Kemiskinan DIY Satu Digit, Turun Tertinggi se-Jawa pada Maret 2026
Kemiskinan DIY turun menjadi 9,70% pada Maret 2026, tertinggi penurunannya di Jawa. Penduduk miskin berkurang menjadi 408.870 jiwa.
Foto ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), untuk program Waste to Energy atau Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL). Foto dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, JOGJA— Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY menyiapkan sejumlah opsi untuk memastikan pasokan sampah bagi proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan TPA Piyungan. Jika pasokan dari wilayah DIY belum mencukupi, sampah dari Jawa Tengah (Jateng) menjadi salah satu alternatif yang dipertimbangkan.
PSEL yang direncanakan berlokasi di dekat TPA Piyungan, Bantul, tersebut diproyeksikan mampu mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari. Pada tahap awal, sampah akan dipasok dari tiga wilayah yang tergabung dalam kawasan Kartamantul, yakni Kota Jogja, Sleman, dan Bantul.
Kepala DLHK DIY Kusno Wibowo mengatakan potensi timbulan sampah di DIY saat ini hampir mencapai 2.000 ton per hari. Namun, sebagian sampah telah ditangani melalui berbagai fasilitas pengolahan, termasuk Tempat Pengolahan Sampah Reuse, Reduce, Recycle (TPS3R).
"Sampah di DIY hampir 2.000 ton per hari. Mudah-mudahan nanti dua kabupaten kota Gunungkidul dan Kulonprogo nanti juga bisa ikut dalam program ini ke depannya, kalau sekarang ini kan mereka masih bisa mengelola sampahnya sendiri," ujar Kusno.
PSEL Piyungan Tak Kenakan Tipping Fee
Kusno menjelaskan daerah yang mengirimkan sampah ke fasilitas PSEL tidak akan dikenakan tipping fee. Pemerintah daerah hanya perlu memastikan sampah diangkut menuju lokasi pengolahan.
Salah satu kemudahan yang disiapkan adalah sampah yang dikirim ke PSEL tidak harus melalui proses pemilahan terlebih dahulu. Dengan demikian, pemerintah daerah tidak perlu melakukan proses pemilahan sebelum mengirimkan sampah ke fasilitas tersebut.
Meski kebutuhan pasokan PSEL diperkirakan dapat dipenuhi dari wilayah DIY, DLHK tetap menyiapkan skenario apabila terjadi kekurangan sampah.
Kusno mengatakan Gunungkidul dan Kulonprogo akan menjadi sumber pasokan tambahan yang diprioritaskan apabila pasokan dari wilayah Kartamantul belum memenuhi kebutuhan.
"Misal defisit kurang di Gunungkidul, Kulonprogo diambil dulu. Kalau masih kurang lagi bisa Magelang, Purworejo dan Klaten," lanjutnya.
Dengan skema tersebut, pasokan PSEL nantinya tidak hanya bergantung pada satu kawasan. Sampah dari sejumlah daerah di DIY hingga wilayah Jateng berpotensi menjadi bahan baku apabila kebutuhan pengolahan belum terpenuhi.
DPRD DIY Dorong Serapan Tenaga Kerja Lokal
Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD DIY Nur Subiyantoro menyambut rencana PSEL sebagai bagian dari program hilirisasi yang dapat memberikan dampak ekonomi bagi daerah.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu menangkap peluang dari program tersebut agar keberadaan fasilitas pengolahan sampah tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
"Sehingga menurut saya daerah harus bisa menangkap ini. Karena kan nanti pusat sudah punya beberapa program yang nanti juga tentu Danantara sendiri meng-guidance," paparnya.
Nur mendorong Pemda DIY serius mempersiapkan pelaksanaan program tersebut. Selain memastikan aspek pengelolaan sampah berjalan baik, ia menilai penyerapan tenaga kerja lokal perlu menjadi perhatian.
Menurutnya, keberadaan proyek PSEL semestinya memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di sekitar wilayah proyek. Tenaga kerja dari daerah perlu dioptimalkan sebelum mencari pekerja dari luar wilayah.
"Artinya di daerah itu sendiri, jangan mengimpor dari luar daerah dulu. Optimalkan tenaga kerja yang di daerah," lanjutnya.
Pengembangan PSEL di kawasan Piyungan diharapkan menjadi salah satu solusi untuk menangani persoalan sampah di DIY. Dengan kebutuhan pengolahan mencapai sekitar 1.000 ton per hari, ketersediaan pasokan menjadi salah satu faktor penting agar fasilitas tersebut dapat beroperasi secara optimal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kemiskinan DIY turun menjadi 9,70% pada Maret 2026, tertinggi penurunannya di Jawa. Penduduk miskin berkurang menjadi 408.870 jiwa.
Karhutla Gunung Bromo di kawasan TNBTS berhasil dipadamkan. Luas area terbakar mencapai 1.120 hektare di empat kabupaten.
Purbaya menyebut penerimaan bea keluar emas nyaris nol. Dari target Rp3 triliun 2026, realisasi hingga Semester I baru 0,03%.
RSUD Panembahan Senopati Bantul meluncurkan Si Banter untuk mempermudah pembayaran tagihan rumah sakit melalui digitalisasi dan QRIS.
Prabowo menyebut Indonesia menghabiskan hingga Rp535 triliun per tahun untuk impor BBM. Pemerintah mendorong kendaraan listrik dan EBT.
Cek desil bansos 2026 lewat HP menggunakan NIK. Kenali 5 desil prioritas PKH, BPNT, Sembako, dan BLT Kesra Rp900.000.