APBD DIY 2027 Disiapkan Rp4,93 Triliun, Fokus pada Tiga Hal Ini
APBD DIY 2027 dirancang Rp4,93 triliun. Sri Sultan HB X fokus pada pengentasan kemiskinan, peningkatan SDM, dan pertumbuhan ekonomi inklusif berkelanjutan.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Aris Eko Nugroho (kiri), saat mengunjungi salah satu stan di Pasar Kangen Jogja, Jumat (12/7/2019)./Harian Jogja-Abdul Hamid Razak
Harianjogja.com, JOGJA- Pasar Kangen Jogja resmi dibuka Jumat (12/7/2019) hingga Sabtu (20/7/2019) mendatang di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Kegiatan ini terbuka bagi umum dan gratis setiap hari.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Aris Eko Nugroho, mengatakan seperti tahun-tahun sebelumnya, kegiatan ini melibatkan banyak perajin, pelaku usaha kuliner hingga seniman. Selain menyajikan kuliner tempo dulu yang langka, banyak karya seni dan kerajinan yang unik dipasarkan di event ini. "Pada dasarnya, Pasar Kangen bagian dari nguri-uri kabudayaan yang sudah ada di Jogja," ujar Aris seusai membuka kegiatan Pasar Kangen di TBY, Jumat (12/7/2019).
Tahun ini, panitia menghadirkan 117 stan kuliner tradisional dan 93 stan barang kerajinan. Di sela-sela pengunjung bernostalgia dengan penganan tradisional, mereka juga akan dihibur dengan beragam pertunjukan kesenian tradisional. Total ada sekitar 32 kelompok seni yang tampil di panggung.
"Yang baru, panitia juga menyediakan sarana bermain bagi anak-anak. Ini untuk menambah kegiatan lebih semarak," katanya.
Menurut Aris, antusiasme masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan tersebut sangat tinggi. Sebanyak 215 stan yang ada berasal dari sekitar 1.500 pendaftar. Panitia kemudian menyaring dan memilih ragam usaha untuk mengisi stan yang disediakan. "Ini menunjukkan warga sangat antusias dengan Pasar Kangen. Meski jumlah stan terus ditambah, tapi tidak semua bisa masuk karena keterbatasan lahan," katanya.
Korlap Pasar Kangen Jogja, Wasdiyana, menambahkan konsep pasar ini memadukan antara kesenian tradisi dan kuliner tradisi yang ada di Jogja. Beberapa makanan tradisional dan otentik tempo dulu yang dihadirkan di antaranya getuk, lempeng juruh, geblek tempe, pepes, atau botok.
"Yang masuk ke sini harus memenuhi syarat. Makanan tradisional yang benar-benar memenuhi kriteria baik bahan, peralatan, maupun cara pembuatannya. Produk makanan kemasan dan franchise tidak bisa masuk," katanya.
Tak hanya menghadirkan makanan legendaris dan atraksi seni budaya, event ini menghadirkan kerajinan yang unik dan koleksi barang antik. Mengusung tema Ketahanan Pangan dan Kemandirian, Pasar Kangen menjadi wadah bagi masyarakat untuk membangun kesejahteraan bersama melalui pengoptimalan sumber daya alam yang ada.
Salah satu kekuatan pasar itu, kata dia, adalah relasi kemanusiaan yang begitu intim terbangun. Relasi antara pedagang dan pembeli bukan semata-mata transaksi ekonomi, tapi ada tegur sapa. "Spirit inilah yang coba kami hadirkan dalam Pasar Kangen ini," kata Wasdiyana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
APBD DIY 2027 dirancang Rp4,93 triliun. Sri Sultan HB X fokus pada pengentasan kemiskinan, peningkatan SDM, dan pertumbuhan ekonomi inklusif berkelanjutan.
Dinas Pariwisata (Dinpar) Kota Jogja mendorong pelaku industri pariwisata untuk mengelola sampah yang dihasilkan dari kegiatan usahanya secara mandiri
Pemerintah menegaskan pengemudi ojol tetap wajib menerima BHR meski berstatus UMKM. Aturannya akan dituangkan dalam regulasi turunan.
DPRD Kota Jogja menemukan warga tidak mampu tercatat desil 6-10 sehingga tak mendapat bansos. Desil penerima bantuan didorong diperluas.
SBY sedang menjalani cek kesehatan di Amerika Serikat hingga akhir Agustus 2026 sehingga tak menghadiri Sidang Tahunan MPR dan HUT RI.
Sebanyak 1,56 juta penumpang menggunakan KA Bandara YIA hingga Juli 2026. Sekitar 1 juta penumpang memilih layanan PSO.