115 Anak Balita Kulonprogo Dapat Bantuan Gizi Rp100 Juta dari YIA
YIA menyalurkan Rp100 juta untuk penanganan stunting 115 balita di Kulonprogo melalui PMT, multivitamin, edukasi, dan ayam petelur.
Ilustrasi, seekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) berjalan di pinggir jalan untuk mencari makanan. Antara/Budi Candra Setya.
Harianjogja.com, KULONPROGO—Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta masih mendalami penyebab Monyet Ekor Panjang (MEP) muncul hingga mendekati permukiman warga di Hargowilis, Kokap, Kulonprogo. Hasil pengecekan lapangan menunjukkan kawasan Suaka Margasatwa (SM) Sermo bukan habitat alami bagi populasi primata tersebut.
Tim BKSDA Yogyakarta telah melakukan pengecekan dan verifikasi lapangan pada Selasa (15/9/2026) untuk merespons laporan warga mengenai kemunculan kawanan MEP di permukiman Hargowilis.
Humas Balai KSDA Yogyakarta, Desy Rachmawati, mengatakan keberadaan MEP secara alami tidak pernah dijumpai di kawasan SM Sermo berdasarkan data pendataan berkala maupun keterangan masyarakat setempat.
Habitat Monyet Ekor Panjang Ada di Wilayah Lain
Desy menjelaskan, habitat alami Monyet Ekor Panjang di Kabupaten Kulonprogo justru pernah dijumpai di wilayah Kalibawang dan Samigaluh.
“Berdasarkan hasil monitoring yang kami lakukan, habitat alami Monyet Ekor Panjang di wilayah Kulonprogo pernah dijumpai di kawasan Kalibawang dan Samigaluh. Selama kami melakukan pendataan, petugas belum pernah menjumpai MEP dan masyarakat pun belum pernah melihatnya hidup secara alami di kawasan SM Sermo,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (16/9/2026).
Dengan kondisi tersebut, BKSDA Yogyakarta belum menyimpulkan penyebab pasti kawanan MEP dapat muncul di sekitar permukiman warga Hargowilis.
BKSDA Dalami Penyebab Monyet Masuk Permukiman
BKSDA Yogyakarta saat ini masih melakukan kajian komprehensif mengenai kemunculan satwa tersebut. Sejumlah kemungkinan tengah diteliti untuk mengetahui faktor yang membuat MEP mendekati kawasan permukiman.
Salah satu kemungkinan yang dikaji berkaitan dengan dampak musim kemarau terhadap ketersediaan air. Selain itu, BKSDA juga meneliti kemungkinan penyesuaian ketersediaan pakan di ruang jelajah MEP.
Kajian tersebut menjadi penting karena BKSDA Yogyakarta juga menerima usulan penanganan jangka panjang berupa penanaman tanaman pakan MEP di kawasan SM Sermo.
Namun, Desy menekankan perlunya kajian ilmiah sebelum rencana tersebut diterapkan. Menurut dia, penanaman tanaman pakan perlu mempertimbangkan kondisi ekosistem SM Sermo karena MEP secara alami tidak dijumpai di kawasan tersebut.
“Berdasarkan data dan informasi masyarakat, secara alami MEP tidak dijumpai di SM Sermo. Karena itu, perlu dilakukan kajian terlebih dahulu terkait rencana penanaman tanaman pakan MEP di kawasan SM Sermo agar tidak merusak ekosistem yang ada,” terang Desy.
Warga Diminta Tak Beri Makan Monyet
Sembari kajian dilakukan, BKSDA Yogyakarta mengimbau masyarakat di sekitar Hargowilis dan kawasan Margasatwa Sermo tetap tenang tetapi waspada.
Warga diminta tidak memancing ataupun mengubah perilaku alami satwa yang muncul di sekitar permukiman. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah terjadinya konflik antara manusia dan satwa liar.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak memberikan pakan atau mengganggu satwa. Memberi pakan justru dapat mengubah pola perilaku alami mereka dan memicu satwa kembali ke pemukiman. Apabila masyarakat kembali melihat keberadaan MEP di sekitar pemukiman, mohon segera melaporkan kepada petugas BKSDA agar dapat ditangani secara tepat,” kata Desy.
BKSDA Yogyakarta hingga kini masih mendalami faktor yang menyebabkan Monyet Ekor Panjang mendekati permukiman Hargowilis. Di sisi lain, kawasan SM Sermo ditegaskan bukan habitat alami MEP berdasarkan hasil monitoring dan informasi masyarakat yang telah dihimpun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
YIA menyalurkan Rp100 juta untuk penanganan stunting 115 balita di Kulonprogo melalui PMT, multivitamin, edukasi, dan ayam petelur.
Wamen ATR Ossy Dermawan mengungkap arahan Nusron Wahid di tengah kasus suap HGB dan gratifikasi di lingkungan ATR/BPN.
CKG Kota Jogja menemukan 60%-65% dari 23.000 lansia yang diperiksa terdeteksi hipertensi dan diabetes.
Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi dijadwalkan tiba di Jakarta 18 September 2026 dan disiapkan mendukung penanganan karhutla.
DLH Kulonprogo mendorong pengelola SPPG menguji limbah dapur MBG di laboratorium setelah muncul keluhan warga soal pencemaran.
Harga rumah di Jogja makin sulit dijangkau. REI DIY menyoroti kenaikan harga tanah dan material bangunan yang mencapai sekitar 25%.