Pabrik Hidrogen Hijau Pertama Pertamina Siap Beroperasi Tahun Ini
Pertamina menargetkan pabrik hidrogen hijau pertama di PLTP Ulubelu, Lampung, mulai beroperasi pada November 2026.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JOGJA--Dosen Jogja terduga pelaku pelecehan seksual Bambang Arianto dikenal pandai menulis.
Rektor Universitas Nahdhatul Ulama (UNU) Purwo Santoso ikut menanggapi soal viral-nya pengakuan dosen di salah satu universitas Islam di Yogyakarta yang melakukan pelecehan seksual berkedok riset soal swinger.
Dosen yang diketahui bernama Bambang Arianto ini mengelabui korban yang rata-rata adalah perempuan dengan meminta nomor ponsel untuk membicarakan soal penelitian swinger atau bertukar pasangan.
"Saya mengenal dia sebagai mahasiswa [UGM] yang sangat bagus dalam karya penulisannya. Dia juga masuk dalam komunitas Bulaksumur, sehingga dari kemampuannya itu saya mengajak dia untuk mengembangkan UNU," jelas Purwo, dihubungi Suara.com-jaringan Harianjogja.com, Senin (3/8/2020).
Purwo menjelaskan bahwa Bambang Arianto merupakan mahasiswa yang cukup berprestasi di dalam karya penulisannya. Namun dirinya tak menyangka bahwa ia memiliki gangguan psikologis dan perilaku yang merugikan sejumlah orang, terutama wanita.
"Prestasinya cukup baik di bidang penulisan itu. Hal inilah yang saya nilai dia bisa membantu meningkatkan akreditasi pengajar di UNU," jelas Purwo.
Ia melanjutkan bahwa saat itu dirinya merupakan dosen yang juga mengajar di Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam waktu yang sama, kader NU ini juga ditugasi mendirikan NU.
BACA JUGA: Kasus Covid-19 di DIY Hari Ini Naik Jadi 772, Bantul Paling Banyak Kasus Baru
"Peran ganda saya ada NU dan UGM saat itu. Jadi saya mengajak dan meminta dia [Bambang Arianto] untuk membangun UNU, meningkatkan akreditasi karena kemampuan menulis yang dia miliki. Dari kemampuan ini saya berinisiatif mengenalkan kepada teman-teman di UNU," terang dia.
Bambang Arianto melalui media sosial menyebut bahwa dirinya adalah peneliti Akuntansi Forensik LPPM UNU Yogyakarta. Hal tersebut dibantah Purwo. Ia mengaku bahwa kampusnya tak memiliki prodi tersebut.
"Jadi itu manipulasi, jadi kami tidak punya jurusan forensik akuntansi. Kampus masih dalam akuntasi dasar. Dia [Bambang Arianto] yang mengklaim punya kemampuan di bidang itu. Kami melibatkan dia untuk mendukung kegiatan tersebut dan ikatannya per semester," jelas Purwo.
Disinggung terkait pencatutan nama yang dilakukan Bambang Arianto, Purwo menuturkan, belum mengambil kebijakan sebagai langkah hukum.
"Kami belum ambil keputusan, nanti malam baru dilakukan rapat. Masih mengagendakan dalam rapat dengan pimpinan terhadap persoalan ini," terangnya.
Kendati demikian, Purwo mengapresiasi tindakan Bambang Arianto memberikan klarifikasi dan permintaan maaf. Pasalnya, dalam ilmu agama yang dia yakini, hal itu penting dilakukan.
"Ini penting bagi saya karena dia sudah meminta maaf. Namun untuk langkah hukum masih kami rapatkan ke depannya," jelas Purwo.
Sebelumnya diberitakan, seorang pria yang disebutkan sebagai alumnus PTN dan dosen universitas swasta Islam di Jogja tengah ramai diperbincangkan publik karena melakukan kekerasan seksual secara tak langsung pada puluhan wanita. Pria bernama Bambang Arianto ini menggunakan kedok riset bertukar pasangan atau swinger untuk memuaskan fantasi seksualnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
Pertamina menargetkan pabrik hidrogen hijau pertama di PLTP Ulubelu, Lampung, mulai beroperasi pada November 2026.
Polresta Banyumas memeriksa sedikitnya 10 saksi untuk mengusut ambruknya tribun VIP Drift Speed Fest yang melukai sekitar 83 penonton.
Galaxy Watch Ultra2, smartwatch yang memadukan fitur pendukung aktivitas luar ruang dengan insight kesehatan berbasis AI melalui Samsung Health.
ESDM menyatakan Indonesia masih bertahan dalam survival mode menghadapi gejolak harga minyak dunia akibat konflik geopolitik.
KAI Daop 6 Jogja masih mencatat 14 pelintasan liar hingga Juli 2026. Delapan titik ditutup tahun ini, total 42 perlintasan ditutup sejak 2023.
Survei SMRC menunjukkan hanya 15,7% masyarakat menilai ekonomi Indonesia baik, sementara penilaian negatif terhadap ekonomi dan hukum meningkat.