Advertisement

Kemarau DIY Maju, Stok Air Disiapkan Antisipasi Kekeringan

Lugas Subarkah
Selasa, 14 April 2026 - 18:37 WIB
Sunartono
Kemarau DIY Maju, Stok Air Disiapkan Antisipasi Kekeringan Kekeringan / Ilustrasi StockCake

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA— DIY diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada dasarian III April 2026, dengan potensi kekeringan yang meningkat akibat pengaruh fenomena El Nino. Pemerintah daerah bersama instansi terkait kini mulai menyiapkan langkah antisipasi, termasuk penyediaan air bersih.

Kepala Pelaksana BPBD DIY, Agustinus Ruruh Haryata, menjelaskan musim kemarau tahun ini berpotensi lebih panjang dari kondisi normal. Hal ini dipengaruhi dinamika iklim global yang mengarah pada kemungkinan El Nino lemah hingga moderat pada pertengahan 2026.

Advertisement

“Berdasarkan informasi dari BMKG, terdapat peluang berkembangnya fenomena elnino kategori lemah hingga moderat pada pertengahan tahun 2026. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan meteorologis, hidrologis, pertanian, serta berdampak terhadap ketersediaan air bersih masyarakat,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).

Secara umum, awal musim kemarau diperkirakan normal hingga maju satu dasarian, dengan puncak kemarau terjadi pada Agustus 2026. Risiko kekeringan diprediksi meningkat pada periode Juli hingga September, dengan durasi musim kemarau berlangsung sekitar 16–21 dasarian atau hingga November.

Mengantisipasi kondisi tersebut, BPBD di tingkat kabupaten/kota mulai menyiapkan distribusi air bersih. BPBD Gunungkidul menyiapkan sekitar 1.500 tangki air mulai Juni dan melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan bersama kapanewon.

Sementara itu, BPBD Bantul menyiapkan 400 tangki air serta melakukan edukasi kepada masyarakat melalui Pusdalops dan kegiatan Hari Kesiapsiagaan Bencana. BPBD Kulonprogo menyiapkan 20 tangki air serta mengoptimalkan sumur dangkal dan sumur bor sebagai sumber air alternatif.

Di Sleman, distribusi air bersih akan dilakukan melalui skema Belanja Tidak Terduga (BTT) jika dibutuhkan. Adapun di Kota Jogja, meski belum pernah mengalami kekeringan ekstrem, potensi penurunan debit air tanah tetap diantisipasi melalui pembangunan sumur resapan, termasuk di sepanjang Jalan Parangtritis.

Koordinasi lintas instansi juga diperkuat. Dinas Sosial menyiapkan dukungan distribusi 50 tangki air serta memastikan kesiapan lumbung sosial bagi masyarakat terdampak.

Sementara itu, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY mendorong efisiensi penggunaan air melalui optimalisasi irigasi, termasuk pemanfaatan pompa dan jaringan perpipaan. Edukasi terkait sistem irigasi hemat air juga akan diperkuat kepada para penyuluh.

Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral DIY turut berperan dalam pengaturan buka-tutup pintu air guna menjaga pasokan irigasi. Selain itu, optimalisasi embung, waduk, serta pembangunan sumur bor dalam sejak 2019 di sekitar 30–40 titik menjadi bagian dari strategi menjaga ketahanan air.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Penjelasan Lengkap UI Terkait Viral Chat Mesum 16 Mahasiswa FH

Penjelasan Lengkap UI Terkait Viral Chat Mesum 16 Mahasiswa FH

News
| Selasa, 14 April 2026, 20:27 WIB

Advertisement

Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Tiket

Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Tiket

Wisata
| Selasa, 14 April 2026, 21:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement