Kemarau Picu Lonjakan Kebakaran di Sleman, Kejadian Capai 61 Kasus

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Jum'at, 25 September 2026 16:07 WIB
Kemarau Picu Lonjakan Kebakaran di Sleman, Kejadian Capai 61 Kasus

Foto ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. - Magnific

Harianjogja.com, SLEMAN—Kasus kebakaran di Kabupaten Sleman mengalami peningkatan selama musim kemarau 2026. Hingga 14 September, sebanyak 61 kejadian kebakaran tercatat, dengan mayoritas merupakan kebakaran lahan.

Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP Sleman, Gunadi, mengatakan peningkatan kasus kebakaran mulai terlihat sejak Juni 2026. Pada bulan tersebut tercatat 35 kejadian kebakaran.

Jumlah kejadian kemudian meningkat menjadi 51 kasus pada Juli. Angka tersebut kembali melonjak pada Agustus dengan 73 kejadian kebakaran.

Sementara itu, sepanjang Januari hingga Mei 2026, rata-rata kejadian kebakaran hanya berada di kisaran 13 kasus per bulan.

“Di musim kemarau ini terdapat lonjakan kasus kebakaran,” kata Gunadi ditemui di kantornya, Kamis (24/9/2026).

Kebakaran Lahan Mendominasi

Gunadi mengatakan sebagian besar kejadian kebakaran selama periode tersebut merupakan kebakaran lahan. Peningkatan kasus kebakaran lahan terutama terjadi pada Juli hingga September.

Menurutnya, aktivitas pembakaran sampah di lahan yang kondisinya kering menjadi salah satu penyebab dominan kebakaran lahan di Sleman. Api dari pembakaran sampah dapat dengan cepat merembet ketika kondisi cuaca panas disertai angin kencang.

Kondisi tersebut membuat pembakaran sampah di lahan kering memiliki risiko lebih besar. Api yang awalnya berasal dari aktivitas pembakaran sampah dapat menjalar ke area lain ketika tidak terkendali.

Depok dan Ngaglik Banyak Terjadi Kebakaran

Wilayah yang tercatat memiliki kejadian kebakaran paling banyak antara lain Kapanewon Depok dan Ngaglik. Selain dua wilayah tersebut, Ngemplak dan Gamping juga termasuk daerah dengan kejadian kebakaran yang relatif tinggi.

Gunadi menyebut selisih jumlah kejadian di sejumlah wilayah tersebut tipis. Pembakaran sampah menjadi penyebab yang dominan di wilayah-wilayah tersebut.

Namun, data kebakaran yang tercatat Satpol PP Sleman kemungkinan belum menggambarkan seluruh kejadian yang berlangsung di lapangan. Gunadi menjelaskan sebagian kebakaran dapat ditangani sendiri oleh warga sehingga tidak dilaporkan kepada petugas pemadam kebakaran.

Warga Diminta Tidak Membakar Sampah

Gunadi mengimbau masyarakat meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas pembakaran sampah, khususnya ketika dilakukan di lahan yang kering. Menurutnya, pembakaran yang ditunggui sekalipun tetap memiliki risiko.

Masyarakat dapat panik apabila api tiba-tiba merembet akibat kondisi cuaca panas dan angin kencang. Karena itu, warga diminta menahan diri dari aktivitas pembakaran sampah.

“Memang harus masyarakat itu untuk menahan diri untuk tidak membakar sampah,” ujarnya.

Untuk mengurangi kebiasaan tersebut, Gunadi berharap sektor pertanian turut memberikan edukasi mengenai pemanfaatan sampah organik. Salah satu contohnya adalah daun bambu yang selama ini kerap dibakar di lahan.

Menurut Gunadi, daun bambu sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk sehingga tidak harus dibakar. Edukasi mengenai pengelolaan sampah organik diharapkan dapat mengurangi kebiasaan membakar sampah.

“Kami berharap dari teman-teman pertanian itu bisa mengedukasi tentang sampah organik. Kalau itu bisa teratasi, saya kira kebiasaan membakar sampah itu akan sangat berkurang,” katanya.

Respons Kebakaran Dipercepat

Selain melakukan pencegahan, Satpol PP Sleman juga berupaya mempercepat respons ketika terjadi kebakaran. Salah satu upaya yang dilakukan adalah terus menyosialisasikan nomor admin pemadam kebakaran kepada masyarakat.

Gunadi mengatakan masyarakat perlu segera menghubungi petugas ketika menemukan kejadian kebakaran. Informasi yang lebih cepat diterima petugas diperlukan agar api dapat segera ditangani sebelum meluas.

Selama ini, sebagian masyarakat masih menghubungi personel pemadam kebakaran secara langsung ketika terjadi kebakaran. Kondisi tersebut dapat membuat informasi mengenai kejadian membutuhkan waktu lebih lama untuk diteruskan kepada petugas terkait.

Sosialisasi pencegahan kebakaran juga terus dilakukan melalui rapat koordinasi dan pertemuan dengan pamong kalurahan. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat kembali diingatkan agar tidak membakar sampah sembarangan.

Imbauan tersebut semakin penting terutama saat kondisi cuaca panas dan angin kencang. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan agar aktivitas pembakaran sampah tidak berkembang menjadi kebakaran lahan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online