Omzet IKM Kota Jogja Tembus Rp4.018 Triliun, Serap 40.905 Pekerja

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Rabu, 28 Oktober 2026 20:37 WIB
Omzet IKM Kota Jogja Tembus Rp4.018 Triliun, Serap 40.905 Pekerja

Foto ilustrasi kerajinan. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Perputaran uang atau omzet Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Kota Jogja mencapai Rp4.018 triliun berdasarkan pengolahan data IKM 2024. Sektor ini juga berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja, dengan jumlah pekerja mencapai 40.905 orang berdasarkan data Online Single Submission Risk Based Approach (OSS RBA) 2025.

Meski memiliki potensi ekonomi dan penyerapan tenaga kerja yang besar, pengembangan IKM di Kota Jogja masih menghadapi sejumlah kendala. Tantangan tersebut mencakup ketersediaan bahan baku, keterbatasan akses permodalan, hingga belum optimalnya penyerapan produk di pasar domestik.

Kepala Tim Kerja Pembinaan Standarisasi Industri Bidang Industri Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM Kota Jogja, Heri Karuniawan, menjelaskan tantangan tersebut masih perlu mendapat perhatian dalam upaya pengembangan sektor IKM.

Jumlah KBLI IKM Kota Jogja Terus Bertambah

Data OSS RBA mencatat jumlah klasifikasi baku lapangan usaha Indonesia (KBLI) mencapai 16.712 hingga akhir Desember 2025. Angka tersebut meningkat menjadi 18.503 KBLI hingga akhir September 2026.

Namun, jumlah KBLI tidak bisa langsung disamakan dengan jumlah unit usaha. Berdasarkan data OSS RBA, jumlah IKM di Kota Jogja pada 2025 tercatat sebanyak 15.509 unit usaha. Sebagian pelaku IKM memiliki lebih dari satu KBLI, termasuk terdapat 112 KBLI industri skala besar.

Jika merujuk pada data IKM 2022, industri makanan olahan menjadi sektor yang paling dominan dengan proporsi 56,94%. Posisi berikutnya ditempati industri pakaian jadi dari tekstil sebesar 10,01%, kerajinan 4,60%, dan batik 3,52%.

Komposisi tersebut menunjukkan industri makanan olahan menjadi bagian terbesar dalam struktur IKM Kota Jogja berdasarkan data tahun tersebut.

Pasokan Bahan Baku Masih Jadi Tantangan

Salah satu persoalan yang dihadapi pelaku IKM adalah ketersediaan bahan baku. Kondisi geografis Kota Jogja yang bukan daerah penghasil sumber daya alam membuat kebutuhan industri banyak bergantung pada pasokan dari wilayah lain.

“Kota Jogja bukan daerah penghasil sumber daya alam sehingga sebagian besar kebutuhan bahan baku industri dipasok dari daerah lain,” kata Heri saat dihubungi, Rabu (28/10/2026).

Ketergantungan pada pasokan dari luar daerah menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan IKM. Selain bahan baku, pelaku usaha mikro dan kecil juga menghadapi kendala dalam memperoleh modal untuk menjalankan dan mengembangkan bisnis.

Menurut Heri, meskipun lembaga jasa keuangan menawarkan pembiayaan, sebagian pelaku IKM masih kesulitan memenuhi persyaratan untuk mendapatkan akses permodalan.

Pemasaran Produk IKM Belum Optimal

Tantangan lain berkaitan dengan penyerapan produk IKM oleh pasar domestik. Pemanfaatan produk lokal melalui hotel, restoran, dan tempat wisata di Kota Jogja dinilai belum optimal.

Padahal, hubungan antara pelaku IKM dan sektor pariwisata dapat dikembangkan melalui skema link and match atau business matching. Skema ini dinilai dapat mempertemukan kebutuhan sektor pariwisata dengan produk yang dihasilkan pelaku usaha lokal, sekaligus memperluas akses pasar.

Untuk mendukung pengembangan industri, Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM Kota Jogja menjalankan tiga program. Ketiganya meliputi Program Perencanaan dan Pembangunan Industri, Program Pengendalian Izin Usaha Industri, serta Program Pengelolaan Sistem Informasi Industri Nasional.

Berbagai tantangan tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan IKM Kota Jogja. Penguatan akses bahan baku, kemudahan memperoleh modal, dan perluasan pemasaran diharapkan dapat mendukung potensi ekonomi sektor industri yang mencatatkan omzet Rp4.018 triliun berdasarkan data 2024 tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online