Rumput Gong Dikembangkan untuk Terapi Kanker Payudara

Siti Nurul Komariah (tengah) Rusdiana Kartika Sari (kanan) dan Denox Asih Pratiwi (kiri) seusai melakukan penelitian di Laboratorium Terpadu UII, Sabtu (7/7/2018). - Harian Jogja/Sunartono
14 Juli 2018 10:17 WIB Sunartono Sleman Share :
Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia

Harianjogja.com, SLEMAN-Mahasiswa Prodi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Islam Indonesia (UII) mengembangkan penelitian rumput gong sebagai obat kanker payudara.

Tiga mahasiswa tersebut adalah Siti Nurul Komariah angkatan 2014, Rusdiana Kartika Sari angkatan 2015 dan Denox Asih Pratiwi angkatan 2015, ketiganya dari Prodi Farmasi. Adapun penelitannya secara detail mengulas Pemanfaatan Rumput Gong Belitung: Erioforester (Eruocaulon For Breast Cancer) Terhadap Aktifitas Sel MCF-7 (sel kanker payudara). Penelitian tersebut masuk dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Penelitan Kemenristekdikti.

Siti Nurul Komariah menjelaskan, penelitian timnya merupakan lanjutan dari hasil penelitian sebelumnya yang dikembangkan pada sel kanker serviks. Namun penelitiannya lebih detail dalam bentuk fraksi atau pemisahan komponen, dengan harapan hasil uji kankernya lebih baik dibandingkan hasil uji ekstrak pada penelitian sebelumnya.

"Kami ambil rumputnya daei Bangka Belitung. Saat ini kami ujikan pada sel kanker payudara," ungkapnya, Sabtu (7/7/2018) pekan lalu.

Ia menambahkan rumput gong tersebut didapatkan dari Bangka Belitung merupakan tumbuhan rawa-rawa. Rumput gong memiliki kandungan alkoloid, steroid, terpenoid dan fenolid Kemudian rumput dibersihkan dan keringkan dioven sekitar tiga hari, lalu diblender menjadi serbuk. Lalu serbuk dicampur etil asetat, etanol dan diklorometan serta aquades. Sama seperti penelitian pada umumnya lebih dahulu diekstraksi hingga kental untuk mendapatkan sarinya menggunakan rotary evaporator. Kemudian dilakukan fraksinasi agar mendapatkan senyawa lebih murni atau lebih sederhana dibandingkan ekstrak.

"Kami pakai fraksi [komponen] diklorometan dan air, jadi kami pakai dua itu untuk menguji," kata dia.

Setelah mendapatkan fraksi, kemudian mengujinya dengan sel kanker melalui beberapa tahapan. Mulai dari cultur sel, pemanenan sel dan memberikan perlakuan terhadap sel kanker tersebut. Dilanjutkan menganalisa hasil untuk menghitung aktifitas dari senyawa untuk kanker. Khusus untuk kultur sel dilakukan oleh pihak laboran, begitu juga dengan panen sel, timnya lebih pada memberikan perlakuan sel atau memberikan sampel hasil penelitian dari tim kepada sel kanker tersebut.

"SOP-nya memang dilakukan oleh petugas laboran tim peneliti biasanya saat memberikan perlakuan sel. Karena sel sangat sensitif, sangat mudah terkontaminasi dan bisa mengalami kegagalan," kata Denox Asih Pratiwi.

Denox menjelaskan, hasil dari perlakuan terhadap sel menggunakan sediaan buatan timnya, untuk fraksi diklorometan menunjukkan adanya aktifitas sitotoksik. Ia berharap fraksi buatannya diujikan kepada sel lain, karena memiliki aktifitas pada sel MCF-7 sehingga dimungkinkan bisa diujikan pada sel lain bisa lebih baik. Ia tidak menampik penelitiannya termasuk masih dasar sehingga ke depan bisa dikembangkan lagi.

"Waktu penelitian sekitar dua bulan dari mengambil rumput, ekstraksi sampai selesai pengujian," ujarnya.

Rusdiana Kartika Sari menyatakan, uji aktivitas sitotoksik dilakukan dengan metode MTT assay dan nilai absorbansi diukur menggunakan ELISA (Enzyme-linked Immunosorbent Assay) reader pada panjang gelombang 595 nanometer. Data dianalisis menggunakan metode probabilitaty unit. Hasil uji sitotoksik menunjukkan nilai Inhibition Concentration (IC50) fraksi diklorometan rumput gong terhadap sel MCF-7 adalah 459,86 mikrogram per mililiter sedangkan IC50 fraksi air terhadap sel MCF-7 adalah 5473,58 mikrogram per mililiter.

"Indeks selektifitas fraksi diklorometan sebesar 0,74. Hasil analisa selektivitas menunjukkan bahwa fraksi diklorometan kurang selektif pada sel MCF-7," tegasnya.

Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia