SDN Purwosari Sleman Sulap 600 Galon Bekas Jadi Kebun Sayuran
SDN Purwosari memanfaatkan sekitar 600 galon bekas untuk kebun sekolah. Siswa belajar bertani, mengolah limbah, dan mengenal ketahanan pangan.
Foto ilustrasi kemasan plastik, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, SLEMAN—Lonjakan harga plastik mulai memaksa pelaku UMKM mengubah strategi bertahan. Kenaikan biaya kemasan membuat pelaku usaha dihadapkan pada pilihan sulit, mulai dari menaikkan harga, mengurangi takaran, hingga beralih ke kemasan alternatif.
Tekanan ini tidak hanya berdampak pada biaya produksi, tetapi juga berpotensi memengaruhi harga jual produk di tingkat konsumen dalam waktu dekat.
Dosen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Universitas Gadjah Mada (PSdK UGM), Hempri Suyatna, menjelaskan kenaikan harga plastik dipicu ketergantungan bahan baku impor, termasuk dari Yaman.
“Kan impor dari Yaman. Sehingga terganggunya Selat Hormuz itu cukup mengganggu juga arus lalu lintas untuk bahan-bahan baku [plastik] itu,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Di tingkat pelaku usaha kecil, kondisi ini menjadi tekanan langsung. Sebagian besar produk UMKM masih bergantung pada kemasan plastik, sehingga kenaikan harga bahan baku otomatis meningkatkan biaya produksi.
“Saya kira artinya dengan posisi itu ada potensi untuk tadi ancaman serius bagi UKM. Dalam hal ini mungkin harus terpaksa menaikkan harga [barang] gara-gara plastiknya tinggi [harganya],” tuturnya.
Pada skala yang lebih luas, kenaikan harga plastik dinilai berpotensi memicu inflasi. Hempri bahkan mengibaratkan plastik sebagai komponen penting layaknya BBM dalam rantai distribusi produk.
“Kalau dalam konteks makro ya kan ini adalah ancaman-ancaman inflasi ya. Ibaratkan plastik itu kayak BBM ya,” katanya.
Jika tren ini berlanjut, daya saing UMKM dikhawatirkan melemah. Kenaikan harga produk bisa menekan daya beli masyarakat dan memicu efek berantai terhadap perekonomian.
“Karena bahan bakunya naik dalam hal ini plastik, otomatis harga-harga produk UKM terpaksa harus naik. Sehingga implikasinya mungkin juga tadi daya beli masyarakat juga akan terpengaruh,” ungkapnya.
Dalam kondisi harga naik dan pendapatan stagnan, risiko inflasi semakin nyata. Dampaknya bisa meluas hingga kesejahteraan masyarakat.
“Ketika harganya tinggi sementara penghasilan tetap bahkan mungkin menurun, itu kan punya implikasi inflasi yang juga akan ada multiplier effect terhadap kesejahteraan ekonomi rakyat,” jelasnya.
Lebih jauh, tekanan biaya produksi yang meningkat juga berpotensi memicu persoalan sosial seperti pengangguran dan PHK.
“Ketika biaya produksi semakin tinggi tapi daya beli masyarakat melemah, itu bisa memunculkan problem sosial seperti pengangguran, PHK, dan lainnya,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, pelaku UMKM memiliki tiga opsi utama untuk bertahan, yakni menaikkan harga, mengurangi isi produk, atau mengganti kemasan dengan alternatif yang lebih murah.
Sebagai contoh, penggunaan bahan alami seperti daun untuk kemasan makanan bisa menjadi solusi sederhana yang lebih ekonomis.
“Misalnya tempe lebih enak pakai daun daripada plastik,” katanya.
Namun, setiap pilihan memiliki risiko. Menaikkan harga dinilai paling mudah, tetapi berpotensi menurunkan penjualan.
“Langkah paling gampang kan menaikkan harga produk UKM, dengan konsekuensi mungkin daya jualnya akan turun,” ujarnya.
Alternatif lain adalah mencari bahan pengganti plastik agar harga tetap kompetitif, meski tidak semua produk memungkinkan skema ini.
Hempri menilai pelaku UMKM tidak bisa menghadapi situasi ini sendirian. Peran pemerintah diperlukan untuk meredam dampak kenaikan harga plastik.
Di sisi lain, kondisi ini dinilai bisa menjadi momentum untuk mendorong penggunaan kemasan ramah lingkungan seperti bioplastik serta menguatkan gerakan pengurangan plastik sekali pakai.
“Justru menjadi momentum juga untuk bagaimana menguatkan kembali gerakan-gerakan tanpa plastik,” tegasnya.
Dari sisi konsumen, pilihan yang tersedia relatif terbatas. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah membawa wadah sendiri, seperti tumbler, kotak makan, atau tas belanja guna ulang.
Hempri memperkirakan tekanan harga plastik masih akan berlangsung selama konflik global belum mereda, terutama terkait kondisi di Iran dan jalur distribusi di Selat Hormuz.
“Ini akan tergantung pada bagaimana kondisi perang di Iran dan bagaimana Selat Hormuz bisa normal kembali,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
SDN Purwosari memanfaatkan sekitar 600 galon bekas untuk kebun sekolah. Siswa belajar bertani, mengolah limbah, dan mengenal ketahanan pangan.
Kiandra Ramadhipa mengincar tiga besar klasemen Moto3 Junior 2026. Simak peluang pembalap asal Sleman dan jadwal balapan di Misano.
Pengajuan visa bisa terkendala karena dokumen tidak lengkap, paspor, atau data tidak sesuai. Simak enam hal yang perlu diperiksa sebelum mengajukan visa.
Agnez Mo akan debut di Madame Tussauds Hollywood pada Oktober 2026. Simak penampilan busana denim dan perjalanan patung lilinnya di Asia.
Hasil verifikasi 22 gerai KDMP Kulonprogo menemukan masalah bangunan, air bersih, dan daya listrik. Agrinas diberi waktu perbaikan maksimal tiga bulan.
WhatsApp menghadirkan fitur telepon tamu yang memungkinkan pengguna tanpa akun mengikuti panggilan lewat browser komputer. Simak cara dan fiturnya.