Soft Living Jadi Tren di Jogja, Anak Muda Utamakan Kesehatan Mental
Soft living menjadi tren di Jogja. Gaya hidup ini mendorong keseimbangan hidup dan kesehatan mental tanpa mengabaikan tanggung jawab.
Kegiatan seminar Mengenang Peran Akademi Militer Yogyakarta dalam Perang Gerilya di Wilayah Yogyakarta 1948-1949, Sabtu (22/2/2020). /Ist-Dok Ikam.
Harianjogja.com, JOGJA-- Awal Akademi Militer (Akmil) di Yogyakarta adalah masa sulit, selain sedikit pemuda yang ingin mendaftar ke pendidikan militer ini juga fasilitas yang belum memadai. Pemuda yang masuk ke Akmil kemudian menjadi taruna memiliki tugas berat berperang di medan pertempuran fisik.
Hal itu dibahas dalam Seminar Mengenang Peran Akademi Militer Yogyakarta dalam Perang Gerilya di Wilayah Yogyakarta 1948-1949, Sabtu (22/2/2020). Diskusi ilmiah ini dihelat oleh Ikatan Keluarga Alumni Akmil Yogyakarta (IKAM) sekaligus untuk mendukung pengembangan Desa Wisata Perjuangan Selomartani Sleman. Di mana di desa ini banyak cerita sejarah berkaitan dengan pertempuran taruna Akmil.
Salah Satu Saksi Sejarah Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo mengatakan pada era angkatan ketiga di 1950 Akmil Yogyakarta, tidak mudah mencari siswa untuk dididik militer sebagai taruna. Karena jumlah yang sedikit, kemudian para pimpinan TNI AD ketika itu sepakat mengirim mereka untuk mengikuti pendidikan militer di Belanda. Motivasi pemuda bergabung di taruna Akmil saat itu adalah siap menjadi garda terdepan di medan pertempuran fisik melawan penjajah.
"Ketika itu hanya sedikit pemuda yang mendaftar [di Akmil Yogyakarta]. Karena dorongan pemuda ketika itu masuk Akmil berbeda dengan setelah tahun 1957, meski pun secara prinsip sama-sama mengabdi kepada bangsa, tetapi beda situasi kondisinya. Dahulu langsung di medan perang, kalau setelah 1957 memumpuk kemampuan yang bermanfaat untuk bangsa dan negara," katanya dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Senin (24/2/2020).
Ia mengatakan pendidikan taruna ketika itu mempersiapkan perwira yang andal dan mampu bertempur secara langsung. Sehingga pendidikan yang diberikan selain teori, juga praktik secara langsung di lapangan menghadapi masalah operasi dengan Belanda. Salah satu keterlibatan taruna yang masuk dalam pertempuran nyata adalah pertempuran Plataran, Kalasan, Sleman.
Peristiwa itu berawal saat tertembaknya salah satu taruna, yang saat itu kebetulan membawa peta sejumlah titik keberadaan pasukan Akmil. Sehingga TNI harus memindah markas Akmil dari Kringinan, Selomartani, Kalasan. Guna mengamankan pemindahan tersebut, pasukan taruna Akmil menghadang pasukan Belanda di Plataran. "Saat itu banyak taruna kita yang gugur, pertempuran ini lebih tepat disebut pertempuran pengorbanan, karena taruna menghadang secara langsung pasukan Belanda," ujarnya.
Pengurus IKAM Indroyono Seosilo menilai pentingnya jejak sejarah perjuangam taruna Akmil Yogyakarta. Oleh karena itu, layak untuk diketahui generasi muda era saat ini. "Sehingga mereka bisa meneladani nilai-nilai perjuangan, patriotisme agar bisa berbuat lebih banyak untuk negeri ini," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Soft living menjadi tren di Jogja. Gaya hidup ini mendorong keseimbangan hidup dan kesehatan mental tanpa mengabaikan tanggung jawab.
Presiden Prabowo Subianto minta birokrat, TNI, Polri, dan jaksa introspeksi. Tegaskan aparatur negara milik rakyat dan korupsi tidak boleh dibiarkan.
Stroberi kaya vitamin C, serat, dan antioksidan. Simak 6 manfaatnya untuk imunitas, jantung, hingga mencegah penyakit kronis.
Baru Dua Bulan Lulus, 89,74% Lulusan SMK-SMTI Yogyakarta Terserap Industri, Mayoritas Sudah Bekerja Sebelum Wisuda
APBD DIY 2027 dirancang Rp4,93 triliun. Sri Sultan HB X fokus pada pengentasan kemiskinan, peningkatan SDM, dan pertumbuhan ekonomi inklusif berkelanjutan.
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY membidik sekitar 200 titik di wilayah DIY untuk menggelar program bedah buku secara masif