Usaha Vila dan Homestay di Sleman Tercatat 733 hingga Oktober 2026

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Kamis, 29 Oktober 2026 19:57 WIB
Usaha Vila dan Homestay di Sleman Tercatat 733 hingga Oktober 2026

Ilustrasi homestay - Freepik

Harianjogja.com, SLEMAN—Jumlah usaha vila dan homestay yang tercatat di Kabupaten Sleman mencapai 733 hingga 26 Oktober 2026. Data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sleman menunjukkan usaha akomodasi tersebut terdiri atas 323 vila dan 410 homestay, yang seluruhnya masuk kategori penanaman modal dalam negeri (PMDN).

Kepala DPMPTSP Sleman, Triana Wahyuningsih, mengatakan perkembangan usaha akomodasi wisata menunjukkan adanya peluang ekonomi yang dapat dimanfaatkan masyarakat dan pelaku usaha. Kebutuhan wisatawan terhadap pilihan penginapan yang beragam dan fleksibel turut menjadi salah satu faktor yang mendukung perkembangan sektor tersebut.

“Peningkatan ini mengindikasikan berkembangnya peluang ekonomi di sektor akomodasi wisata, seiring dengan kebutuhan wisatawan terhadap pilihan penginapan yang lebih beragam dan fleksibel,” tutur Triana, Kamis (29/10/2026).

Berdasarkan data yang disampaikan Triana, jumlah usaha vila dan homestay pada 2024 tercatat sebanyak 89 usaha, terdiri atas 50 vila dan 39 homestay. Pada 2025, jumlah yang tercatat sebanyak 61 usaha.

Sementara itu, hingga 26 Oktober 2026, jumlahnya mencapai 733 usaha. Namun, perbandingan angka tersebut perlu dilihat berdasarkan cakupan data masing-masing tahun untuk memastikan apakah angka 2024 dan 2025 merupakan penambahan usaha baru atau jumlah keseluruhan usaha yang tercatat.

Homestay Lebih Banyak Dibandingkan Vila

Pada 2026, jumlah homestay di Sleman mencapai 410 usaha, lebih banyak dibandingkan vila yang tercatat sebanyak 323 usaha. Komposisi tersebut menunjukkan homestay menjadi bagian penting dalam pilihan akomodasi wisata di wilayah tersebut.

Triana menilai perkembangan usaha akomodasi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk memperoleh pendapatan dari sektor pariwisata. Pemanfaatan rumah atau properti sebagai homestay maupun vila menjadi salah satu cara yang dapat ditempuh untuk menangkap peluang tersebut.

Sleman memiliki beragam daya tarik, mulai dari alam, budaya, pendidikan hingga kuliner. Letaknya di kawasan Jogja juga menjadi salah satu faktor pendukung bagi perkembangan usaha penginapan.

Pertumbuhan akomodasi wisata berpotensi menggerakkan sektor ekonomi lain, seperti pemasaran produk lokal, kuliner, transportasi, dan berbagai jasa wisata. Dengan demikian, manfaatnya tidak hanya berkaitan dengan penyediaan tempat menginap, tetapi juga peluang usaha bagi masyarakat sekitar.

“Dari sisi sosial ekonomi, tren tersebut dapat mencerminkan meningkatnya minat masyarakat dan pelaku usaha untuk memanfaatkan potensi pariwisata sebagai sumber pendapatan,” ujarnya.

Perizinan dan Lingkungan Perlu Menjadi Perhatian

Di tengah perkembangan usaha akomodasi, Triana mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap ketentuan perizinan, standar pelayanan, dan pengelolaan lingkungan. Pengawasan diperlukan agar pertumbuhan usaha tetap berjalan sesuai ketentuan dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.

DPMPTSP Sleman akan melakukan pengawasan bersama dinas terkait untuk memastikan pelaku usaha memenuhi ketentuan yang berlaku. Pemberdayaan masyarakat setempat juga menjadi perhatian agar perkembangan investasi dapat memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan.

“Ke depan, pertumbuhan tersebut perlu diimbangi dengan kepatuhan perizinan melalui kegiatan pengawasan oleh DPMPTSP Sleman bersama dinas terkait, standar pelayanan, pengelolaan lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat setempat agar memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan,” kata Triana.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online