Harga Sapi Impor Naik, Untungkan Peternak Tapi Ancam Populasi Nasional

Catur Dwi Janati
Catur Dwi Janati Rabu, 13 Mei 2026 15:57 WIB
Harga Sapi Impor Naik, Untungkan Peternak Tapi Ancam Populasi Nasional

Sapi - Ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, SLEMAN—Kenaikan harga sapi impor kini menjadi perhatian serius dalam sektor peternakan nasional. Di satu sisi, kondisi ini membawa angin segar bagi peternak lokal karena harga jual sapi domestik ikut terdongkrak. Namun di sisi lain, para ahli memperingatkan adanya ancaman besar terhadap keberlanjutan populasi sapi di Indonesia.

Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Prof. Panjono, menjelaskan bahwa kenaikan harga sapi impor memang memberikan keuntungan langsung bagi pelaku usaha peternakan dalam negeri.

"Kalau harga sapi impor naik, bagi peternak sebagai pelaku usaha justru menguntungkan karena otomatis harga ternak sapi domestik juga akan ikut naik," kata Panjono, Selasa (12/5/2026).

Ketahanan Pangan Masih Rentan

Meski berdampak positif secara ekonomi mikro, kondisi ini justru menjadi indikator bahwa ketahanan pangan Indonesia masih rapuh. Ketergantungan terhadap impor membuat pasokan daging sapi sangat dipengaruhi faktor eksternal seperti nilai tukar rupiah, situasi geopolitik, hingga dinamika pasar global.

Jika harga impor terus meningkat, volume impor berpotensi turun. Akibatnya, kebutuhan pasar akan ditutup dengan peningkatan pemotongan sapi lokal.

"Kalau impor turun, tingkat pemotongan domestik akan meningkat. Kalau terus seperti itu, populasi sapi kita bisa menurun dan pada akhirnya terjadi kelangkaan," terangnya.

Target Populasi Sapi Masih Jauh

Tantangan semakin berat karena target pemerintah untuk meningkatkan populasi sapi nasional masih jauh dari capaian. Kementerian Pertanian menargetkan populasi sapi mencapai 19,9 juta ekor pada 2026, sementara realisasi pada 2025 baru sekitar 13,5 juta ekor.

Selisih lebih dari enam juta ekor ini menunjukkan perlunya langkah luar biasa untuk mengejar target tersebut.

"Artinya masih ada kekurangan lebih dari enam juta ekor. Kalau pemotongan meningkat, target itu tentu akan semakin sulit dicapai," tegasnya.

Stabilitas Rupiah Jadi Kunci

Selain faktor populasi, pelaku usaha juga dihadapkan pada tantangan fluktuasi nilai tukar rupiah. Ketidakstabilan kurs membuat perhitungan biaya dan keuntungan menjadi sulit diprediksi.

"Yang utama bagi pelaku usaha sapi potong sebenarnya bukan hanya dolar turun, tetapi nilai tukar rupiah terhadap dolar harus stabil. Kalau stabil, mereka bisa menghitung biaya dan harga jual dengan lebih pasti," ujarnya.

Untuk mengatasi persoalan ini, Panjono menekankan pentingnya strategi bertahap. Dalam jangka pendek, impor sapi dan daging masih diperlukan untuk menjaga pasokan dan menahan lonjakan harga.

Pada tahap menengah, pemerintah harus memastikan industri penggemukan (feedlot) tetap berjalan melalui regulasi yang jelas dan dukungan stabilitas ekonomi.

Sementara itu, strategi jangka panjang difokuskan pada peningkatan populasi sapi melalui program breeding secara masif serta integrasi dengan sektor perkebunan dan kehutanan.

"Strategi jangka panjangnya yaitu dengan meningkatkan populasi melalui program breeding serta integrasi sapi dengan perkebunan dan kehutanan. Dengan cara ini, suatu saat industri penggemukan hewan (feedlot) tidak perlu lagi bergantung pada sapi bakalan impor dari Australia," ungkapnya.

Momentum Menuju Swasembada Daging

Pelemahan rupiah dan dinamika global justru bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat swasembada daging sapi. Dengan kebijakan yang konsisten dan berbasis jangka panjang, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk membangun industri peternakan yang mandiri dan berkelanjutan.

Namun tanpa langkah cepat dan terukur, kenaikan harga sapi impor bisa berubah dari peluang menjadi ancaman nyata bagi ketahanan pangan nasional.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online