Live Painting dan Nyanyi, Suara Ibu Indonesia Suarakan 4 Tuntutan

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Jum'at, 30 Oktober 2026 19:07 WIB
Live Painting dan Nyanyi, Suara Ibu Indonesia Suarakan 4 Tuntutan

Sejumlah warga ikut dalam aksi bersama Suara Ibu Indonesia Yogyakarta di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Jumat (30/10/2026)./Harian Jogja-Andreas Yuda Pramono

Harianjogja.com, JOGJA—Suara Ibu Indonesia Yogyakarta menyampaikan empat tuntutan kepada pemerintah melalui aksi di Titik Nol Kilometer Jogja, Jumat (30/10/2026). Dengan memanfaatkan pendekatan kreatif, termasuk live painting dan bernyanyi, kelompok tersebut mengajak masyarakat memperhatikan berbagai persoalan bangsa, mulai dari penanganan bencana, pemenuhan kebutuhan dasar, hingga kebebasan menyampaikan pendapat.

Dalam aksi tersebut, Suara Ibu Indonesia menyoroti pentingnya pengelolaan negara yang profesional dan berpihak kepada kepentingan masyarakat. Mereka juga meminta pemerintah menghentikan intimidasi terhadap warga serta menjamin ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik.

Juru Bicara Ibu Berisik, Siti Fauziah, menjelaskan empat tuntutan yang disampaikan dalam aksi tersebut. Tuntutan pertama berkaitan dengan perbaikan tata kelola pemerintahan, termasuk penanganan bencana yang dinilai membutuhkan keseriusan dan ketepatan langkah.

"Kami menuntut pemerintah bekerja selayaknya pengelolaan negara yang andal dan tidak serampangan. Tangani bencana dengan profesional, serius, cepat, dan tepat," kata Fauziah ditemui di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Jumat.

Empat Tuntutan Suara Ibu Indonesia kepada Pemerintah
Tuntutan kedua menyangkut prioritas penggunaan anggaran negara. Suara Ibu Indonesia meminta pemerintah mengarahkan belanja negara untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memenuhi hak-hak dasar masyarakat.

Menurut Fauziah, kebutuhan publik seperti udara bersih, layanan kesehatan, pendidikan, serta harga bahan pokok yang terjangkau harus menjadi perhatian dalam pengelolaan anggaran.

Dia menegaskan uang negara merupakan milik bersama. Oleh karena itu, penggunaannya harus mengutamakan kepentingan masyarakat luas, bukan menjadi sarana memperkaya kelompok elite.

Selanjutnya, tuntutan ketiga berkaitan dengan penghentian intimidasi dan mobilisasi warga sebagai aparat keamanan tidak berseragam. Perempuan yang akrab disapa Ozi tersebut meminta pemerintah tidak menciptakan pertentangan di tengah masyarakat.

"Setop intimidasi dan hentikan mobilisasi warga sebagai aparat keamanan tak berseragam. Jangan dibenturkan warga dengan warga," tegasnya.

Adapun tuntutan keempat adalah menjamin kebebasan berpendapat dan menghentikan sensor terhadap suara masyarakat di media sosial. Fauziah menilai masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan kritik maupun aspirasi tanpa pembatasan.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan bahwa kekuasaan merupakan amanah yang berasal dari rakyat. Karena itu, pejabat pemerintah semestinya menjalankan tanggung jawab kepemimpinan dengan bijaksana.

"Yang punya negara itu kami semua ini. Kamu [pejabat] diamanahi supaya bisa memimpin dengan bijaksana," ucapnya.

Fauziah, yang dikenal sebagai pemeran Bu Tejo dalam film Tilik (2020), menambahkan gerakan Suara Ibu Indonesia terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung.

Aksi di Titik Nol untuk Mengedukasi Wisatawan Malioboro
Selain menyampaikan tuntutan kepada pemerintah, pemilihan Titik Nol Kilometer sebagai lokasi aksi juga memiliki tujuan tersendiri. Aktivis Suara Ibu Indonesia Yogyakarta, Gernata Titi, mengatakan kawasan tersebut dipilih sebagai ruang untuk memperluas penyampaian pesan kepada masyarakat, termasuk wisatawan yang berkunjung ke Malioboro.

Menurut Gernata, aksi tersebut ingin mengajak wisatawan menyadari kondisi bangsa, khususnya situasi ekonomi yang mereka anggap sedang genting.

Ia melihat masih ada masyarakat yang beraktivitas di kawasan wisata Malioboro tanpa banyak memperhatikan persoalan yang tengah terjadi di negara.

“Orang ke Malioboro itu kalau saya lihat kok merasa biasa terhadap situasi kondisi bangsa. Kami ingin membawa kesadaran ini [situasi genting ekonomi] lebih luas kepada masyarakat,” kata Gernata Titi.

Melalui kegiatan tersebut, Suara Ibu Indonesia Yogyakarta berupaya menjangkau masyarakat yang lebih luas. Aksi dengan pendekatan kreatif di ruang publik itu sekaligus menjadi sarana menyampaikan empat tuntutan mereka, mulai dari perbaikan tata kelola negara hingga perlindungan kebebasan berpendapat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online