1.000 Hektare Sawah di Bantul Terlambat Tanam, Ini Penyebabnya

Yosef Leon
Yosef Leon Jum'at, 06 November 2026 10:47 WIB
1.000 Hektare Sawah di Bantul Terlambat Tanam, Ini Penyebabnya

Foto ilustrasi lahan pertanian diguyur hujan, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, BANTUL—Petani di Kabupaten Bantul perlu menyesuaikan pola tanam setelah sekitar 1.000 hektare lahan pertanian mengalami kemunduran jadwal musim tanam pertama (MT 1) tahun ini. Keterlambatan tersebut terutama terjadi di kawasan tadah hujan yang belum memiliki pasokan air mencukupi karena musim penghujan belum turun secara merata.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul telah memetakan sejumlah wilayah yang mengalami pergeseran jadwal penanaman padi. Daerah yang masuk dalam pemetaan tersebut meliputi Kapanewon Dlingo, Imogiri bagian timur, Pleret, Pajangan, dan sebagian Piyungan.

Kepala DKPP Bantul, Joko Waluyo, mengatakan keterbatasan ketersediaan air menjadi penyebab utama petani belum dapat memulai penanaman sesuai jadwal. Kondisi ini terutama dijumpai di kawasan perbukitan serta lahan pertanian yang belum didukung jaringan irigasi memadai.

"Untuk musim tanam pada wilayah-wilayah tertentu memang agak terjadi kemunduran, terutama yang lahan tanam daerah tadah hujan, tapi persentasenya kecil" katanya, Jumat (6/11/2026).

Menurut Joko, sebagian besar lahan pertanian di Kapanewon Dlingo dan kawasan perbukitan Imogiri masih mengandalkan curah hujan untuk memenuhi kebutuhan air sebelum memulai penanaman. Ketergantungan tersebut membuat petani di wilayah itu harus menunggu ketersediaan air mencukupi.

Situasinya berbeda dengan kawasan yang memiliki pasokan air memadai. Petani di wilayah tersebut sudah mulai menanam padi sejak akhir Oktober lalu tanpa harus menunggu seluruh wilayah Bantul memasuki musim penghujan.

1.000 Hektare Lahan Terdampak di Bantul

DKPP Bantul memperkirakan luas lahan yang mengalami keterlambatan musim tanam mencapai sekitar 1.000 hektare. Jumlah tersebut berasal dari kawasan pertanian tadah hujan yang belum memiliki ketersediaan air cukup untuk mendukung kegiatan penanaman.

Jika dibandingkan dengan keseluruhan lahan pertanian di Kabupaten Bantul yang mencapai sekitar 13.000 hektare, luas lahan yang mengalami kemunduran jadwal tanam tersebut masih kurang dari 10 persen.

"Mungkin kurang lebih sekitar 1.000-an hektare lahan tanam yang mengalami kemunduran di wilayah tadah hujan. Jadi, kalau total luasan lahan di Bantul itu mencapai sekitar 13.000, kan itu tidak sampai 10 persennya," ujarnya.

Meski jumlahnya relatif kecil dibandingkan keseluruhan lahan pertanian, keterlambatan tersebut tetap menjadi perhatian DKPP. Joko menyebut pergeseran waktu penanaman berpotensi berdampak terhadap jadwal panen pada periode berikutnya.

Semakin mundur waktu petani memulai penanaman, semakin besar pula kemungkinan waktu panen ikut bergeser. Kondisi tersebut perlu diperhatikan terutama oleh petani yang berada di wilayah tadah hujan dan masih menunggu pasokan air untuk mengolah lahan.

DKPP pun meminta petani yang mengalami keterlambatan MT 1 segera mempersiapkan lahan untuk penanaman berikutnya setelah panen. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu petani mengejar target empat kali tanam dalam setahun.

"Namun petani di wilayah yang mengalami MT 1 mundur kami minta untuk segera menyiapkan lahan untuk ditanami kembali jika nanti sudah panen agar bisa mengejar empat kali tanam setahun," jelasnya.

Benih dan Pupuk untuk Petani Bantul Relatif Aman

Di tengah pergeseran jadwal tanam, DKPP Bantul memastikan ketersediaan sarana produksi pertanian masih relatif aman. Dua kebutuhan utama yang menjadi perhatian adalah benih padi dan pupuk untuk mendukung kegiatan pertanian.

Joko menjelaskan pasokan benih padi masih didukung melalui bantuan pemerintah. Bantuan tersebut menjadi salah satu penopang kebutuhan petani, termasuk di wilayah yang mengalami keterlambatan musim tanam.

Sementara itu, pemenuhan kebutuhan pupuk diharapkan tetap terjaga melalui program subsidi pupuk. DKPP menargetkan ketersediaan pupuk bagi petani masih berada dalam kondisi aman.

"Bantuan benih itu kan memang diberi, kalau pupuk memang target kami masih aman," kata Joko.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online