Advertisement
Hilal Awal Ramadhan 1447 H Dipastikan Tak Terlihat di DIY
Sejumlah perukyat mengamati hilal menggunakan teleskop di bukit Syekh Bela Belu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). ANTARA FOTO - Sigid Kurniawan
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA— Badan Hisab Rukyat (BHR) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memastikan hilal awal Ramadhan 1447 Hijriah mustahil terlihat di wilayah DIY karena masih berada di bawah ufuk saat matahari terbenam, Selasa (17/2/2026).
Ketua Badan Hisab Rukyat Daerah Istimewa Yogyakarta Mutoha Arkanuddin menjelaskan, berdasarkan data astronomi dari Pos Observasi Bulan (POB) Bukit Syekh Bela Belu, Parangtritis, Kabupaten Bantul, ketinggian hilal tercatat berada di posisi minus 1,5 derajat.
Advertisement
“Untuk wilayah Yogyakarta, khususnya di Bukit Syekh Bela Belu, ketinggian hilal minus 1,5 derajat. Artinya, hilal masih berada di bawah ufuk ketika matahari terbenam. Dengan kondisi ini, hilal tidak mungkin bisa disaksikan,” ujar Mutoha saat dihubungi, Selasa.
Ia menambahkan, posisi tersebut juga belum memenuhi kriteria visibilitas hilal yang disepakati negara-negara anggota MABIMS—Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura—yakni ketinggian minimal 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat.
BACA JUGA
Meski secara astronomi hilal dipastikan tidak terlihat, Mutoha menegaskan kegiatan rukyatul hilal tetap dilaksanakan sesuai mekanisme penanggalan Hijriah yang berlaku di Indonesia. Hal itu dilakukan karena kalender menunjukkan posisi 29 Sya’ban, sehingga observasi tetap diperlukan untuk kepentingan pelaporan ke pemerintah pusat.
Rukyatul hilal yang difasilitasi Kantor Wilayah Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta akan dipusatkan di POB Bukit Syekh Bela Belu, Bantul, Selasa sore, dengan melibatkan BHR DIY.
“Apapun hasilnya, terlihat atau tidak, mekanisme pelaporan dari para perukyah tetap dilakukan. Pemerintah mengadopsi seluruh pendekatan, baik hisab maupun rukyat,” jelasnya.
Menurut Mutoha, kegiatan rukyatul hilal di DIY juga menjadi sarana edukasi astronomi. Selain pemaparan teori visibilitas hilal, kegiatan ini dimanfaatkan untuk meningkatkan keterampilan penggunaan instrumen observasi bagi peserta dari kalangan mahasiswa, pelajar, hingga komunitas astronomi.
Sejumlah pihak turut dilibatkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari BMKG, organisasi masyarakat Islam, klub astronomi, hingga perwakilan perguruan tinggi di DIY.
“Fokusnya lebih ke edukasi dan sosialisasi. Untuk informasi, sejak awal sudah kami sampaikan bahwa hari ini mustahil melihat hilal,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Penerangan Agama Islam, Pemberdayaan Zakat, dan Wakaf Kanwil Kemenag DIY Nurhuda menegaskan penetapan awal Ramadhan tetap menunggu laporan rukyatul hilal dari daerah serta keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat Kementerian Agama RI.
“Keputusan resmi awal Ramadhan akan ditetapkan melalui sidang isbat yang dibuka Menteri Agama. Masyarakat kami imbau menyikapi perbedaan, jika terjadi, dengan bijaksana, saling menghormati, dan menjaga kerukunan,” ujar Nurhuda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
DPR Ingatkan Opsen PKB dan BBNKB Jangan Memberatkan Masyarakat
Advertisement
Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Agenda Unggulan
Advertisement
Berita Populer
- Belasan Rip Current Terdeteksi di Parangtritis hingga Pantai Depok
- Jelang Ramadan, Pertamina Tambah 1,1 Juta Tabung LPG 3Kg di Jateng-DIY
- Prakiraan Cuaca DIY 17-19 Februari, BMKG: Hujan Sedang hingga Lebat
- Padusan di Parangtritis, Waspadai Rip Current dan Gelombang Tinggi
- 1.545 Marbot di Sleman Dapat Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan
Advertisement
Advertisement






