Jadwal Lengkap PSS Sleman Super League 2026-2027 Termasuk Derbi DIY
Pieter Huistra menilai PSS Sleman berada di jalur tepat untuk membangun permainan dominan menjelang Super League 2026/2027.
Kolaborasi akademisi lintas kampus mendorong kebencanaan inklusif, penguatan disabilitas, dan ekonomi warga di kawasan Merapi. /Istimewa.
Harianjogja.com, SLEMAN—Sejumlah akademisi dari beberapa kampus dari Indonesia dan Belanda memperkuat upaya membangun ketangguhan masyarakat di kawasan rawan bencana Gunung Merapi melalui kolaborasi riset lintas negara. Fakultas Teknik Desain Inovasi UII menggandeng Politeknik Bentara Citra Bangsa serta Vrije Universiteit (VU) Amsterdam, Belanda, untuk mendorong penanganan bencana yang lebih inklusif.
Kolaborasi tersebut diarahkan tidak hanya pada kesiapan infrastruktur ketika bencana terjadi. Aspek sosial, pemberdayaan kelompok rentan, hingga keberlangsungan ekonomi masyarakat lereng Merapi turut menjadi perhatian dalam program tersebut.
Kegiatan itu dilakukan melalui kunjungan kebencanaan dan Focus Group Discussion (FGD) inklusivitas wilayah Merapi di Balai Kalurahan Kepuharjo, Cangkringan, Sleman pada Sabtu (15/8/2026). Kegiatan itu dihadiri perwakilan dari ketiga kampus, masyarakat Kepuharjo dan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Ekonomi Pembangunan Kuncoro Cahyo Aji.
Dekan Fakultas Teknik Desain Inovasi UII, Miftahul Fauziah, mengatakan posisi kampus yang berdekatan dengan kawasan rawan bencana Gunung Merapi menjadi salah satu alasan UII perlu memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat, khususnya mereka yang berada di kawasan terdampak bencana.
"Kami ingin keberadaan UII sebagai perguruan tinggi dapat memberikan dampak langsung dan nyata bagi masyarakat luas, khususnya di wilayah terdampak bencana Merapi," ujar Miftahul di sela-sela acara kunjungan kebencanaan dan Focus Group Discussion (FGD) inklusivitas wilayah Merapi, Sabtu (15/8/2026).
Pendekatan yang dikembangkan UII dan mitranya tidak berhenti pada pembangunan fisik. Ketangguhan masyarakat juga dipandang perlu diperkuat melalui kesiapan sosial dan pemberdayaan warga yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi.
Kelompok Disabilitas Jadi Perhatian
Wakil Dekan Bidang Akademik, Riset, dan Rekognisi Fakultas Teknik Desain Inovasi UII, Yunalia Muntafi, menjelaskan kerja sama multidisiplin tersebut dirancang untuk membangun resilience masyarakat Merapi secara menyeluruh.
Salah satu sasaran utama program adalah kelompok penyandang disabilitas. Selain itu, penguatan ekonomi atau livelihood warga setelah terjadi bencana juga menjadi bagian dari fokus kolaborasi.
"Resiliensi itu tidak hanya sekadar tangguh dari struktur bangunan atau infrastruktur fisik saja, tetapi juga tangguh secara mental, ekonomi [livelihood], serta pemberdayaan kelompok rentan seperti penyandang disabilitas," ungkap Yunalia.
Mitra akademisi dari Belanda memiliki kepakaran dalam penanganan serta pendampingan kelompok disabilitas dalam kondisi darurat. Melalui kerja sama tersebut, kelompok disabilitas diharapkan memiliki kemampuan untuk menyelamatkan diri secara mandiri ketika bencana terjadi.
Pendekatan itu menjadi bagian penting dari konsep kebencanaan inklusif yang dikembangkan dalam kerja sama UII, Politeknik Bentara Citra Bangsa, dan Vrije Universiteit (VU) Amsterdam.
UMKM Lereng Merapi Disiapkan Hadapi Pascabencana
Selain kelompok disabilitas, kolaborasi tersebut menyentuh sektor ekonomi masyarakat di kawasan lereng Merapi. UMKM lokal menjadi salah satu sasaran pendampingan agar aktivitas ekonomi warga tetap dapat berjalan setelah terjadi bencana.
Pendampingan diarahkan pada digitalisasi pemasaran produk UMKM lokal. Dengan strategi tersebut, penjualan produk masyarakat diharapkan tidak hanya bergantung pada pasar tradisional maupun sektor pariwisata.
Penguatan kanal pemasaran digital menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan ekonomi masyarakat. Dengan demikian, aspek livelihood menjadi salah satu unsur yang diperhatikan dalam membangun resiliensi warga Merapi.
"Rencana kerja sama jangka panjang tersebut mencakup riset bersama, pendampingan masyarakat, hingga pengembangan teknologi penanggulangan bencana yang inklusif di lereng Merapi," ujarnya.
Kolaborasi lintas negara ini diharapkan dapat mempertemukan kepakaran akademisi dengan kebutuhan nyata masyarakat di kawasan rawan bencana. Pendekatan tersebut sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung kesiapsiagaan dan pemulihan masyarakat.
Kepala Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Heri Suprapto, menyambut baik inisiatif yang dilakukan para akademisi tersebut. Ia berharap kerja sama itu dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, khususnya warga di wilayahnya.
"Kami sangat terbuka untuk kerja sama ini dalam upaya memberikan manfaat ke warga"
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pieter Huistra menilai PSS Sleman berada di jalur tepat untuk membangun permainan dominan menjelang Super League 2026/2027.
RSUP Dr. Sardjito, UGM, dan PERKI Cabang Jogja menggelar deteksi dini penyakit jantung di Gunungkidul untuk menemukan faktor risiko warga.
Bursa karbon menjadi instrumen ekonomi hijau Indonesia. Simak cara kerja, mekanisme perdagangan, peserta, dan peluang cuan dari unit karbon.
PLN memulihkan 11 gardu induk di Flores pascagempa M7,7 NTT. Satu penyulang masih terganggu akibat tiang listrik roboh dan patah.
Gempa NTT M7,7 menewaskan 47 orang dan memaksa lebih dari 5.000 warga mengungsi. BNPB mencatat kerusakan masif di sejumlah wilayah.
BNPB mengirim bantuan logistik lewat jalur laut ke Pulau Palue, Sikka, untuk menjangkau korban gempa NTT yang terkendala akses geografis.