan dan tempat tinggal yang terus bergerak naik.
Perbedaan antara angka resmi dan kondisi riil ini membuat penting bagi masyarakat untuk memahami acuan data sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan masing-masing.
Advertisement
Acuan Resmi dari BPS
Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024 yang dirilis pada 2025, rata-rata pengeluaran per kapita di DIY berada di kisaran Rp1,5 juta per bulan. Angka tersebut menjadi dasar untuk membaca kondisi ekonomi, tetapi bukan patokan pasti dalam kehidupan sehari-hari.
BACA JUGA
Dalam Susenas, pengeluaran masyarakat terbagi relatif seimbang:
- Sekitar 50% untuk makanan
- Sekitar 50% untuk non-makanan
Kebutuhan non-makanan mencakup tempat tinggal, transportasi, pendidikan, serta kebutuhan lain.
Gambaran Riil di Lapangan 2026
Seiring perubahan harga, terutama pada komoditas pangan dan hunian, kebutuhan aktual cenderung lebih tinggi dibanding data rata-rata.
Perkiraan pengeluaran saat ini:
- Kategori hemat: Rp1,7 juta – Rp2,2 juta per bulan
- Kategori lebih longgar: Rp3 juta per bulan atau lebih
Angka ini merupakan penyesuaian dari kondisi lapangan terhadap baseline BPS.
Dibandingkan dengan Upah Minimum
Jika dibandingkan dengan kebijakan pengupahan dari Kementerian Ketenagakerjaan, upah minimum di DIY berada di kisaran Rp2,2 juta. Kondisi ini membuat sebagian masyarakat harus lebih cermat dalam mengatur pengeluaran agar tetap seimbang dengan pendapatan.
Data resmi dapat diakses melalui laman Badan Pusat Statistik (BPS) serta portal pemantauan harga pangan nasional, dengan rujukan utama publikasi Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia, Susenas 2024.
Memahami selisih antara data statistik dan kondisi riil menjadi kunci agar perencanaan keuangan tidak meleset, terutama di tengah perubahan harga yang terus terjadi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Proyek Irigasi Serentak Dibuka, Ribuan Lokasi Butuh Pendamping
Advertisement
Mekar Hanya Beberapa Hari, Bunga Bangkai di Palupuh Diserbu Turis
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement



