Satpol PP Bantul Temukan 2.704 Batang Rokok Ilegal di Sanden
Satpol PP Bantul menemukan 2.704 batang rokok ilegal di dua warung di Sanden dalam operasi bersama Bea Cukai Yogyakarta.
Warga Kembangputihan, Bantul, mengolah sisa dapur menjadi pakan maggot. Hasil penjualan maggot dimasukkan ke kas untuk kegiatan warga. /Harian Jogja-Kiki Luqman.
Harianjogja.com, BANTUL—Sisa makanan dan olahan dapur warga Perumahan Pringgading Permai, Kembangputihan, Guwosari, Pajangan, Bantul, kini punya nilai ekonomi. Sampah organik yang telah dipilah dimanfaatkan sebagai pakan dalam budidaya maggot Plasma Masayu atau Maggot Sayur Rukun.
Budidaya tersebut berada di Gelanggang Diponegoro, lingkungan RT 005 Kembangputihan. Program ini sekaligus menjadi bagian dari upaya warga mengurangi sampah organik rumah tangga yang setiap hari dihasilkan.
Ketua RT 005 Kembangputihan, Taufiq Hermawan, mengatakan tujuan utama budidaya maggot bukan semata-mata mencari pendapatan. Warga sejak awal menjadikan program tersebut sebagai solusi untuk mengolah sampah organik dari rumah tangga.
"Tujuan utama adanya budidaya maggot tidak hanya untuk mencari income saja walaupun maggot itu ada nilai jualnya lebih, tapi tujuan maggot ini kita memang utamanya untuk menyelesaikan sampah organik yang ada di Perumahan Pringgading Permai," kata Taufiq, Kamis (26/8/2026).
Sampah Dapur Jadi Pakan Maggot
Taufiq menjelaskan Plasma Masayu merupakan bagian dari sistem inti plasma budidaya maggot yang bekerja sama dengan TPS 3R Guwosari. Program tersebut mendapat pendampingan dari PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) dan Bosper Ceng bersama Kalurahan Guwosari.
Dalam skema ini, warga berperan sejak dari sumber sampah. Sisa pengolahan dapur dipilah dari rumah sebelum dikumpulkan untuk kemudian digunakan sebagai pakan maggot.
Pengumpulan sampah organik dilakukan warga pada pagi, siang, maupun sore hari. Sampah yang terkumpul selanjutnya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pakan maggot yang dibudidayakan dalam enam biopond.
Volume sampah yang dihasilkan warga juga cukup besar. Secara kasar, setiap rumah dapat menghasilkan sekitar 500 gram atau setengah kilogram sisa olahan dapur dalam sehari.
Jika dikumpulkan selama sepekan, volume sampah organik tersebut bisa mencapai sekitar 75 hingga 80 kilogram, meski jumlahnya bergantung pada produksi sampah dari masing-masing warga.
"Kalau kurang lebih dalam satu minggu bisa sampah sisa olahan dapur itu terkumpul sekitar 75 sampai 80 kilo. Tergantung memang dari warga," ujarnya.
Hasil Penjualan Masuk Kas Warga
Selain membantu mengurangi sampah yang dibuang, budidaya maggot juga memberikan manfaat ekonomi bagi lingkungan. Maggot yang telah tumbuh besar dijual kembali melalui TPS 3R sebagai bagian dari skema kerja sama inti plasma.
Hasil penjualan tersebut tidak langsung dibagikan sebagai pendapatan pribadi warga. Uang yang diperoleh dikumpulkan dalam kas untuk kemudian dimanfaatkan kembali bagi kebutuhan masyarakat.
"Maggot yang sudah besar kita jual lagi, kita jual ke TPS lagi untuk hasilnya nanti kita masukkan ke kas dan hasil dari kas itu nanti kita kembalikan lagi ke masyarakat untuk subsidi silang kegiatan yang ada di masyarakat," jelas Taufiq.
Dari sisi nilai jual, maggot hasil budidaya warga dapat mencapai harga sekitar Rp10.000 per kilogram. Dalam satu kali panen, Plasma Masayu mampu menghasilkan sekitar 25 kilogram maggot.
"Kalau dalam satu kilonya harga maggot itu bisa terjual Rp10.000. Sekali panen kita bisa di 25 kilogram," kata Taufiq.
Artinya, dalam satu kali panen terdapat potensi nilai penjualan sekitar Rp250.000 sebelum memperhitungkan biaya atau komponen lain dalam pengelolaan budidaya.
Program Plasma Masayu pun membentuk rantai pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Warga memilah sampah dari rumah, sisa dapur digunakan sebagai pakan, kemudian maggot yang telah berkembang dijual dan hasilnya dikembalikan untuk mendukung kegiatan warga.
Taufiq menekankan konsistensi warga dalam memilah sampah menjadi kunci keberlangsungan program. Sampah organik yang dipisahkan sejak dari rumah akan lebih mudah dikumpulkan dan dimanfaatkan sebagai pakan maggot.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Satpol PP Bantul menemukan 2.704 batang rokok ilegal di dua warung di Sanden dalam operasi bersama Bea Cukai Yogyakarta.
Kuota LPG 3 kg 2026 diproyeksi jebol. Kementerian ESDM memperkirakan konsumsi mencapai 8,67 juta ton atau 108,46% dari kuota.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY mendorong pelajar Sekolah Rakyat untuk membangun kebiasaan menabung sekaligus meningkatkan literasi keuangan
Sleman memperbaiki 32 saluran irigasi dengan dukungan APBN untuk menjaga kebutuhan air pertanian saat puncak musim kemarau.
Kelanjutan Jalan Plono-Nglinggo Kulonprogo belum pasti karena anggaran pusat. Warga Pagerharjo menanti pembangunan sepanjang 2 kilometer lebih.
Kementerian ATR/BPN meluncurkan tiga kebijakan baru pertanahan: pengukuran terjadwal, peralihan hak terintegrasi, dan organisasi berbasis wilayah.