Kasus DBD Sleman Menurun hingga Oktober 2026, Warga Diminta Tetap Waspada

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Kamis, 05 November 2026 14:07 WIB
Kasus DBD Sleman Menurun hingga Oktober 2026, Warga Diminta Tetap Waspada

Foto ilustrasi. /Ist-Freepik

Harianjogja.com, SLEMAN—Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Sleman tercatat turun menjadi 109 kasus hingga Oktober 2026. Meski menunjukkan penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman mengingatkan masyarakat agar tidak lengah dan terus menggencarkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), terutama menjelang musim hujan.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Sleman, dr. Khamidah Yuliati, mengatakan penurunan kasus DBD di Sleman telah berlangsung sejak 2020, setelah penerapan teknologi Wolbachia.

Namun, tren tersebut sempat berbalik pada 2024. Saat itu, kasus DBD kembali meningkat seiring fenomena El Nino yang juga berdampak terhadap kenaikan kasus demam berdarah secara nasional.

Berdasarkan catatan Dinkes Sleman, jumlah kasus DBD mengalami perubahan dalam tujuh tahun terakhir. Pada 2020 tercatat 810 kasus, kemudian turun menjadi 282 kasus pada 2021.

Jumlah kasus selanjutnya mencapai 330 pada 2022 dan kembali menurun menjadi 146 kasus pada 2023. Namun, pada 2024 terjadi peningkatan menjadi 675 kasus, sebelum turun menjadi 423 kasus pada 2025 dan 109 kasus hingga Oktober 2026.

“Upaya dari Kabupaten Sleman dalam pengendalian DBD dilakukan melalui surveilans kasus, pengendalian vektor, hingga sosialisasi kepada masyarakat. Sampai Oktober 2026, alhamdulillah terjadi penurunan kasus,” ujarnya di Pemkab Sleman pada Kamis (5/11/2026).

Musim Hujan Berpotensi Memicu Perkembangbiakan Nyamuk
Meski jumlah kasus DBD menurun, Dinkes Sleman meminta masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan. Terlebih, perubahan cuaca pada masa pancaroba hingga musim hujan dapat memunculkan lebih banyak tempat perkembangbiakan nyamuk.

Khamidah menjelaskan DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus dengue. Ketika musim hujan tiba, tempat penampungan air serta barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan berpotensi menjadi lokasi berkembang biaknya nyamuk tersebut.

Karena itu, pemberantasan sarang nyamuk perlu dilakukan secara rutin, bukan hanya ketika ditemukan kasus DBD di lingkungan tempat tinggal.

Dinkes Sleman Ingatkan Gerakan 3M Plus
Salah satu langkah pencegahan yang ditekankan Dinkes Sleman adalah penerapan gerakan 3M Plus. Masyarakat diminta membiasakan tiga langkah utama, yakni menguras tempat penampungan air secara berkala, menutup rapat tempat penampungan air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Selain tiga langkah tersebut, upaya Plus dapat dilakukan dengan menggunakan repelan atau bahan penolak nyamuk, memasang kasa pada ventilasi, serta menjaga kebersihan lingkungan.

Pemeriksaan jentik secara rutin juga perlu menjadi perhatian. Upaya ini membutuhkan keterlibatan aktif keluarga, kader kesehatan, dan juru pemantau jentik (jumantik).

Di luar PSN, pengendalian DBD di Sleman juga dilakukan melalui sejumlah metode. Di antaranya penerapan teknologi Wolbachia, pemberian larvasida, serta fogging atau pengasapan yang dilaksanakan sesuai hasil penyelidikan epidemiologi.

Warga Diminta Mengenali Gejala dan Tanda Bahaya DBD
Selain mencegah perkembangbiakan nyamuk, masyarakat perlu mengenali gejala demam berdarah agar penanganan medis dapat segera dilakukan.

Gejala DBD yang perlu diwaspadai meliputi demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot, dan mual. Apabila muncul tanda peringatan seperti nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, lemas berat, serta tangan dan kaki terasa dingin, masyarakat diminta segera mencari pertolongan medis.

Khamidah juga mengingatkan bahwa turunnya demam tidak selalu menandakan pasien DBD telah sembuh. Pada sebagian pasien, kondisi kritis justru bisa terjadi ketika suhu tubuh mulai kembali normal.

“Demam yang mulai turun tidak selalu berarti pasien DBD sudah sembuh. Pada sebagian pasien, fase kritis justru dapat terjadi ketika demam mereda. Karena itu, pemantauan kondisi pasien dan kepatuhan terhadap anjuran tenaga kesehatan sangat penting,” katanya.

Dengan demikian, penurunan jumlah kasus DBD di Sleman hingga Oktober 2026 tetap perlu diikuti langkah pencegahan secara konsisten. PSN, penerapan 3M Plus, pemeriksaan jentik, serta kewaspadaan terhadap gejala dan tanda bahaya menjadi bagian penting dalam pengendalian penyakit tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online