Prabowo Panen Raya Udang di Kebumen, Serap 650 Pekerja
Presiden Prabowo Subianto menghadiri panen raya udang di Kebumen. Proyek budidaya udang ini disebut menyerap 650 tenaga kerja.
Guru SDN Jatiroto, Bambang Setiawan, mengoreksi tugas kampanye pencegahan Covid-19 karya siswa kelas IV yang dikumpulkan tiap tiga hari sekali./Istimewa-Bambang Setiawan
Harianjogja.com, KULONPROGO - Bambang Setiawan masih terus mengamati gawainya. Namun, yang hanya ia pandangi hanya gambar tak bergerak. Seretnya sinyal di perbukitan membuat video call tak berfungsi baik.
Sebagaimana sekolah lain di Indonesia, SDN Jatiroto juga harus menghentikan aktivitas di sekolah. Kegiatan belajar mengajar dilakukannya secara daring. Akan tetapi, bagi guru seperti Bambang yang mengajar di daerah perbukitan Padukuhan Purwosari, Kalurahan Wonosari, Kapanewon Girimulyo, Kulonprogo, pembelajaran daring bukan perkara mudah.
Sudah lebih dari sebulan pembelajaran di rumah berlangsung, tetapi beberapa penyesuaian terpaksa dijalankan SDN Jatiroto. “Tidak semua punya handphone canggih, jadi kami juga harus menyusun strategi untuk murid yang tidak memiliki gawai,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Bagi murid yang orang tuanya punya ponsel pintar, pembelajaran daring tidak menjadi soal. Perangkat yang digunakan mumpuni untuk menerima penugasan maupun mengirimkan foto dari tugas yang dikerjakan. Namun situasi berbeda dihadapi murid yang orang tuanya tidak memiliki smartphone atau bahkan tidak punya telepon genggam.
Bambang memberi tugas kepada murid untuk jangka waktu dua atau tiga hari langsung. Murid yang tidak punya gawai menulis tugas dalam buku mengumpulkan dikumpulkan sesuai waktu yang ditentukan. “Supaya murid tidak terus menerus ke sekolah untuk mengumpulkan tugas, oleh karenanya kami buat pengumpulan dua sampai tiga hari sekali.”
Murid yang punya smartphone bagus mengirimkan tugas setiap hari. Mereka menerima informasi penugasan via WhatsApp saja. Namun, murid yang tidak punya smartphone mendapatkan informasi penugasan saat murid mengumpulkan tugas.
“Kalau tidak begitu, kami menghubungi tetangga murid yang tidak punya smartphone untuk menginformasikan penugasan,” kata dia.
Guru-guru SDN Jatiroto sudah mengakali situasi ini. Beberapa nomor telepon tetangga yang tinggal dekat dengan murid yang tidak punya smartphone telah disimpan. “Sejauh ini tidak ada tetangga yang keberatan kami repoti untuk menyampaikan tugas ke murid yang tidak punya handphone tadi,” ujar Bambang.
Ada juga cara alternatif mengumpulkan tugas bagi murid tidak punya gawai. Murid tersebut dapat mendatangi rumah guru SDN Jatiroto yang tinggal paling dekat dengan rumahnya. “Kasihan juga kalau harus jauh-jauh ke sekolah untuk mengumpulkan tugas,” ucap Bambang.
Dari total 46 siswa yang ada di SDN Jatiroto, setidaknya ada enam anak yang tidak memiliki gadget.
Susah Sinyal
Meski mayoritas murid di SDN Jatiroto memiliki ponsel pintar, tidak lantas segala persoalan selesai. Sinyal di Padukuhan Purwosari ini benar-benar susah diandalkan. Tempo hari dia sempat dihubungi wali murid melalui pesan singkat, isinya menanyakan tentang maksud tugas yang diberikan ke anaknya. Agar mudah menjelaskan, Bambang pun mencoba menelepon wali murid tersebut. “Waktu telepon putus-putus jadi susah menjelaskannya,” ucapnya.
Bambang bingung saat ditanya apakah memungkinkan membuka kelas lewat panggilan video.
“Telepon saja tidak lancar apalagi video call,” ucapnya.
“Di sekolah saja saat pakai jaringan wifi, buat video call saja susah apalagi di rumah-rumah warga. Kesulitan sinyal inilah yang membuat kelas daring melalui panggilan video grup tidak bisa terlaksana.”
Sinyal yang buruk di wilayah perbukitan juga berpengaruh pada kualitas tayangan di televisi. Padahal, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggandeng TVRI untuk meluncurkan program pendidikan di televisi. Anak-anak pada kelas tertentu diwajibkan menonton tayangan televisi untuk belajar dan mengerjakan soal. “Masalahnya tidak semua lokasi di perbukitan sinyalnya bagus, ada satu murid saya di kelas IV yang saluran TVRI bruwet,” ujar Bambang.
Munarti, orang tua Anita Sari, mengatakan tugas yang disiarkan televisi ini sebaiknya ditinjau ulang. Sinyal televisi di rumah Munarti terbilang jelek, sehingga tayangan TVRI tidak tertangkap. Itu membuat anaknya setiap hari terpaksa berjalan sejauh sekitar satu kilometer pulang pergi untuk menonton televisi di rumah temannya.
“Sebenarnya saya sungkan dengan orang tua teman anak saya, setiap hari bertamu untuk nonton televisi.”
Bambang juga mendapat laporan dari beberapa orang tua, anak-anak lebih semangat belajar di sekolah ketimbang di rumah. “Banyak sekali yang tanya, ‘kapan masuk lagi pak?’,” ucapnya.
Pandemi Covid-19 menyebabkan Bambang beserta murid dan guru tidak punya pilihan. Bambang beserta guru-guru lainnya mengaku rindu dengan anak didiknya. Sempat terpikir para guru membuat video agar bisa dilihat anak-anak supaya semangat belajar. Namun hal itu dipikirkan ulang, mengingat ada beberapa siswa yang tak punya gawai. “Rasanya tuh kangen, saya lebih seneng ngajar di sekolah saja daripada seperti ini,” ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Presiden Prabowo Subianto menghadiri panen raya udang di Kebumen. Proyek budidaya udang ini disebut menyerap 650 tenaga kerja.
Kemenkes mencatat 1.443 kasus pemasungan penderita skizofrenia hingga triwulan I 2026 dan mendorong penguatan layanan jiwa
PLN UID Sumut memastikan pasokan listrik untuk 4,87 juta pelanggan kembali normal usai blackout di Sumatra Bagian Utara.
Nilai tukar rupiah menguat ke Rp17.696 per dolar AS seiring optimisme perdamaian AS-Iran dan turunnya harga minyak dunia.
BGN meluncurkan aplikasi Reviu Menu MBG untuk memantau kualitas Makan Bergizi Gratis melalui penilaian guru dan posyandu
Kemenhaj memastikan seluruh jemaah haji Indonesia telah tiba di Makkah dan siap diberangkatkan ke Arafah secara bertahap.