Nelayan Gunungkidul Mulai Panen Gurita, Sekali Melaut Dapat 15 Kg
Nelayan Gunungkidul mulai menangkap gurita. Sekali melaut, hasil tangkapan bisa mencapai 15 kilogram dengan harga hingga Rp100.000 per kilogram.
Salah seorang petani di Padukuhan Pucung, Planjan, Samijem, sedang berada di lahannya untuk melakukan pemeliharaan serta pengawasan guna menghalau serangan monyet, Kamis (5/11/2026)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Petani di Padukuhan Pucung, Kalurahan Planjan, Kapanewon Saptosari, Gunungkidul, menghadapi gangguan kawanan monyet ekor panjang saat musim tanam baru dimulai. Tanaman kacang tanah, jagung, hingga singkong yang baru ditanam sudah menjadi sasaran perusakan hewan liar tersebut.
Serangan itu membuat petani resah karena tanaman yang mulai tumbuh tidak bisa berkembang dengan baik. Sejumlah tanaman dicabut, sedangkan benih kacang tanah dan jagung yang ditanam juga digali untuk dimakan kawanan monyet.
Salah seorang petani di Padukuhan Pucung, Samijem, mengatakan hujan yang mulai turun dimanfaatkan warga untuk mengolah lahan dan memulai penanaman. Tanaman yang dipilih antara lain kacang tanah, jagung, dan singkong.
Menurut dia, sebagian tanaman sebenarnya sudah tumbuh dengan baik, ditandai dengan munculnya batang dan daun. Namun, pertumbuhan tersebut terganggu akibat serangan monyet ekor panjang.
“Sudah mulai ada yang tumbuh. Tapi, dirusak dengan cara dicabut. Untuk kacang atau jagung yang ditanam, juga ada yang digali dan kemudian dimakan oleh kawanan,” kata Samijem, Kamis (5/11/2026).
Samijem menjelaskan petani harus menjaga lahan untuk mengurangi risiko kerusakan yang lebih parah. Saat kawanan monyet datang, warga perlu segera mengusirnya agar tidak mendekati tanaman.
“Kalau tidak ditunggui, maka tanaman akan dirusak. Yang datang tidak hanya satu atau dua ekor, tapi jumlahnya bisa puluhan ekor,” katanya.
Serangan Monyet Jadi Ancaman Petani Planjan
Keluhan serupa disampaikan Sukamto, petani lain di Kalurahan Planjan. Ia mengatakan kawanan monyet ekor panjang sudah menjadi ancaman bagi warga karena kerap merusak lahan pertanian.
Bahkan, pada awal musim tanam kali ini, kawanan monyet kembali datang dan merusak tanaman milik petani.
“Seperti awal musim tanam ini, sudah ada kawanan monyet yang melakukan perusakan,” katanya.
Sukamto berharap pemerintah segera mengambil langkah penanganan agar serangan monyet bisa dicegah. Dengan begitu, petani dapat merawat tanaman hingga masa panen.
“Jangan dibiarkan karena sangat merugikan petani,” katanya.
DLH Gunungkidul Siapkan Program Vasektomi Monyet
Kepala Bidang Konservasi dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul, Hana Kadaton Adinoto, mengatakan penanganan gangguan monyet ekor panjang masih dalam tahap pengkajian.
Pihaknya sebelumnya telah mencoba melakukan pencegahan dengan memberikan pakan kepada kawanan monyet. Namun, upaya tersebut dinilai tidak efektif.
Sebagai alternatif, DLH Gunungkidul menyiapkan program vasektomi atau sterilisasi terhadap monyet jantan alfa yang menjadi pemimpin kawanan. Langkah ini diharapkan dapat menghambat perkembangbiakan monyet betina ketika memasuki masa reproduksi.
“Program sterilisasi menjadi opsi yang akan ditempuh untuk mengurangi populasi,” kata Adinoto.
Meski demikian, rencana tersebut masih dimatangkan bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY, Walhi, hingga Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Pembahasan antara lain mencakup mekanisme penangkapan monyet serta jumlah atau kuota yang akan ditangani.
“Kalau informasi awal, cara menangkap dilakukan dengan menggunakan jebakan. Tapi, konsep pastinya masih harus didiskusikan dengan pihak-pihak terkait,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Nelayan Gunungkidul mulai menangkap gurita. Sekali melaut, hasil tangkapan bisa mencapai 15 kilogram dengan harga hingga Rp100.000 per kilogram.
Petani di Saptosari, Gunungkidul, resah karena kawanan monyet ekor panjang merusak tanaman saat musim tanam baru dimulai.
Bantul terpilih mewakili Indonesia sebagai nominator UNESCO Creative Cities Network 2027 bidang kerajinan dan seni rakyat.
Dinkes Kulonprogo mencatat pemenuhan nakes di Puskesmas baru 53,02%. DPRD mendorong pemerataan tenaga kesehatan dan psikolog klinis.
BPS mencatat 147,99 juta penduduk bekerja pada Agustus 2026. Pertanian menjadi sektor penyerap tenaga kerja terbesar dengan 41,73 juta orang.
Kemenhub menyiapkan PPNS dan sistem ETLE HUB untuk menindak truk ODOL, termasuk pengemudi, perusahaan, pemilik kendaraan, dan barang.