Fotografi Tak Lagi Sekadar Pajangan, JPEX Tawarkan Pengalaman Interaktif
Jogja Photo Art Experience menghadirkan 168 karya dari 45 pameris dalam tujuh ruang instalasi seni di Jogja City Mall hingga 31 Desember 2026.
Ilustrasi cuaca buruk./Pixabay
Harianjogja.com, BANTUL—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap kejanggalan fenomena bongkahan es yang menghantam rumah warga di Pandak, Bantul, Senin (2/11/2026) pagi. Berdasarkan pemantauan radar, tidak terdeteksi hujan di lokasi kejadian saat bongkahan es jatuh sekitar pukul 08.00 WIB.
Forecaster on Duty Stasiun Meteorologi BMKG Jogja, Heri, mengatakan hujan di wilayah Pandak baru terpantau sekitar pukul 09.00 WIB dengan intensitas ringan. Artinya, hujan tersebut terjadi sekitar satu jam setelah bongkahan es merusak atap rumah warga.
"Saat kejadian, dari data radar kami tidak terjadi hujan. Hujan di Pandak baru terjadi pukul 09.00 WIB dan itu hujan ringan," kata Heri.
Berdasarkan analisis citra radar pada pagi hari, BMKG memang menemukan keberadaan awan hujan di sekitar wilayah Bantul. Namun, posisi awan tersebut tidak berada tepat di atas lokasi rumah yang terdampak bongkahan es.
Heri menjelaskan awan hujan terpantau berada di wilayah Pajangan serta Panggungharjo, Sewon. Kedua wilayah tersebut berada di sebelah barat laut dan utara dari lokasi kejadian di Pandak.
"Jadi tidak berada di lokasi yang dimaksud," ujarnya.
BMKG masih membutuhkan analisis lebih lanjut untuk mengetahui penyebab jatuhnya bongkahan es di Pandak. Salah satu kondisi atmosfer yang menjadi perhatian dalam analisis sementara adalah potensi gangguan Madden-Julian Oscillation (MJO) spasial di Pulau Jawa.
Meski demikian, Heri menegaskan keberadaan fenomena MJO spasial belum bisa dipastikan berkaitan langsung dengan peristiwa tersebut. Pasalnya, cakupan fenomena atmosfer itu meliputi wilayah Pulau Jawa, sedangkan laporan jatuhnya bongkahan es sejauh ini hanya mengarah pada satu rumah di Pandak.
Karena itu, BMKG membutuhkan data pendukung yang lebih terperinci untuk menelusuri asal-usul bongkahan es tersebut. Analisis tidak bisa hanya mengandalkan kondisi atmosfer dalam cakupan wilayah yang luas.
"Fenomena MJO spasial mencakup area Pulau Jawa, kejadian bersifat lokal sehingga diperlukan analisis lebih detail lagi. Kejadian spesifik hanya di rumah di Pandak perlu analisis lebih dalam dengan data lebih detail terkait dari mana esnya itu," ucapnya.
Dengan demikian, penyebab pasti fenomena yang merusak rumah warga tersebut belum dapat disimpulkan. BMKG masih perlu mencocokkan berbagai data cuaca dan informasi pendukung sebelum memastikan asal bongkahan es.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul, Ribut Bimo Haryo Tejo, mengatakan pihaknya juga telah menghimpun informasi dari lapangan. Berdasarkan penelusuran tersebut, tidak ditemukan pabrik es di sekitar lokasi kejadian yang berpotensi menjadi sumber bongkahan tersebut.
BPBD juga menerima informasi bahwa tidak terjadi hujan maupun angin kencang sebelum dan ketika bongkahan es jatuh hingga menghantam rumah warga. Kondisi ini membuat penyebab peristiwa tersebut masih belum diketahui secara pasti.
Ribut meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan kejadian serupa maupun bencana yang dipicu perubahan cuaca.
"Kejadian ini masih perlu dicermati sebagai fenomena yang belum diketahui penyebab pastinya. Kami meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi potensi kejadian serupa maupun bencana akibat perubahan cuaca," pungkasnya.
Sebelumnya, warga Dusun Jodog, Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Bantul, dikejutkan oleh jatuhnya bongkahan es pada Senin (2/11/2026) pagi. Bongkahan tersebut memiliki diameter sekitar 20 sentimeter atau kurang lebih sebesar kelapa muda.
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 08.00 WIB itu menimpa rumah milik Veronica Suharti di RT 3 Dusun Jodog. Benturan bongkahan es menyebabkan bagian atap dan plafon rumah mengalami kerusakan.
Bagian atap yang terbuat dari galvalum pasir serta plafon PVC beserta rangkanya dilaporkan jebol akibat hantaman tersebut. Tidak hanya merusak bagian bangunan, bongkahan es juga menyebabkan sebuah kursi kayu di ruang tamu patah.
Peristiwa tersebut kemudian menjadi perhatian karena terjadi tanpa disertai hujan maupun angin kencang berdasarkan informasi yang dihimpun BPBD dan pemantauan radar BMKG. Hingga kini, asal-usul bongkahan es yang jatuh di rumah warga itu masih memerlukan penyelidikan dan analisis lebih mendalam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jogja Photo Art Experience menghadirkan 168 karya dari 45 pameris dalam tujuh ruang instalasi seni di Jogja City Mall hingga 31 Desember 2026.
Pemuda Kulon Progo menyoroti kenaikan biaya hidup, sulitnya mencari kerja, hingga pajak pembalut yang dinilai menambah beban perempuan.
Pemkot Jogja mendampingi 17 Koperasi Merah Putih. KKMP Gunungketur mencatat omzet Rp137,75 juta dari usaha batik pada 2025.
Hujan sedang hingga deras memicu banjir dan longsor di sejumlah wilayah Kabupaten Malang. BPBD memastikan tidak ada korban jiwa.
BPS mencatat pengeluaran wisman mencapai Rp24,74 juta per kunjungan pada triwulan III/2026, naik 5,95% secara tahunan.
Kunjungan wisata Sleman mencapai 7,1 juta orang hingga September 2026. Dinpar memproyeksikan PAD bisa melampaui target Rp403,5 miliar.