Polisi Tangkap Demonstran di DPRD DIY, Massa Aksi Diserang Kelompok Tak Dikenal
Polda DIY mengamankan sejumlah demonstran saat aksi di DPRD DIY pada Selasa (20/10/2026). Polisi menyebut terjadi pelemparan batu dan petasan.
Foto ilustrasi sampah organik. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Kelompok Pemilah Depo Pengok, Kota Jogja, belum mampu memenuhi permintaan sampah organik untuk pakan ikan yang berasal dari pengelola kolam pemancingan. Keterbatasan pasokan bahan baku menjadi kendala di tengah adanya pasar yang membutuhkan hasil pemilahan sampah tersebut.
Ketua Kelompok Pemilah Depo Pengok, Benediktus Bono, mengatakan salah satu calon pembeli membutuhkan hingga 70 ember sampah organik setiap pekan. Namun, kelompoknya belum sanggup memenuhi permintaan tersebut.
“Harapannya seminggu minta 70 ember. Cuma kita enggak bisa melayani,” kata Bono saat ditemui di sela-sela aktivitas pemilahan sampah di Depo Pengok, Senin (26/10/2026).
Bono menjelaskan kelompoknya mengolah sekitar 500 kilogram sampah organik dalam dua hari. Bahan baku itu dikumpulkan melalui gerobak pengangkut sampah yang membawa sampah rumah tangga, restoran, dan warung.
Meski sampah yang masuk telah dipisahkan, proses pemilahan masih harus dilakukan kembali di depo. Langkah ini diperlukan untuk memastikan sampah yang dimanfaatkan sebagai pakan tidak tercampur plastik atau material lain yang tidak sesuai.
“Di dalam plastik itu mesti ada plastik, ada macam-macam, ada daun. Kami pilah, kami singkirkan betul-betul yang untuk pakan,” katanya.
Sampah Organik Disalurkan ke Pemancingan dan Peternak
Sampah organik yang sudah dipilah kemudian dijual kepada pihak yang membutuhkan, terutama pengelola kolam pemancingan dan peternak unggas. Bono mengatakan kelompoknya telah memiliki pasar untuk hasil pemilahan tersebut, tetapi pasokan bahan baku belum mencukupi permintaan.
Hasil penjualan dikelola bersama untuk memenuhi kebutuhan kelompok. Sebagian dana disimpan dan dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan kelompok, termasuk kontribusi kepada Paguyuban Depo Pengok serta perbaikan fasilitas.
Bono menuturkan kegiatan pemilahan tersebut bermula dari upaya mencari solusi agar sampah basah tidak terbuang sia-sia. Menurut dia, sampah jenis tersebut tidak bisa dibuang ke tempat pembuangan di TPA Piyungan sehingga kelompoknya berinisiatif memilah dan mengolahnya agar tetap bermanfaat.
“Kan tidak bisa dibuang ke sana yang basah-basah begini. Terus bagaimana caranya biar masih tidak terbuang dan bermanfaat. Nah, kami terus melakukan pemilahan,” ucapnya.
Pasokan dari Demangan dan Klitren
Transporter Depo Pengok, Ufiani, menjelaskan pasokan sampah organik yang dikelola depo antara lain berasal dari Kelurahan Demangan dan Klitren. Sampah tersebut dikumpulkan dari penggerobak menggunakan ember yang disediakan kelurahan untuk menampung sampah yang telah dipilah.
“Kalau dari penggerobak sudah dipisah di ember-ember. Kalau sudah penuh satu ember baru dikirim ke kami,” kata Ufiani.
Sampah organik yang terkumpul kemudian disalurkan kepada pihak yang membutuhkan. Salah satu tujuan pengiriman berada di kawasan Jalan Wonosari.
Dalam skema tersebut, pihak depo membeli sampah organik seharga Rp10.000 per ember dan menjualnya kembali dengan harga Rp16.000 per ember. Selisih Rp6.000 per ember itu mencakup proses pemilahan di tingkat depo dan biaya transportasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polda DIY mengamankan sejumlah demonstran saat aksi di DPRD DIY pada Selasa (20/10/2026). Polisi menyebut terjadi pelemparan batu dan petasan.
Cek jadwal perpanjangan SIM A dan C di Kulonprogo pada 27 Oktober 2026, lengkap dengan lokasi layanan dan dokumen persyaratan.
Kelompok Pemilah Depo Pengok, Jogja, belum mampu memenuhi permintaan sampah organik untuk pakan ikan hingga 70 ember per minggu.
Cek jadwal layanan SIM Gunungkidul, Selasa 27 Oktober 2026, lengkap dengan lokasi pelayanan, syarat perpanjangan, dan ketentuan SIM kedaluwarsa.
Putri Kus Wisnu Wardani menerima Fellowship Award dari FIHRA sebagai apresiasi atas pengabdian dan kontribusinya terhadap ketahanan kesehatan Indonesia.
Bulog melelang 380.000 ton beras turun mutu untuk diolah menjadi tepung. UMKM di seluruh Indonesia diprioritaskan melalui lelang nasional.