Petani Gunungkidul Olah Lahan, Musim Hujan Diprediksi Desember
Petani Gunungkidul mulai mengolah lahan dan menyiapkan benih serta pupuk sambil menunggu musim hujan yang diperkirakan tiba pada Desember 2026.
Suasana sarasehan peringatan bulan pengurangan Risiko bencana di Kabupaten Gunungkidul yang diselenggarakan di Bangsal Sewokoprojo, Kamis (29/10/2026)./Harian Jogja-David Kurniawan\r\n\r\n
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mengajak komunitas keagamaan dan tokoh agama terlibat aktif dalam pengurangan risiko bencana, mulai dari upaya pencegahan hingga pemulihan setelah bencana. Keterlibatan tersebut dinilai penting untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat melalui jaringan komunitas dan lembaga keagamaan yang telah ada.
Ajakan itu disampaikan Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan, Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Gunungkidul, Nanang Irawanto, dalam Sarasehan Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana di Bangsal Sewokoprojo, Kamis (29/10/2026).
“Komunitas agama atau tokoh agama bagian dari pentahelix sehingga juga dibutuhkan untuk kegiatan pra-kebencanaan agar pencegahan bisa lebih optimal. Sebenarnya, tidak hanya komunitas keagaman, karena kelompok Perempuan hingga disabilitas juga ikut dilibatkan karena pelaksanaan butuh sinergitas agar maksimal,” katanya.
Menurut Nanang, peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana. Risiko bencana tidak sepenuhnya dapat dihindari sehingga mitigasi diperlukan untuk menekan dampak yang mungkin ditimbulkan.
BPBD Gunungkidul Tekankan Pentingnya Kesiapsiagaan
Nanang menjelaskan penanggulangan bencana tidak cukup hanya berfokus pada penanganan ketika bencana terjadi. Tahapan prabencana juga perlu mendapat perhatian karena menjadi bagian penting dalam mempersiapkan masyarakat menghadapi situasi darurat.
Ia mengatakan kegiatan prabencana dapat dilakukan melalui diskusi, berbagi pengalaman, hingga mempelajari praktik baik dalam penanggulangan bencana. Berbagai kegiatan tersebut diharapkan menambah wawasan dan memperkuat kesiapan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.
“Pra-kebencaan ini penting karena menjadi bagian untuk kesiapsiagaan. Langkahnya bisa dilakukan dengan diskusi, sharing session hingga belajar praktik baik dalam Upaya penanggulangan dibutuhkan sebagai penambahan wawasan dalam masalah kebencanaan,” kata Nanang.
Pelibatan berbagai kelompok masyarakat, termasuk perempuan dan penyandang disabilitas, juga menjadi bagian dari pendekatan yang didorong BPBD Gunungkidul. Sinergi antarkomunitas dibutuhkan agar upaya pengurangan risiko bencana dapat berjalan lebih optimal.
Rumah Ibadah Berpotensi Jadi Pusat Informasi Bencana
Pegiat Program Lumbung Pangan di Kalurahan Kemadang, Tanjungsari, Cristiana Riyadi, mendukung keterlibatan komunitas agama dalam upaya penanggulangan bencana. Menurutnya, peran komunitas keagamaan tidak semestinya terbatas pada saat bencana terjadi, tetapi juga perlu hadir dalam kegiatan kesiapsiagaan.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan ialah menyosialisasikan informasi kebencanaan melalui komunitas dan lembaga keagamaan. Dengan jaringan yang dimiliki, komunitas tersebut dapat membantu memperluas penyebaran informasi kepada masyarakat.
Cristiana menambahkan, ketika bencana terjadi, rumah ibadah juga berpotensi menjadi sumber informasi resmi. Selain itu, rumah ibadah dapat berfungsi sebagai penghubung antara warga dan petugas serta membantu mengorganisasikan penyaluran bantuan.
“Tentunya juga bisa memberikan dukungan dalam bentuk sosial maupun spiritual,” katanya.
Mendukung Pemulihan Pascabencana
Menurut Cristiana, keterlibatan rumah ibadah tidak berhenti pada penyebaran informasi dan penyaluran bantuan saat bencana. Komunitas keagamaan juga dapat mengambil bagian dalam evaluasi tindakan penanganan bencana serta memberikan pendampingan selama proses pemulihan pascabencana.
Dukungan tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan warga yang terdampak. Melalui jaringan komunitas yang dimiliki, lembaga keagamaan juga bisa membantu pemenuhan kebutuhan pangan dan penghidupan agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.
“Melalui jaringan yang dimiliki juga bisa mengambil peran dalam memberikan dukungan pangan dan penghidupan agar bisa Kembali ke kondisi normal,” katanya.
Keterlibatan komunitas keagamaan, menurut Cristiana, dapat mencakup berbagai tahapan penanggulangan bencana, mulai dari kesiapsiagaan, penyampaian informasi, pengorganisasian bantuan, hingga pendampingan pemulihan. Peran tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan masyarakat dalam memperkuat upaya pengurangan risiko bencana di Gunungkidul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Petani Gunungkidul mulai mengolah lahan dan menyiapkan benih serta pupuk sambil menunggu musim hujan yang diperkirakan tiba pada Desember 2026.
adwal KRL Jogja-Solo Jumat, 30 Oktober 2026 tersedia dalam 15 perjalanan. Simak jadwal tiap stasiun dan tarif tiket Rp8.000.
Tiket konser Syahrini Rp35 juta menawarkan akses VIP, lounge khusus, sesi after-show, dan merchandise eksklusif. Kuotanya sekitar 40 orang.
Bakmi godog hangat dan suasana sawah menjadi daya tarik Sajian Kembang Turi di Turi, Sleman, untuk wisata kuliner keluarga saat musim hujan.
KAI menyiapkan extra seat diskon 50% untuk perjalanan kereta tertentu. Simak rencana penerapan, syarat pembelian, dan ketentuannya.
BPBD Gunungkidul mengajak komunitas keagamaan terlibat dalam mitigasi bencana, mulai dari kesiapsiagaan hingga pemulihan pascabencana.