Airlangga Targetkan Investasi Hilirisasi Rp3.800 Triliun dalam 4 Tahun
Pemerintah menargetkan investasi hilirisasi Rp3.800 triliun dalam empat tahun untuk 28 komoditas di delapan sektor.
Diskusi bertajuk Kegiatan Literasi Pencegahan Terorisme dan Radikalisme yang digelar Diskominfo DIY di Pendopo Soto Seneng, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja, Selasa (19/11/2019)./Dyah Febriyani
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi digunakan para teroris untuk menyebarkan paham terorisme, radikalisme dan intoleransi kepada masyarakat. Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) DIY, Rony Primanto Hari, mengatakan kemampuan media sosial (medsos) dalam menyebarkan informasi sangat cepat dan masif.
"Dari data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia [APJII], manusia setiap harinya menggunakan gawai selama delapan jam 36 menit, tiga jam di antaranya digunakan untuk bermedia sosial," kata Rony dalam Kegiatan Literasi Pencegahan Terorisme dan Radikalisme di Pendopo Soto Seneng, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja, Selasa (19/11/2019).
Menurut dia, dalam medsos masyarakat disajikan informasi berupa teks, gambar, dan video. Informasi bentuk teks, kata Rony, menjadi bentuk penyebaran informasi dengan tingkat manipulasi yang mudah, sedangkan gambar bisa dimanipulasi dan banyak digunakan untuk penyebaran informasi yang menyesatkan.
“Oleh karena itu Diskominfo DIY turut berupaya mencegah paham terorisme dan radikalisme dengan memberikan literasi kepada masyarakat mengenai tata cara dalam bermedia sosial yang benar agar masyarakat paham tentang penyebaran paham ini,” kata Rony. Dia mengimbau masyarakat untuk mengecek kembali kebenaran informasi yang didapat dari medsos. Hal ini dapat dilakukan dengan mengakses situs yang menyuarakan gerakan antihoaks.
Mantan teroris asal Prambanan, Sleman, Salman Alfaluti, 31, mengaku terpapar paham terorisme melalui perekrutan secara langsung. Saat ini, para teroris punya cara baru untuk menyebarkan paham melaui medsos. "Misalnya melalui grup WhatsApp menyuarakan ujaran kebencian dan memberikan doktrin yang salah serta memprovokasi untuk melawan negara dan aparatur," katanya.
Menurut dia, sasaran utama pengiat teror adalah seseorang yang memiliki semangat jihad yang kuat namun ilmunya masih dangkal.
Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, mengatakan dalam pencegahan paham terorisme, radikalisme, dan intoleransi perlu adanya upaya menghidupkan kearifan lokal seperti tata srawung, di mana masyarakat diimbau untuk lebih mengenal tetangganya. Koordinasi antarlembaga di kampung seperti karang taruna, Babinsa, RT dan RW perlu ditingkatkan untuk menghilangkan paham intoleran di masyarakat. "Hidup berbeda itu indah, Bhineka Tunggal Ika harus kita syukuri," kata Eko.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemerintah menargetkan investasi hilirisasi Rp3.800 triliun dalam empat tahun untuk 28 komoditas di delapan sektor.
Polda DIY mengonfirmasi mutasi tiga pejabat berdasarkan Telegram Kapolri 10 Oktober 2026. Simak daftar nama dan jabatan barunya.
BMKG mencatat curah hujan Kalsel rendah pada awal Oktober. Menhut Raja Juli Antoni meminta kewaspadaan karhutla dijaga hingga hujan diperkirakan turun November.
Levante menjamu Sevilla pada Selasa dini hari WIB. Tuan rumah butuh poin untuk keluar dari zona degradasi, sementara Sevilla menjaga posisi lima besar La Liga.
VPN di rumah dapat membatasi informasi yang terlihat oleh ISP. Kenali manfaat, batas perlindungan, risiko VPN gratis, dan cara memilih layanan yang aman.
Cek tilang ETLE online melalui portal resmi Korlantas Polri. Simak data yang diperlukan, cara konfirmasi pelanggaran, pembayaran denda, dan tips menghindari pen