Panen Padi Pakai Galon Bekas, Pertanian Terpadu Tumbuh di Jogja

Newswire
Newswire Jum'at, 25 September 2026 22:57 WIB
Panen Padi Pakai Galon Bekas, Pertanian Terpadu Tumbuh di Jogja

Wakil Ketua DPD RI GKR Hemas bersama Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo memanen perdana padi dengan media tanam galon bekas di Wirobrajan, Kota Jogja,Jumat (25/9/2026)./Antara-Hery Sidik

Harianjogja.com, JOGJA— Keterbatasan lahan di tengah perkotaan tidak menghalangi kelompok tani di Jogja untuk mengembangkan pertanian. Kelompok Tani Swa Katon Asri di Wirobrajan memanfaatkan galon bekas sebagai media tanam padi dalam konsep pertanian terpadu.

Selain padi, kawasan tersebut juga dimanfaatkan untuk membudidayakan ikan lele dan berbagai jenis sayuran. Di antaranya cabai, tomat, terong, serta tanaman pangan lainnya.

Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan pemanfaatan lahan terbatas secara kreatif menjadi salah satu hal menarik dari kegiatan pertanian terpadu yang dikembangkan masyarakat.

"Yang menarik dari kegiatan ini adalah bagaimana masyarakat mampu menjawab keterbatasan lahan perkotaan yang kemudian bisa dimanfaatkan secara kreatif," kata Hasto seusai panen padi perdana pada media tanam galon bekas di Jogja, Jumat (25/9/2026).

Padi Ditanam di Galon Bekas

Menurut Hasto, Kelompok Tani Swa Katon Asri mampu mengembangkan kawasan pertanian terpadu di tengah wilayah perkotaan. Padi yang biasanya ditanam di sawah, dalam praktik tersebut dibudidayakan menggunakan galon bekas sebagai media tanam.

"Menanam padi dengan memanfaatkan galon bekas sebagai media tanam, kemudian dipadukan dengan budi daya ikan lele, serta aneka sayuran seperti cabai, tomat, terong, dan berbagai tanaman pangan lainnya," katanya.

Hasto menyebut hasil tanaman padi dengan media galon bekas bahkan dinilai lebih maksimal dibandingkan dengan sawah pada umumnya.

Dalam satu galon, tanaman padi disebut dapat menghasilkan 30 tangkai dengan total berat sekitar 100 gram atau satu ons.

"Kalau satu galon ini satu ons, maka kalau satu hektare ini diperkirakan minimal sembilan ton, sedangkan kalau panen di sawah biasa kadang-kadang satu hektarenya tujuh ton, tetapi ini per hektare bisa sembilan ton," katanya.

Jadi Solusi Ketahanan Pangan Kota

Pemanfaatan lahan perkotaan tersebut dinilai dapat menjadi salah satu solusi ketahanan pangan berbasis masyarakat. Pemkot Jogja berharap praktik yang dilakukan Kelompok Tani Swa Katon Asri dapat diterapkan kelompok tani lainnya.

Pemkot melalui dinas terkait juga siap memberikan pendampingan agar pengembangan pertanian terpadu dapat dilakukan secara lebih luas.

"Karena ini sebagai bagian dari ketahanan pangan berbasis masyarakat yang kemudian tidak kalah dengan apa yang ada di perdesaan atau di kabupaten lain di Daerah Istimewa Yogyakarta," katanya.

Konsep pertanian terpadu tersebut tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Pemkot Jogja juga berharap kegiatan itu dapat melibatkan ibu rumah tangga dan masyarakat sekitar sehingga hasilnya memberikan manfaat terhadap perekonomian keluarga.

Cabai Jadi Perhatian

Salah satu tanaman yang mendapat perhatian adalah cabai. Komoditas tersebut dinilai penting karena harganya kerap memengaruhi inflasi dan sering mengalami kenaikan.

"Saya kira menarik kalau semua dikerjakan dengan mandiri, sehingga bisa membantu ibu rumah tangga mengurangi beban ekonomi. Apalagi cabai itu mempengaruhi inflasi, harga cabai sering tinggi, dan cabai ini betul betul bagus, menurut saya sangat bisa menggantikan cabai di pasar," katanya.

Dengan memanfaatkan lahan terbatas, galon bekas, budi daya ikan, serta aneka tanaman pangan, pertanian terpadu di Wirobrajan menjadi salah satu contoh pemanfaatan ruang perkotaan untuk mendukung ketahanan pangan masyarakat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online