Permintaan Pakan Ikan Tinggi, Depo Pengok Jogja Kekurangan Sampah Organik

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Selasa, 27 Oktober 2026 07:17 WIB
Permintaan Pakan Ikan Tinggi, Depo Pengok Jogja Kekurangan Sampah Organik

Foto ilustrasi sampah organik. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Kelompok Pemilah Depo Pengok, Kota Jogja, belum mampu memenuhi permintaan sampah organik untuk pakan ikan yang berasal dari pengelola kolam pemancingan. Keterbatasan pasokan bahan baku menjadi kendala di tengah adanya pasar yang membutuhkan hasil pemilahan sampah tersebut.

Ketua Kelompok Pemilah Depo Pengok, Benediktus Bono, mengatakan salah satu calon pembeli membutuhkan hingga 70 ember sampah organik setiap pekan. Namun, kelompoknya belum sanggup memenuhi permintaan tersebut.

“Harapannya seminggu minta 70 ember. Cuma kita enggak bisa melayani,” kata Bono saat ditemui di sela-sela aktivitas pemilahan sampah di Depo Pengok, Senin (26/10/2026).

Bono menjelaskan kelompoknya mengolah sekitar 500 kilogram sampah organik dalam dua hari. Bahan baku itu dikumpulkan melalui gerobak pengangkut sampah yang membawa sampah rumah tangga, restoran, dan warung.

Meski sampah yang masuk telah dipisahkan, proses pemilahan masih harus dilakukan kembali di depo. Langkah ini diperlukan untuk memastikan sampah yang dimanfaatkan sebagai pakan tidak tercampur plastik atau material lain yang tidak sesuai.

“Di dalam plastik itu mesti ada plastik, ada macam-macam, ada daun. Kami pilah, kami singkirkan betul-betul yang untuk pakan,” katanya.

Sampah Organik Disalurkan ke Pemancingan dan Peternak

Sampah organik yang sudah dipilah kemudian dijual kepada pihak yang membutuhkan, terutama pengelola kolam pemancingan dan peternak unggas. Bono mengatakan kelompoknya telah memiliki pasar untuk hasil pemilahan tersebut, tetapi pasokan bahan baku belum mencukupi permintaan.

Hasil penjualan dikelola bersama untuk memenuhi kebutuhan kelompok. Sebagian dana disimpan dan dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan kelompok, termasuk kontribusi kepada Paguyuban Depo Pengok serta perbaikan fasilitas.

Bono menuturkan kegiatan pemilahan tersebut bermula dari upaya mencari solusi agar sampah basah tidak terbuang sia-sia. Menurut dia, sampah jenis tersebut tidak bisa dibuang ke tempat pembuangan di TPA Piyungan sehingga kelompoknya berinisiatif memilah dan mengolahnya agar tetap bermanfaat.

“Kan tidak bisa dibuang ke sana yang basah-basah begini. Terus bagaimana caranya biar masih tidak terbuang dan bermanfaat. Nah, kami terus melakukan pemilahan,” ucapnya.

Pasokan dari Demangan dan Klitren

Transporter Depo Pengok, Ufiani, menjelaskan pasokan sampah organik yang dikelola depo antara lain berasal dari Kelurahan Demangan dan Klitren. Sampah tersebut dikumpulkan dari penggerobak menggunakan ember yang disediakan kelurahan untuk menampung sampah yang telah dipilah.

“Kalau dari penggerobak sudah dipisah di ember-ember. Kalau sudah penuh satu ember baru dikirim ke kami,” kata Ufiani.

Sampah organik yang terkumpul kemudian disalurkan kepada pihak yang membutuhkan. Salah satu tujuan pengiriman berada di kawasan Jalan Wonosari.

Dalam skema tersebut, pihak depo membeli sampah organik seharga Rp10.000 per ember dan menjualnya kembali dengan harga Rp16.000 per ember. Selisih Rp6.000 per ember itu mencakup proses pemilahan di tingkat depo dan biaya transportasi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online