Peneliti Temukan Resep Membuat Es Krim Anti Meleleh
Peneliti membuat terobosan baru setelah menemukan cara untuk membuat es krim yang hampir tidak meleleh.
Petugas mengukur panjang amblesan terowongan irigasi Bendung Tawang yang di terletak di Dusun Sambiroto, Kalurahan Banyuroto, Kapanewon Nanggulan. /Ist- Bambang Nurcahyo
Harianjogja.com, KULONPROGO- Amblesnya terowongan irigasi Bendung Tawang yang di terletak di Dusun Sambiroto, Kalurahan Banyuroto, Kapanewon Nanggulan beberapa waktu lalu hingga kini belum mendapat penanganan dari pemerintah.
Warga setempat, Bambang Nurcahya, 46, menuturkan Pemerintah Kalurahan Banyuroto sudah mengirim surat permohonan kepada Pemkab Kulonprogo untuk memperbaiki saluran irigasi yang ambles pada Kamis (20/2/2020) lalu akibat tertimpa longsoran lantaran hujan deras. Namun, hingga kini masih belum ada penanganan lebih lanjut sementara aliran irigasi terhenti 10 hari terakhir.
Sebelumnya diberitakan sepanjang tiga meter lebih terowongan irigasi ini ambles. Kini amblesan bertambah panjang menjadi enam meter. Sekitar 68 hektare sawah di enam dusun di tiga kapanewon terdampak tidak teraliri air dari saluran irigasi yang terhenti ini.
"Sampai hari ini belum ada penanganan. Terakhir kali dari DPRD Kulonprogo yang meninjau," kata Bambang kepada Harianjogja.com, Senin (2/3/2020).
Ia berharap Pemkab Kulonprogo bergerak cepat menangani hal ini sebelum risiko gagal panen muncul. "Paling tidak dibantu mengeruk tanahnya dulu lalu dibuat tanggul sementara dengan bambu dan terpal di kanan kiri dan dibronjong," katanya.
Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Kulonprogo, Nur Eni Rahayu membenarkan pihaknya bersama komisi bidang pembangunan meninjau amblesnya terowongan tersebut pada Minggu (23/2/2020) lalu. Info terakhir yang didapatnya, Pemkab Kulonprogo tengah berupaya berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) untuk langkah penanganannya.
"Harapan kami hari ini BBWSSO sudah menerima laporan dari DPUPKP. Minggu depan paling lambat sudah harus tertangani," kata Eni ketika ditemui Harianjogja.com di DPRD Kulonprogo.
Ia tak ingin terhentinya aliran irigasi ini membuat lahan pertanian di tiga kapanewon yang teraliri aliran ini terpaksa gagal panen. Di sisi lain, Eni bersyukur akhir-akhir ini banyak turun hujan sehingga pertanian bisa memanfaatkan air hujan untuk pengairannya. Meski begitu, ia berharap penanganan bisa dipercepat lantaran turunnya hujan tak bisa diprediksi.
Eni meminta warga untuk bersabar menunggu tindak lanjut pemerintah. Sebab, jika hanya dilakukan pengerukan amblesan sementara tanpa perbaikan menyeluruh, maka penanganan ini akan kurang maksimal.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo, Ariadi membenarkan hingga kini belum dapat melakukan penanganan lebih lanjut lantaran masih dikaji oleh Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kulonprogo.
"Kondisinya kan ada tanah longsoran di atasnya [terowongan], sehingga jangan dikerjakan terburu-buru, takutnya malah tanahnya turun lebih parah. Tapi secepatnya akan kita tangani," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Peneliti membuat terobosan baru setelah menemukan cara untuk membuat es krim yang hampir tidak meleleh.
Pengurusan SKKH di Sleman masih sepi jelang Iduladha 2026. DP3 tingkatkan pengawasan karena ancaman PMK masih ada.
Lima WNI ditahan Israel saat misi kemanusiaan ke Gaza. Pemerintah RI mendesak pembebasan dan perlindungan.
UMKM di RTP Bulak Tabak Kulonprogo mengeluh sepi pembeli saat musim haji 2026, dampak ekonomi dari embarkasi belum terasa.
Polda DIY lakukan asistensi kasus Shinta Komala di Sleman. Dua perkara diusut, polisi pastikan penanganan sesuai SOP.
DPRD DIY memastikan tidak ada pemberhentian guru non-ASN. Penugasan diperpanjang hingga 2026, kesejahteraan tetap dijaga.