Puncak Kemarau Agustus, Warga Gunungkidul Diminta Hemat Air
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Anggota DPR/MPR RI Idham Samawi saat menjadi pembicara dalam sosilisasi pilar kebangsaan di Desa Kepek, Wonosari, Gunungkidul, Senin (29/10/2018)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL - Anggota DPR RI Idham Samawai menginginkan mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila kembali diajarkan di bangku sekolah. Hal ini disampaikan saat memberikan sosialisasi empat pilar kebangsaaan di Desa Kepek, Wonosari, Senin (29/10/2018).
Menurut dia, pelajaran PMP sangat penting guna memberikan wawasan kebangsaan untuk memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Terlebih saat ini, ada kelompok yang berusaha mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi yang lain. Oleh karena itu, dengan dikembalikannya pelajaran tersebut dapat sebagai penangkal gerakan yang membahayan bangsa sejak dini.
“Saya menyayangkan pelajaran PMP di sekolah dihilangkan dan diganti dengan pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Saya menganggap penghilangan ini sebagai bagian untuk menguliti Pancasila,” kata Idham kepada wartawan.
Menurut dia, selama ini Pancasila hanya dijadikan legitimasi kekuasaan, khususnya pada saat Orde Baru. Sedang dari sisi pemahaman hanya dari sisi kulit. Hal lebih parah pada saat reformasi, pembelajaran Pancasila tidak lagi menjadi pelajaran yang wajib.
“Saat ini terus dilakukan kajian agar PMP dikembalikan ke bangku sekolah di setiap jenjang pendidikan,” kata mantan Bupati Bantul ini.
Selain mengupas tentang pelajaran PMP, Idham juga menyoroti masalah haluan Negara. Menurut dia dengan dihapuskanya Garis Besar Haluan Negara (GNHN), pemerintah tidak lagi memiliki konsep yang jelas dalam pembangunan. Hal ini terjadi karena arah pembangunan hanya berdasarkan pada visi misi yang dimiliki presiden maupun kepala daerah.
Ketiadaan haluan Negara yang pasti, kata Idham menimbulkan kekhawatiran adanya tumpang tinding program kerja antara presiden, gubernur, bupati atau walikota. “Ini yang disinkronkan melalui haluan negara,” ungkapnya.
Disinggung mengenai kemungkinan menghidupkan kembali GBHN seperti pada Orde Baru, Idham mengatakan, wacana tersebut hampir mirip. Namun, dia menekankan tidak harus sama persis karena dapat menimbulkan kontroversi.
“Yang terpenting haluan negara bisa dimunculkan lagi, tapi untuk nama bisa dibicarakan bersama sehingga tidak ada yang kontroversi,” katanya.
Menurut dia, wacana berkaitan dengan pengembalian PMP dan haluan Negara, Idham mengakui pada saat ini masih dalam kajian dan pembahasan. “Yang jelas, kami akan terus berjuang agar PMP bisa kembali ke bangku sekolah dan ada haluan Negara sebagai acuan dalam pembangunan,” imbuhnya.
Ketua DPRD Gunungkidul Demas Kursiswanto mengatkaan, sosialisasi pilar kebangsaan sangat penting. Pasalnya, keberadaan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika salah satu upaya untuk memperkuat persatuan dan kesatuan.
“Harus didukung karena keberadaannya untuk persatuan NKRI,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Korban tewas gempa magnitudo 7,4 di Kolombia bertambah menjadi 265 orang. Sebanyak 3.494 warga terluka dan 496 lainnya masih dinyatakan hilang.
EcoTank Epson tembus penjualan 100 juta unit secara global. Indonesia menjadi negara pertama yang memperkenalkan teknologi printer tangki tinta Epson.
Google resmi meluncurkan Pixel 11 Series yang terdiri dari Pixel 11, Pixel 11 Pro, Pixel 11 Pro XL, dan Pixel 11 Pro Fold. Dibekali Tensor G6, Gemini AI terbaru
ASUS ExpertBook P5 G2, Laptop Kerja Terbaik Berbasis Intel Core Ultra Series 3Performa, efisiensi dan keamanan kelas bisnis dalam laptop berdesain ringkas
MK cabut larangan penggunaan lambang Garuda Pancasila di luar ketentuan UU. Masyarakat kini bebas memakai Garuda di kaus, topi, hingga atribut lainnya tanpa san