Advertisement

Kidung Paramadita: Kalau Lihat Pelataran Masjid Diinjak-injak, Tidak Nyaman Juga Kan?

Rheisnayu Cyntara
Jum'at, 13 April 2018 - 20:06 WIB
Nugroho Nurcahyo
Kidung Paramadita: Kalau Lihat Pelataran Masjid Diinjak-injak, Tidak Nyaman Juga Kan? Kidung Paramadita - IG@kidungparamadita

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Menjadi salah satu ambassador Putri Indonesia dilakoni Kidung Paramadita, 24, dengan dan penuh penghayatan. Setelah menyabet Runner Up V ajang kecantikan terbesar di Indonesia ini ia tetap fokus pada jalur yang selama ini ditekuninya yakni pendidikan nonformal dan sosial nonprofit.

Ia ingin selalu menjaga kebaikan tetap mengalir pada orang-orang di sekitarnya dan mereka yang membutuhkan.

Advertisement

Kepada Harianjogja.com, wakil dari Jawa Tengah mengaku sudah berkecimpung di dunia pendidikan luar sekolah selama tujuh tahun. Jalur pendidikan tersebut ia tekuni sejak bangku S1 dan S2. Fokusnya pendidikan kepada anak-anak jalanan. Ia bergabung untuk mengajar anak jalanan di Komunitas Satoe Atap, Semarang.

Tak berhenti pada titik itu saja, sejak satu tahun terakhir, Kidung mengagas sebuah gerakan yang ia beri nama Banyu Aksara. Banyu berarti air dan aksara berarti tulisan/ilmu.

Konsepnya berbagi dengan apapun yang kita punya saat mengunjungi suatu tempat atau traveling. Dengan semangat Banyu Aksara, setiap ia pergi untuk traveling ke berbagai tempat ia berusaha membagi apa yang miliki dan apa saja yang ia bisa berikan.

Jika ia punya dua buah pulpen, ia akan menyumbangkan satu pulpen untuk orang yang membutuhkan. Atau bahkan jika yang ia punya "hanya" kesabaran yang berlebih, maka ia akan berusaha membaginya dengan mendengarkan permasalahan orang lain.

"Ini sebenarnya juga merupakan sindiran halus. Semua orang bisa berbagi kok dengan apa yang kamu punya. Saya ingin semangat ini terus mengalir seperti banyu, air dan bisa jadi referensi anak muda saat melakukan traveling. Bahwa ada lho sesuatu bermanfaat yang bisa kita lakukan," ucapnya.

Kidung Paramadita.-Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara

Selain tetap menekuni dunia sosial tersebut, Kidung kini juga mendapatkan tugas baru sebagai ambassador salah satu dari 10 Bali baru yakni Candi Borobudur.

Ia mengaku punya beberapa rencana untuk mempromosikan sekaligus merawat candi Buddha terbesar yang dipercayakan padanya itu. Kini, ia menggencarkan promosi digital melalui media sosial, mengupayakan pendidikan bagi anak-anak sekitar Borobudur, dan mengusahakan perawatan batuan candi.

Kidung mengaku prihatin dengan kondisi candi yang selalu diinjak-injak dengan alas keras oleh para wisatawan. "Bagaimanapun, Borobudur bagi saya itu tempat ibadah. Sama halnya dengan masjid, kalau lihat masjid dinjak-injak meski hanya di pelatarannya saja, tidak nyaman kan?," ujarnya.

Kidung berputar otak. Ia berusaha menawarkan win-win solution. Dengan banyaknya perajin sandal di Magelang dan DIY, ia mendorong pemberdayaan mereka untuk menyediakan alas kaki bagi wisatawan Borobudur. Sistemnya bisa dengan sewa.

Wisatawan tidak dipaksa untuk menyewa karena menurutnya hal itu haruslah muncul dari kesadaran dan empati mereka sendiri. Tentu saja, empati wisatawan terhadap kelestarian candi akan sangat diapresiasi sebagai salah satu aliran kebaikan, hal yang selalu Kidung jaga selama ia bisa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Penantian Sepekan Berakhir Jenazah Perwira TNI Tiba di Cimahi

Penantian Sepekan Berakhir Jenazah Perwira TNI Tiba di Cimahi

News
| Sabtu, 04 April 2026, 23:47 WIB

Advertisement

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Wisata
| Jum'at, 03 April 2026, 12:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement