Lonjakan Pemudik Lebaran Terlihat di Bandara YIA
Penumpang di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) melonjak hingga 81% dibanding 2021, seiring peningkatan pemudik jelang Lebaran 2022.
Warga menutup sinar matahari yang menyinari muka saat matahari bersinar terik di musim kemarau./Harian Jogja-Nina Atmasari
Harianjogja.com, SLEMAN—Musim kemarau berdampak pada menurunnya kuantitas dan kualitas air bersih di sejumlah daerah sehingga akan memengaruhi kesehatan warga. Penyakit diare dan disentri jadi ancaman.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo mengatakan angka kasus penyakit diare di sejumlah fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan klinik praktik mandiri sampai dengan awal Juli ini memang mulai meningkat. Dia mengatakan penyakit yang rentan muncul saat kemarau biasanya berhubungan dengan menurunnya kualitas air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Ketika musim kemarau, kata Joko, sumber air banyak yang mengering sehingga warga terkadang menggunakan air seadanya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Saat kemarau, penyakit yang rentan muncul kebanyakan berkaitan saluran pencernaan seperti diare dan disentri," kata Joko, Minggu (7/7).
Sebagai antisipasi, kata dia, masyarakat harus membiasakan pola hidup bersih dan sehat. Sebab walaupun kondisi air tidak begitu baik tapi jika dimasak sampai matang, bakteri yang terkandung di dalamnya akan mati.
Selain faktor air yang dikonsumsi, lanjut Joko, melonjaknya penyakit diare juga bisa disebabkan banyaknya lalat yang berkembang biak seiring dengan banyaknya buah yang matang di pohon.
Begitu pula dengan suhu rendah yang terjadi beberapa hari terakhir, dia mengatakan penyakit pernafasan dan radang sendi juga rentan menyerang terutama saat awal musim kemarau. Pasalnya di saat awal musim kemarau, suhu udara cenderung turun sehingga hawa pun menjadi lebih dingin dari biasanya.
“Selain itu, Hepatitis A juga harus diantisipasi. Penyakit ini berkaitan pula dengan kondisi air yang tidak baik, dan penularannya bisa terjadi makanan yang kurang higienis," katanya.
Khusus untuk Hepatitis A yang kini menjadi momok bagi kesehatan masyarakat Pacitan, Jawa Timur, di Sleman, Joko menegaskan tidak ada lonjakan jumlah penderita. “Meski demikian, masyarakat tetap diimbau berhati-hati. Terlebih saat ini hepatitis A tengah menjadi kejadian luar biasa di wilayah Pacitan, Jawa Timur,” ucap dia.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sleman Novita Krisnaeni mengatakan, hepatitis A bisa dicegah dengan menghentikan penyebaran virus.
Novita melanjutkan, caranya dengan tidak berbagi makanan dan minuman bersama penderita, serta menjaga kebersihan alat makan agar tidak terkontaminasi.
"Selain itu jaga kebersihan lingkungan dan biasakan mencuci tangan menggunakan sabun usai buang air besar," ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penumpang di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) melonjak hingga 81% dibanding 2021, seiring peningkatan pemudik jelang Lebaran 2022.
Cek jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 16 Mei 2026 dari Palur hingga Jogja. Tarif Rp8.000, berangkat pagi hingga malam.
Libur panjang akhir pekan dorong wisata Sleman naik. Merapi, Kaliurang hingga Prambanan diprediksi jadi tujuan favorit.
Honda mencatat rugi pertama sejak IPO akibat EV. Kerugian capai Rp45,9 triliun, proyek Kanada ditunda, target EV diubah.
Gempa M6,3 guncang Jepang timur laut. Shinkansen dihentikan, Miyagi terdampak, namun PLTN Fukushima dilaporkan aman.
Perdagangan hewan kurban di Bantul naik jelang Iduladha 2026. Kambing paling diminati, omzet pedagang diprediksi melonjak.