Gelombang Tinggi Sumbat Aliran Air, 55 Ha Lahan di Kretek Terendam

Kiki Luqman
Kiki Luqman Kamis, 13 Agustus 2026 15:07 WIB
Gelombang Tinggi Sumbat Aliran Air, 55 Ha Lahan di Kretek Terendam

Kepala DKPP Bantul Joko Waluyo meninjau lokasi genangan, Rabu (12/8) sore. Dok DKPP\r\n\r\n

Harianjogja.com, BANTUL— Gelombang tinggi kembali menyebabkan aliran air tersumbat dan memicu genangan di kawasan pertanian Kapanewon Sanden dan Kretek, Bantul. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul kembali menyiapkan alat berat untuk membuka saluran yang tertutup material pasir.

Genangan tersebut berdampak pada lahan pertanian seluas sekitar 55 hektare. Kondisi itu kembali terjadi setelah gelombang besar menerjang kawasan pesisir pada Rabu (12/8) malam.

Kepala DKPP Bantul, Joko Waluyo, mengatakan saluran yang sebelumnya tersumbat sebenarnya sudah dibuka dan penanganannya selesai sekitar magrib pada Rabu (12/8).

Namun, gelombang besar kembali datang pada malam harinya. Material yang terbawa gelombang kemudian kembali menutup aliran air.

"Ya itu kan sudah dibuka kemarin, selesai sekitar magrib. Setelah itu tadi malam terjadi gelombang besar lagi. Akhirnya tertutup lagi, tersumbat lagi. Hari ini mau dibuka lagi," kata Joko, Kamis (13/8).

DKPP Kembali Kerahkan Alat Berat

Untuk membuka saluran yang kembali tertutup, DKPP Bantul menggunakan alat berat jenis backhoe excavator atau beko. Menurut Joko, kondisi penyumbatan tidak cukup ditangani secara manual sehingga membutuhkan alat berat.

Meski saluran kembali tersumbat akibat gelombang tinggi pada Rabu malam, luas lahan yang terdampak tidak bertambah dibandingkan kondisi sebelumnya.

"Ndak, ndak. Sama. Sama kayak kemarin," ujarnya.

Dari sekitar 55 hektare lahan yang tergenang, sekitar 50 hektare merupakan lahan tanaman padi, sedangkan lima hektare lainnya merupakan lahan bawang merah.

Pasir Tutup Aliran Air

Genangan di kawasan tersebut bukan kejadian pertama. Joko mengatakan persoalan serupa memang rutin terjadi setiap tahun, terutama ketika memasuki periode gelombang tinggi sekitar Agustus hingga September.

Gelombang laut membawa material pasir yang kemudian menumpuk dan menutup aliran. Kondisi tersebut membuat air tidak dapat mengalir keluar dengan lancar.

"Ya itu memang bulan Agustus, September itu kan gelombang tinggi. Gelombang tinggi itu membawa pasir. Pasir lembut itu akhirnya akan menutupi itu," jelasnya.

Karena persoalan tersebut berkaitan dengan kondisi pesisir dan gelombang laut, Joko mengatakan penanganan jangka panjang berada di luar kewenangan DKPP Bantul.

Untuk sementara, DKPP Bantul fokus menangani genangan yang berdampak langsung terhadap lahan pertanian. Penggunaan alat berat untuk membuka saluran juga bukan hal baru karena langkah tersebut dilakukan setiap tahun ketika penyumbatan tidak dapat ditangani secara manual.

Genangan di Tirtohargo Masih Dipantau

Sementara itu, pemerintah Kalurahan Tirtohargo, Kapanewon Kretek, masih memantau perkembangan genangan. Perkiraan tambahan lahan terdampak sekitar 10 hektare yang disampaikan Sugiyamta belum menjadi angka final.

Lurah Tirtohargo Sugiyamta mengatakan genangan saat ini terlihat lebih meluas dibandingkan hari sebelumnya. Ia memperkirakan sekitar 10 hektare lahan terdampak, tetapi angka tersebut masih perlu diverifikasi.

"Iya air betambah besar mbak daripada yang kemarin, kisaran 10 hektar kalau hari ini yang terdampak, tapi belum valid ya masih perkiraan," kata Sugiyamta.

Dengan kondisi tersebut, total lahan yang terdampak masih sekitar 55 hektare berdasarkan data DKPP Bantul, sementara tambahan luasan di Tirtohargo masih dalam pemantauan dan belum menjadi angka final.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online