Peternak Gunungkidul Resah, Kambing Umur 4 Bulan Hanya Laku Rp250.000

David Kurniawan
David Kurniawan Kamis, 29 Oktober 2026 22:37 WIB
Peternak Gunungkidul Resah, Kambing Umur 4 Bulan Hanya Laku Rp250.000

Ilustrasi peternakan kambing/Freepik

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Harga kambing di pasaran Gunungkidul mengalami penurunan tajam hingga ada yang dijual Rp250.000 per ekor. Kondisi ini membuat pedagang dan peternak resah karena stok ternak melimpah, sementara permintaan masyarakat melemah dan biaya pemeliharaan masih tinggi.

Salah seorang pedagang kambing, Lindu, mengatakan tren penurunan harga sudah berlangsung sejak sekitar satu tahun terakhir. Harga sempat naik saat Lebaran Haji, tetapi kembali turun setelah periode tersebut.

Penurunan terlihat pada kambing untuk kebutuhan aqiqah. Jika sebelumnya harganya biasa dipatok Rp2,5 juta per ekor, kini kambing jenis tersebut dijual sekitar Rp1,5 juta hingga Rp1,6 juta per ekor.

Menurut Lindu, harga di pasaran bahkan ada yang lebih rendah. Kambing indukan dijual pada kisaran Rp700.000-Rp800.000 per ekor, sedangkan kambing siap sembelih ada yang ditawarkan Rp280.000 per ekor.

“Untuk indukan harganya di kisaran Rp700.000-800.000 per ekor. Sedangkan, kambing yang siap sembelih ada yang seharga Rp280.000 per ekor,” katanya kepada wartawan, Selasa (27/10/2026).

Permintaan Melemah
Lindu menduga penurunan harga kambing dipengaruhi berkurangnya permintaan di pasaran. Kondisi tersebut diperparah oleh daya beli masyarakat yang menurun sehingga turut menekan harga jual ternak.

Situasi ini membuat pedagang kesulitan menentukan target penjualan. Di tengah harga yang terus melemah, mereka berharap harga kambing kembali normal agar usaha perdagangan ternak bisa berjalan lebih baik.

“Harapannya harga kambing bisa Kembali normal. Di kondisi seperti sekarang tidak mematok target karena bisa menjual sudah sangat bersyukur,” katanya.

Peternak Mengeluhkan Biaya Pakan yang Mahal
Keluhan serupa disampaikan Hudi Sutamto, peternak kambing di Padukuhan Gesing 2, Purwodadi, Tepus. Ia mengaku resah karena penurunan harga jual membuat usaha peternakan semakin sulit menghasilkan keuntungan.

Menurut Hudi, biaya pemeliharaan masih relatif tinggi, terutama untuk memenuhi kebutuhan pakan yang harus dibeli. Sementara itu, harga jual kambing justru turun sehingga pendapatan dari penjualan ternak tidak mampu menutup biaya yang dikeluarkan.

“Tidak nutup karena biaya pakan sudah mahal karena juga harus membelinya. Sedangkan harga jual kambing anjlok,” katanya.

Hudi mencontohkan, kambing indukan berukuran besar kini dijual di bawah Rp1 juta per ekor. Adapun kambing berusia empat bulan hanya dihargai Rp250.000 per ekor.

“Kalau seperti ini terus, maka tidak bisa balik modal. Mudah-mudahan kondisinya segera membaik sehingga harga kambing bisa Kembali normal,” katanya.

Kondisi tersebut membuat peternak khawatir terhadap keberlanjutan usaha apabila harga jual tetap rendah, sedangkan pengeluaran untuk pakan dan pemeliharaan tidak sebanding dengan pendapatan.

Dinas Pertanian dan Pangan Benarkan Harga Turun
Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Sigit Haryanto, membenarkan adanya penurunan harga kambing di pasaran. Menurut dia, kondisi tersebut terjadi karena jumlah stok kambing melimpah, sementara permintaan masyarakat cenderung menurun.

“Jadinya, harga kambing turun pada saat sekarang karena stoknya melimpah,” katanya.

Melimpahnya pasokan yang tidak diimbangi permintaan menjadi kondisi yang turut menekan harga jual kambing di Gunungkidul. Penurunan tersebut dirasakan pedagang maupun peternak, terutama ketika biaya pemeliharaan masih harus ditanggung di tengah melemahnya harga ternak.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online