Wayang Kulit Meriahkan Tukar Budaya Magelang-Karanganyar
Tukar budaya Magelang–Karanganyar meriah dengan wayang kulit dan peluncuran Gerakan Sanggar Seni Sekolah di Secang.
Suasana di Pasar Beringharjo, Selasa (10/4/2018)./Harian Jogja-Salsabila Annisa Azmi
Harianjogja.com, JOGJA- Banjir yang terjadi di Pasar Beringharjo, Kota Jogja, pada Jumat (14/2/2020) membuat publik bertanya-tanya. Penyebabnya, kasus banjir ini baru pertama kali terjadi dan anehnya, air muncul dari lubang selokan di bawah pasar.
Ahli hidrologi dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Budi Santoso Wignyosukarto juga mengaku heran dengan munculnya air yang membuat pasar tradisional terbesar di DIY itu banjir.
"Jika kita lihat videonya, air masuk dari bawah, dari lubang selokan. Jadi air tidak masuk dari jalan ke pasar seperti banjir yang biasa terjadi. Mestinya lubang selokan itu untuk membuang air dari atas, ini malah mengeluarkan air sehingga membuat banjir," katanya, saat dihubungi, Sabtu (15/2/2020).
Satu hal yang bisa disimpulkan Budi adalah saluran air di bawah itu tertutup atau tersumbat. Saluran air yang seharusnya menjadi jalan untuk mengalirkan air menuju saluran induk, kemungkinan penuh. Jadi, air dari kawasan utara tidak bisa mengalir ke selatan.
"Akhirnya air meluap lewat lubang selokan, dan masuk ke Pasar Beringharjo. Itu diagnosa saya," jelas akademisi yang menyelesaikan program doktornya di Institute Nationale Polytechnique de Grenoble, Perancis tersebut.
Hal serupa, menurutnya juga terjadi di Kotabaru Jogja. Menurutnya, air mestinya turun ke Kali Code yang ada di sebelahnya dan elevasinya lebih rendah. Jadi jika air tidak mengalir, pasti ada saluran yang tertutup.
Oleh karenanya, ia mempertanyakan bagaimana pemeliharaan saluran-saluran tersebut. Ia menduga, saluran air di tepi jalan telah menjadi tempat membuang sampah oleh pedagang kaki lima (PKL) di pinggir jalan.
"Coba lihat di UGM, di Jalan Kaliurang, di bawah warung PKL itu ada yang melubangi jalan untuk membuang sampah ke selokan. Mereka pikir ketika hujan turun, maka sampah mereka akan digelontor air hujan. Yang terjadi, ketika air yang mengalir hanya sedikit-sedikit, sampah malah jadi mengumpul, apalagi sampah lemak-lemak makanan," jelasnya.
Untuk solusinya, Budi kemudian berpesan agar setiap menjelang musim hujan tiba, maka saluran air harus dibuka dan dibersihkan. Ia mencontohkan program Selasa Wage di Malioboro, bisa dimanfaatkan untuk membersihkan selokan dari sampah-sampah PKL.
Ia menambahkan berdasarkan dugaannya, hujan yang terjadi di Jogja saat ini masih dalam taraf normal, sehingga air yang sampai ke tanah mestinya masih bisa diterima oleh saluran-saluran yang telah dipersiapkan untuk menampungnya.
"Namun itu dugaan saya, meski bisa saja, hujannya terlalu besar, sehingga air memang tidak tertampung di selokan, sehingga menyebabkan banjir," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tukar budaya Magelang–Karanganyar meriah dengan wayang kulit dan peluncuran Gerakan Sanggar Seni Sekolah di Secang.
Tren Manhattan, Brooklyn, Queens, The Bronx, dan Staten Island versi Jogja viral di TikTok. Simak asal-usul lima borough New York dan pemetaannya di DIY.
India resmi mundur dari FIFA ASEAN Cup 2026 demi hadapi Brasil. Timnas Indonesia kehilangan lawan di Grup A. India terancam denda Rp439 juta dan cari dua laga u
PSG mengalahkan Aston Villa 2-1 dan menjadi klub ketiga dalam sejarah yang menjuarai Piala Super Eropa dua musim beruntun
Rekomendasi 8 HP flagship bekas terbaik 2026 dengan harga turun drastis. Dari Samsung Galaxy S23 Rp6 jutaan hingga iPhone 13 Pro Rp9,5 jutaan. Cek tips membelin
Xavi Hernandez resmi jadi pelatih Timnas Belanda dengan kontrak hingga Piala Dunia 2030. Ia sebut dirinya "anak sepak bola Belanda" dan ingin bawa filosofi meny