Anggaran Dropping Air BPBD Gunungkidul Makin Menipis
Anggaran dropping air BPBD Gunungkidul diprediksi habis September. Pemkab menyiapkan opsi tambahan melalui anggaran BTT.
Asti Wijayanti/Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Potensi pariwisata di Bumi Handayani begitu melimpah. Tingkat kunjungan pun meningkat signifikan sejak 2012. Meski demikian, Kepala Dinas Pariwisata (Dinpar) Gunungkidul, Asti Wijayanti, menyadari bahwa sektor kepariwisataan masih butuh dikembangkan.
“Intinya citra pariwisata tak bisa dibentuk secara instan karena butuh waktu yang tidak sebentar. Sebagai contoh untuk pengembangan Desa Wisata Nglanggeran butuh waktu sekitar lima sampai 10 tahun untuk bisa seperti sekarang ini,” kata Asti kepada Harian Jogja, Jumat (6/12/2019).
Menurut dia, patron wisata saat ini masih tertuju ke Pulau Bali. Di Bali pariwisata sudah menjadi yang utama dan masyarakatnya sudah mengerti bagaimana pentingnya memberikan rasa aman dan nyaman terhadap wisatawan yang datang. “Ini yang belum dipunyai Gunungkidul. Untuk bisa mencapai itu maka utuh proses yang tidak sebentar,” katanya.
Asti mengungkapkan kesadaran masyarakat khusus pelaku wisata yang kurang menjadi tantangan yang harus dipecahkan. Ia menuturkan untuk pengembangan sektor kepariwisataan sudah mengacu kepada sapta pesona. Meski demikian, tujuh prinsip ini belum dijalankan dengan baik dalam pengembangan di Gunungkidul.
Sebagai contoh di beberapa destinasi masih terjadi konflik yang melibatkan warga sekitar. Kondisi ini apabila dibiarkan tidak baik sehingga berpengaruh dalam upaya pengembangan. Hal ini dikarenakan adanya konflik bisa mempengaruhi rasa aman dan kenyamanan wisatawan saat berkunjung. Padahal, prinsip tersebut sudah termuat dalam program sapta pesona pariwisata. “Kami terus beruapaya mengaplikasikan prinsip-prinsip sapta pesona kepada para pelaku wisata dengan terus memberikan pendampingan,” katanya.
Selain melatih sumber daya manusia untuk lebih peka terhadap wisatawan, tantangan lain dalam pengembangan juga berkaitan dengan pengembangan infrastrukur. Di dalam kepariwisataan mengenal tiga A yang meliputi aksesbilitas, amenitas dan atraksi.
Untuk aksesibilatas dan amenitas, Pemkab telah berusaha untuk memberikan kemudahan akses dan fasilitas kepada pengunjung. Namun upaya ini terus dilakukan sehingga bisa memberikan rasa nyaman kepada pengunjung. “Untuk atraksi kami juga terus menggelar acara yang bisa menjadi daya tarik wisatawan. Yang jelas kami akan terus upaya dalam pengembangan pariwisata Gunungkidul yang lebih baik lagi,” kata mantan Sekretaris Dinas Pertanahan dan Tata Ruang ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Anggaran dropping air BPBD Gunungkidul diprediksi habis September. Pemkab menyiapkan opsi tambahan melalui anggaran BTT.
Kemenhaj membuka seleksi petugas haji 1448 H/2027 M mulai 25 Agustus 2026. Simak formasi, syarat, tahapan, dan jadwalnya.
Tahun ini, cerita tersebut menjadi bagian dari perjalanan Fatma Jati Kirana, siswi kelas XI D MAN 5 Sleman, yang terpilih sebagai anggota Pasukan 8 Paskibraka
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut negaranya menghadapi perang skala penuh di tengah sanksi baru Amerika Serikat.
Menhan Sjafrie Sjamsoeddin memastikan kadet perempuan Muslim Unhan dapat mengenakan hijab selama menjalani pendidikan.
Tito Karnavian mengaku belum tahu isu Haji Isam ditunjuk membantu memadamkan karhutla di Kalimantan. Pemerintah membuka ruang bagi swasta.