43.000 Anak Keracunan MBG, Ibu-Ibu Jogja Kembali Gelar Aksi Pukul Panci
Ibu-ibu Jogja kembali menggelar aksi pukul panci dari Tugu ke UGM, menyoroti 43 ribu korban keracunan MBG dan kebijakan pemerintah.
Warga RW 09 Kelurahan Wirobrajan mengikuti praktik pengolahan sampah plastik menjadi aneka kerajinan dalam pelatihan daur ulang sampah di Wirobrajan, Kota Jogja, Selasa (8/9/2026). (Ist/ Kelurahan Wirobrajan)
Harianjogja.com, JOGJA—Warga RW 09 Kelurahan Wirobrajan, Kemantren Wirobrajan, Kota Jogja, didorong tidak hanya memilah dan menjual sampah plastik, tetapi juga mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kelurahan Wirobrajan memperkuat pengelolaan sampah sejak dari tingkat rumah tangga. Sampah anorganik yang selama ini dikumpulkan melalui bank sampah mulai diarahkan untuk dimanfaatkan kembali menjadi berbagai produk.
Pelatihan pengolahan sampah secara rutin digelar oleh kelurahan. Salah satunya berlangsung di RW 09 pada Selasa (8/9/2026) dengan melibatkan kelompok warga dan forum bank sampah.
Dalam pelatihan tersebut, warga tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai pemilahan sampah, tetapi juga mempraktikkan pengolahan limbah plastik menjadi barang yang dapat digunakan kembali.
Sampah Plastik Didorong Jadi Produk Kreatif
Lurah Wirobrajan Seno Wibowo mengatakan keterlibatan warga menjadi kunci dalam menangani persoalan sampah. Menurutnya, kebiasaan memilah dan mendaur ulang perlu terus dibangun agar volume sampah yang keluar dari rumah tangga dapat ditekan.
Pengelolaan sampah, lanjutnya, juga tidak semata-mata berkaitan dengan persoalan lingkungan. Material bekas yang sebelumnya hanya dikumpulkan untuk dijual dapat dikembangkan menjadi produk kerajinan sehingga memiliki nilai tambah.
“Pengelolaan sampah yang kreatif dinilai tidak hanya mengurangi volume sampah di wilayah Wirobrajan, tetapi juga berpotensi membuka peluang usaha ekonomi kreatif bagi warga setempat,” ujar Seno di sela-sela pelatihan Selasa lalu.
Dorongan untuk mengolah sampah menjadi produk bernilai ekonomi tersebut sejalan dengan aktivitas Bank Sampah Wira Peni di RW 09. Bank sampah yang berdiri sejak 2015 itu telah membangun kebiasaan warga untuk mengumpulkan sampah anorganik dan kini memiliki sekitar 90 anggota.
Bank Sampah Wira Peni Punya 90 Anggota
Pengurus Bank Sampah Wira Peni, Riantiningsih, mengatakan penimbangan sampah dilakukan setiap tiga minggu. Dalam satu kali penimbangan, hasil penjualan sampah anorganik seperti kardus dan plastik biasanya mencapai sekitar Rp500.000 hingga Rp600.000.
Nilai hasil penjualan tersebut bahkan dapat meningkat setelah Lebaran seiring bertambahnya volume sampah rumah tangga. Uang hasil penjualan kemudian dimanfaatkan melalui mekanisme simpan pinjam PKK sebelum sebagian dicairkan menjelang Idulfitri.
“Uang hasil penimbangan diputar untuk simpan pinjam, jadi manfaatnya berlipat,” ujar Rianti.
Dengan mekanisme tersebut, sampah yang dikumpulkan warga tidak hanya memberikan manfaat melalui hasil penjualan material bekas. Perputaran dana juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga melalui kegiatan simpan pinjam.
Kini, pengelolaan sampah plastik di RW 09 diarahkan memiliki tahapan pemanfaatan yang lebih panjang. Warga mulai dikenalkan dengan teknik mengolah material seperti tutup botol dan kantong plastik bekas menjadi berbagai kerajinan.
Produk yang dibuat antara lain wadah serbaguna dan barang dekoratif. Dengan demikian, sebagian sampah plastik tidak langsung berakhir sebagai material yang dijual, tetapi dapat terlebih dahulu diolah menjadi barang dengan nilai guna.
Pengelolaan Sampah Berbasis Warga
Keberadaan Bank Sampah Wira Peni yang telah berjalan sejak 2015 menjadi modal bagi pengembangan pengelolaan sampah berbasis warga di RW 09.
Dengan sistem pengumpulan dan penimbangan yang sudah berjalan, warga kini didorong meningkatkan pemanfaatan sampah melalui keterampilan pengolahan. Kelurahan Wirobrajan berharap langkah tersebut dapat memperpanjang manfaat sampah sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif.
Prinsip reduce, reuse, dan recycle juga diharapkan tidak berhenti sebagai gerakan sesaat. Kebiasaan memilah, menggunakan kembali, dan mendaur ulang sampah diharapkan menjadi bagian dari aktivitas pengelolaan sampah sehari-hari warga Wirobrajan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ibu-ibu Jogja kembali menggelar aksi pukul panci dari Tugu ke UGM, menyoroti 43 ribu korban keracunan MBG dan kebijakan pemerintah.
Kemenhub mendirikan posko darurat di Pelabuhan Trisakti untuk menangani insiden Kapal Virgo Transport 8 yang hilang kontak di Masalembo.
DPRD DIY mendorong penanganan kekeringan melibatkan seluruh OPD, tidak hanya BPBD, dengan dukungan koordinasi dan anggaran memadai.
Debit Sungai Tinalah Kulonprogo surut saat kemarau. Kondisi ini membuat wisata keceh diminati, tetapi wisatawan diminta tetap waspada.
Kejagung mengungkap Ferry Boboho mengembalikan Rp5 miliar pada Agustus 2026. Uang itu bagian dari Rp40 miliar Tan Kian.
DKP DIY menggelar Gita Laut 2026 di Pantai Congot untuk menjaga sumber daya pesisir dan melibatkan generasi muda dalam sektor kelautan.