Advertisement

Panas Ekstrem Berpotensi Ganggu Panen Padi dan Jagung, Ini Kata Pakar

Sunartono
Senin, 20 April 2026 - 15:57 WIB
Sunartono
Panas Ekstrem Berpotensi Ganggu Panen Padi dan Jagung, Ini Kata Pakar Aris, salah seorang petani di Kalurahan Tambakrejo, Tempel sedang memperlihatkan tanaman padi yang mulai mengering. Harian Jogja - David Kurniawan.

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Suhu di atas normal yang terjadi pada periode pancaroba April 2026 mulai menunjukkan dampak nyata di lapangan, terutama pada fase kritis pertumbuhan tanaman pangan. Padi dan jagung yang sedang memasuki masa reproduktif menjadi komoditas paling rentan karena proses biologisnya terganggu.

Kondisi ini ditandai dengan gejala awal seperti tanaman cepat layu pada siang hari, gangguan pembungaan, hingga penurunan kualitas hasil panen. Meski belum selalu tercatat sebagai gagal panen total, dampaknya sudah dirasakan petani di sejumlah wilayah.

Advertisement

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Oki Wijaya menjelaskan suhu tinggi mempercepat stres tanaman dan mengganggu proses penting seperti fotosintesis, pembungaan, hingga pembentukan hasil.

“Dampak paling nyata adalah penurunan produktivitas karena proses biologis tanaman terganggu, terutama pada fase reproduktif. Suhu tinggi meningkatkan kehilangan air dan mempercepat stres tanaman,” ujarnya dikutip Senin (20/4/2026).

Ia menegaskan fenomena panas saat ini bukan kejadian sesaat, melainkan bagian dari tren pemanasan yang lebih luas. Pergeseran suhu ini dinilai sudah memengaruhi pola pertumbuhan tanaman.

“Panas yang dirasakan sekarang bukan sekadar kejadian sesaat. Titik acuannya sudah bergeser ke arah yang lebih hangat,” katanya.

Secara kuantitatif, setiap kenaikan 1 derajat Celsius suhu rata-rata global diperkirakan menurunkan hasil padi sebesar 3,2 persen, jagung 7,4 persen, gandum 6,0 persen, dan kedelai 3,1 persen. Angka ini dinilai relevan dengan kondisi yang kini terjadi di lapangan.

Selain padi dan jagung, komoditas hortikultura seperti cabai dan tomat juga menghadapi tekanan serupa. Cabai sangat sensitif pada fase awal perkembangan benih setelah anthesis, yang dapat menurunkan fruit set, bobot buah, dan mutu benih.

Sementara itu, tomat berisiko mengalami gangguan pembuahan akibat menurunnya viabilitas serbuk sari saat suhu tinggi. Pada tanaman padi sendiri, suhu ekstrem saat fase pembungaan dan pengisian gabah dapat meningkatkan sterilitas bunga sehingga bulir tidak terbentuk sempurna.

Jagung bahkan dinilai lebih sensitif, khususnya saat fase tasseling, silking, dan awal pengisian biji. Di sektor perkebunan, komoditas kopi di dataran tinggi juga mulai terancam oleh perubahan suhu ini.

Oki menambahkan, dampak panas akan semakin berat jika disertai kekurangan air, terutama pada masa pancaroba ketika curah hujan cenderung menurun.

“Masalah utamanya bukan hanya panas, tetapi panas yang bertemu dengan kekurangan air. Ketika kedua faktor ini terjadi bersamaan, dampaknya terhadap tanaman akan jauh lebih berat,” jelasnya.

Untuk menekan risiko, petani disarankan menyesuaikan waktu tanam, meningkatkan efisiensi penggunaan air, serta memprioritaskan perlindungan pada fase berbunga. Penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap cekaman panas juga menjadi langkah penting.

Di sisi lain, pemerintah didorong memperkuat dukungan melalui penyediaan informasi cuaca yang operasional, akses benih tahan panas, serta penguatan infrastruktur irigasi agar stabilitas produksi pangan tetap terjaga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Pemerintah Genjot Pompa Air Lawan El Nino Ekstrem

Pemerintah Genjot Pompa Air Lawan El Nino Ekstrem

News
| Senin, 20 April 2026, 17:07 WIB

Advertisement

Paspor Indonesia Bebas Visa ke 42 Negara, Cek Destinasinya!

Paspor Indonesia Bebas Visa ke 42 Negara, Cek Destinasinya!

Wisata
| Senin, 20 April 2026, 14:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement