Menerawang Masa Depan untuk Memilih Pendidikan

Siswa Olifant School membagikan bingkisan untuk anak Panti dan Pondok Pesantren Darul Faroh Wal Irsyad dan Sekolah Gratis Gajah Wong belum lama ini. - Ist./Olifant School
25 Juli 2019 10:27 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pengetahuan tentang mempersiapkan masa depan seorang anak dengan memilih pendidikan yang pas saat ini menjadi hal yang penting untuk dipahami oleh orang tua.

Praktisi Pendidikan, Head of Olifant School Dewi Setyorini mengatakan masa depan bagi seorang anak kelas I SD biasa diartikan sebagai persiapan memasuki SMP. Namun masa depan yang sesungguhnya adalah masa dimana nanti mereka harus mulai hidup sebagai orang dewasa, yaitu sekitar 15-20 tahun yang akan datang, saat mereka berada di usia produktif bekerja.

“Masa inilah yang perlu diterawang untuk mengetahui apa yang mereka perlukan dalam menghadapi segala situasi di masa itu,” ucap Dewi melalui siaran pers, Rabu (24/7).

Diungkapkannya, tantangan terbesar yang terasa saat ini adalah persaingan kerja. Diprediksi demografi di Indonesia akan mengalami lonjakan jumlah penduduk usia produktif selama beberapa dekade dari 2020, dan puncaknya akan terjadi bonus demografi di sekitar 2025-2030. Pada saat itu, 70% penduduk Indonesia berada dalam usia produktif, yang artinya anak yang saat ini masuk kelas I SD, di masa itu akan bersaing dengan lebih dari 180 juta orang dalam mendapatkan pekerjaan. Itu belum termasuk persaingan global dengan sumber daya manusia (SDM) dari luar negeri sebagai dampak dibukanya batas ekonomi antarnegara.

“Tidak berhenti disitu, perkembangan teknologi yang super cepat juga bisa mengancam peluang kerja karena berbagai pekerjaan sudah digantikan oleh artificial intelligent, bukan hanya di level pekerjaan teknis, bahkan berbagai pekerjaan profesional bergengsi seperti dokter, auditor, financial manager pun juga bisa jadi tergantikan,” ucapnya.

 

Jenis Pekerjaan

Selain persaingan tenaga kerja, jenis pekerjaan di masa yang akan datang juga tidak bisa diprediksi. Seiring perkembangan teknologi, budaya dan peradaban, banyak pekerjaan mulai punah dan muncul berbagai pekerjaan baru. Kemudian bagaimana orang tua mempersiapkan anaknya apabila bahkan tidak tahu pekerjaan macam apa yang akan ada di masa datang? 

Di sinilah mind shifting mulai perlu dilakukan. Dari mindset pendidikan adalah untuk semata-mata mencari pekerjaan bonafit tertentu, diubah menjadi mindset pendidikan adalah untuk membekali anak mampu mengatasi situasi yang dihadapi dimasa mereka nanti.

Identitas diri yang kuat serta keluasan wawasan kebinekaan mutlak diperlukan ketika anak nantinya menjadi bagian dari komunitas global. Selain itu, beberapa keterampilan seperti collaboration, high-tech ability, critical thinking, creativity, Innovation, complex problem solving, service & caring dan empowerment, juga wajib dimiliki agar anak bisa mengelola hidupnya, mengatasi permasalahan dan memberikan kontribusi untuk lingkungannya. Inilah “senjata” yang bisa diberikan orang tua untuk anaknya “berperang” di masanya nanti.

“Menelaah itu semua, tentunya orangtua harus jeli dalam memilih pendidikan untuk anaknya sejak dini, karena perlu proses yang tidak sebentar untuk membentuk senjata tersebut. Persepsi pendidikan orangtua saat ini, menentukan senjata apa yang akan dimiliki anak dalam menjalani tantangan masa depannya,” ujarnya.