Hujan Mulai Turun, Petani Gunungkidul Diimbau Tak Buru-buru Menanam
Hujan mulai turun di Gunungkidul, tetapi petani diminta tidak terburu-buru menanam karena musim hujan diprediksi mulai Desember 2026.
Pelaksanaan bimbingan teknis tentang pengendalian hama dan penyakit pada tanaman pangan dan hortikultura di Balai Kalurahan Wunung, Wonosari, Sabtu (24/10/2026)./istimewa
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Petani di tiga kalurahan di Kapanewon Wonosari, Gunungkidul, mendapat pelatihan pengendalian hama dan penyakit tanaman pangan serta hortikultura dari Departemen Kimia FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM). Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan petani menghadapi gangguan tanaman sekaligus mendukung penguatan ketahanan pangan masyarakat.
Pelatihan yang digelar Laboratorium Kimia Organik, Departemen Kimia FMIPA UGM tersebut berlangsung di Balai Kalurahan Wunung, Sabtu (24/10/2026). Pesertanya merupakan petani dari Kalurahan Wunung, Duwet, dan Mulo.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Laboratorium Kimia Organik, Departemen Kimia FMIPA UGM, Deni Pranowo, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam mengenali serta menangani hama dan penyakit tanaman.
“Program ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen UGM dalam mendukung penguatan kapasitas masyarakat desa, peningkatan produktivitas pertanian, dan kesejahteraan petani,” kata Deni seperti dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Selasa (27/10/2026).
Deni menjelaskan serangan hama dan penyakit masih menjadi salah satu kendala dalam meningkatkan produktivitas tanaman pangan. Gangguan tersebut berpotensi mengurangi hasil panen sekaligus berdampak pada pendapatan petani.
Beberapa jenis gangguan yang menjadi perhatian dalam pelatihan antara lain penggerek daun, penggerek batang, serangan iguana mini yang invasif, serta penyakit patah leher pada tanaman padi.
Melalui kegiatan tersebut, petani diharapkan dapat mengenali gejala serangan sejak dini dan menentukan langkah penanganan yang sesuai. Pengendalian juga perlu memperhatikan prinsip pengelolaan organisme pengganggu tanaman secara terpadu dan berkelanjutan.
“Melalui pelatihan ini, para petani diharapkan mampu melakukan deteksi dini terhadap gangguan tanaman. Serta dapat menentukan tindakan pengendalian yang tepat, dengan tetap memperhatikan prinsip pengelolaan organisme pengganggu tanaman secara terpadu dan berkelanjutan,” katanya.
Kepala Laboratorium Kimia Organik, Departemen Kimia FMIPA UGM, Endang Astuti, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan setiap tahun.
Program itu menjadi salah satu upaya laboratorium untuk berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di Kalurahan Wunung, Duwet, dan Mulo.
“Melalui program desa binaan, Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM berupaya membangun hubungan berkelanjutan dengan masyarakat melalui kegiatan yang memberikan manfaat nyata sesuai kebutuhan dan permasalahan di lapangan,” katanya.
Endang berharap pelatihan tidak hanya menambah pemahaman petani mengenai pengendalian hama dan penyakit tanaman. Kegiatan tersebut juga diharapkan memperkuat kemampuan masyarakat dalam menentukan tindakan berdasarkan informasi dan pengetahuan yang tepat.
Penerapan teknik pengendalian yang sesuai diharapkan dapat menekan risiko kehilangan hasil panen, menjaga produktivitas tanaman, serta mendukung keberlanjutan usaha pertanian dan perkebunan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Hujan mulai turun di Gunungkidul, tetapi petani diminta tidak terburu-buru menanam karena musim hujan diprediksi mulai Desember 2026.
PSIM Jogja mengajukan banding atas sanksi 10 pertandingan Mauro Caballero terkait dugaan rasisme terhadap pemain Bhayangkara FC.
Marc Marquez menjadi yang tercepat di Practice MotoGP Malaysia 2026 meski terjatuh. Jorge Martin harus memulai kualifikasi dari Q1.
Banjir di Aceh Selatan merendam dua desa di Trumon Tengah. Sebanyak 112 warga dari 30 keluarga terpaksa mengungsi.
DPRD Kulon Progo mendorong pemerataan perbaikan jalan untuk memperlancar distribusi hasil pertanian, usaha UMKM, dan ekonomi warga.
Suara Ibu Indonesia Yogyakarta menyampaikan empat tuntutan kepada pemerintah dalam aksi kreatif di Titik Nol Kilometer Jogja.