Penyebab Nilai Matematika TKA 2026 Jeblok dari Bahasa Indonesia

Sunartono
Sunartono Kamis, 28 Mei 2026 05:17 WIB
Penyebab Nilai Matematika TKA 2026 Jeblok dari Bahasa Indonesia

Hasil nilai TKA SD dan SMP tahun 2026. /Instagram-Kemendikdasmen.

Harianjogja.com, JAKARTA—Data terbaru hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) 2026 yang dirilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan ketimpangan mencolok antara capaian mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika pada jenjang SD/MI maupun SMP/MTs sederajat di berbagai provinsi Indonesia.

Nilai rata-rata Matematika tercatat masih tertinggal jauh dibandingkan Bahasa Indonesia. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap kemampuan numerasi siswa yang selama ini menjadi fondasi penting dalam penguasaan logika dan sains.

Nilai Bahasa Indonesia Unggul Jauh

Berdasarkan data Kemendikdasmen, mayoritas provinsi mampu mencatat rerata Bahasa Indonesia di kisaran angka 50 hingga 70. Sebaliknya, capaian Matematika masih didominasi angka 30 hingga 40-an, baik pada jenjang SD maupun SMP.

Provinsi dengan capaian pendidikan tertinggi seperti Daerah Istimewa Yogyakarta dan DKI Jakarta pun masih menghadapi persoalan serupa.

DI Yogyakarta mencatat nilai Bahasa Indonesia SD sebesar 75,14, sedangkan Matematika SD berada di angka 61,64 dan turun menjadi 51,65 pada jenjang SMP.

DKI Jakarta membukukan rerata Bahasa Indonesia SD sebesar 71,30, sementara Matematika SD hanya 51,38 dan kembali menurun menjadi 45,31 di tingkat SMP.

Ketimpangan nilai juga terlihat di sejumlah daerah luar Jawa. Di Maluku Utara, rerata Matematika SD tercatat 35,69 dan SMP 36,15. Sementara di Papua Selatan, nilai Matematika SMP menjadi salah satu yang terendah dengan angka 35,44.

Metode Belajar Dinilai Jadi Faktor

Sejumlah pengamat pendidikan menilai rendahnya capaian numerasi siswa dipengaruhi berbagai faktor yang selama ini masih membayangi proses pembelajaran Matematika di sekolah.

Salah satu persoalan utama dinilai berasal dari metode pembelajaran yang kurang kontekstual. Matematika masih sering diajarkan sebatas hafalan rumus dan pengerjaan soal abstrak sehingga siswa kesulitan memahami penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, fenomena math anxiety atau kecemasan terhadap Matematika juga disebut masih kuat terjadi di kalangan siswa. Stigma bahwa Matematika merupakan pelajaran sulit membuat sebagian anak kehilangan kepercayaan diri sejak dini.

Kesenjangan kualitas tenaga pendidik di sejumlah daerah juga dinilai turut memengaruhi capaian numerasi nasional, terutama di wilayah 3T atau tertinggal, terdepan, dan terluar yang masih menghadapi keterbatasan guru dengan metode pembelajaran kreatif dan interaktif.

Dorong Penguatan Numerasi Nasional

Melalui slogan #PendidikanBermutuUntukSemua dan visi Kemendikdasmen RAMAH, pemerintah diharapkan mampu mempercepat transformasi pembelajaran numerasi di sekolah. Pendekatan belajar yang menyenangkan atau joyful learning dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk mengubah pandangan siswa terhadap Matematika.

Penguatan kemampuan numerasi juga membutuhkan sinergi antara pemerintah, sekolah, guru, dan orang tua agar anak tidak lagi memandang Matematika sebagai pelajaran menakutkan. Upaya tersebut dinilai penting untuk mendukung lahirnya generasi unggul di bidang sains dan teknologi pada masa mendatang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online