Balita Kejang di Malam Hari, Pasien JKN Dapat Penanganan Cepat
Seorang balita peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) datang dalam kondisi darurat pada tengah malam dan langsung mendapatkan penanganan cepat
Ilustrasi nyamuk DBD/JIBI
Harianjogja.com, BANTUL - Dinas Kesehatan Bantul mengingatkan masyarakat untuk tetap mewaspadai bahaya penyakit demam berdarah dangue (DBD) meski saat ini sedang mewabah virus Corona. Selama 2020 sampai akhir Maret ini, Dinkes Bantul mencatat sudah ada 416 kasus penyakit yang disebabkan nyamuk aedes aegypti tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Bantul, Sri Wahyu Joko Santoso, mengatakan angka penyebaran DBD triwulan pertama tahun ini lebih tinggi dibanding periode yang sama pada tahun lalu yang hanya 353 kasus.
“Dengan adanya kasus Covid-19 saat ini dan adanya keresahan di masyarakat, kami mengharapkan tindakan pemberantasan sarang nyamuk di masing-masing rumah yang dilakukan oleh penghuni rumah itu sendiri harus tetap dilakukan secara rutin,” kata Sri Wahyu, Selasa (31/3/2020)
Pria yang akrab disapa dokter Oky ini mengatakan pemberantasan sarang nyamuk atau PSN dengan cara mengubur, menguras, dan menutup tempat-tempat yang bisa dijadikan berkembang biaknya nyamuk merupakan tindakan terbaik untuk memberantas penyakit demam berdarah
Pihaknya mengharapkan anjuran tinggal di rumah dan menjaga jarak saat berinteraksi dengan orang lain selama ada wabah Corona tidak menghambat dilakukannya pemantauan dan pemberantasan jentik nyamuk aedes aegypti. “Mari tetap waspada, jangan sampai kita terlena dengan keresahan dan kepanikan. Berhati- hati dan perhatikan juga kesehtan lulingkungan kita,” ujar Oky.
Sementara itu kasus DBD terbanyak selama tiga bulan pertama tahun ini secara berurutan ada di Kecamatan Bantul sebanyak 50 kasus, Sewon 49 kasus, Pandak 39 kasus, Imogiri 35 kasus, dan Bambanglipuro 33 kasus. Sedangkan kecamatan yang berada di perbatasan dan biasa menjadi endemis tinggi tahun ini justru menurun seperti di Kasihan 20 kasus dan Banguntapan 16 kasus.
Lebih lanjut Oky juga mengingatkan bahwa tahun ini diprediksi terjadi siklus 5 tahunan dari DBD sehingga kewaspadaan perlu terus ditingkatkan.
Sekadar diketahui, angka terbanyak DBD di Bantul terjadi pada 2016 lalu yang mencapai 2.441 kasus dalam setahun. Tahun berikutnya kembali menurun sebanyak 538 kasus pada 2017, dan 2018 sampai Oktober mencapai 115 kasus.
Sementara di 2019 ada 1.424 kasus DBD. Dari jumlah tersebut, empat di antaran meninggal dunia. Tahun ini Oky memastikan belum ada laporan kematian dari kasus DBD.
Bupati Bantul Suharsono, dalam berbagai kesempatan kerap menekankan pentingnya melakukan PSN. Bahkan ia meminta semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk turun langsung bersama masyarakat melakukan gerakan PSN. “Pencegahan dan penanggulangan DBD tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan Dinas Kesehatan tanpa dukungan lintas sektoral dan masyarakat," ujar Suharsono.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Seorang balita peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) datang dalam kondisi darurat pada tengah malam dan langsung mendapatkan penanganan cepat
Pemerintah menghormati putusan MK soal pemisahan anggaran MBG dari dana pendidikan dan akan mengkaji dampaknya terhadap APBN.
Prabowo meminta gubernur dan bupati tidak mengerahkan warga untuk menyambut kunjungan kerjanya agar masyarakat tidak menunggu berjam-jam.
Dokter bedah onkologi mengingatkan pentingnya deteksi dini kanker payudara. Kasus terus meningkat dan banyak pasien datang saat stadium lanjut.
KPK menahan empat tersangka baru kasus dugaan korupsi komisi asuransi perkapalan PT Pelni dan PT Jasindo dengan kerugian negara Rp15,6 miliar.
Kejagung menetapkan Nurman Herin sebagai tersangka kasus dugaan TPPU eks Jampidsus Febrie Adriansyah dan menahannya selama 20 hari.