Anggota DPRD Sleman Wahyudi Kurniawan Soroti Ketahanan Pangan dan Ekonomi Tempel

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Sabtu, 24 Oktober 2026 09:27 WIB
Anggota DPRD Sleman Wahyudi Kurniawan Soroti Ketahanan Pangan dan Ekonomi Tempel

Ilustrasi ketahanan pangan. Antara/Adeng Bustomi/wsj.\r\n

Harianjogja.com, SLEMAN—Ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino ekstrem dan kondisi perekonomian masyarakat menjadi perhatian Anggota DPRD Kabupaten Sleman, Wahyudi Kurniawan. Dia mendorong optimalisasi lahan produktif dan keterlibatan warga untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi di Kapanewon Tempel.

Wahyudi mengatakan pemanfaatan lahan yang tersedia perlu dioptimalkan untuk menjaga ketersediaan pangan di Kabupaten Sleman. Terlebih, kekeringan mulai dirasakan di sejumlah padukuhan sehingga perlu diantisipasi agar tidak mengganggu produktivitas masyarakat.

“Tantangan ke depan yang pertama adalah bagaimana kita menjaga ketahanan pangan. Dengan adanya fenomena El Nino ekstrem, beberapa padukuhan sudah mengalami kekeringan. Bagaimana lahan-lahan yang ada bisa dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat,” ujar Wahyudi, Kamis (22/10/2026).

Ekonomi Tempel Perlu Ditingkatkan

Selain persoalan pangan, Wahyudi menyoroti kondisi ekonomi Kapanewon Tempel yang masih masuk lima besar wilayah dengan tingkat perekonomian terendah di Kabupaten Sleman. Menurut dia, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama agar potensi ekonomi masyarakat dapat dikembangkan secara optimal.

“Kapanewon Tempel ini masuk lima besar kapanewon yang secara ekonomi masih perlu kita dorong. Yang bisa menjawab itu siapa? Ya, panjenengan semuanya,” katanya.

Dia menilai masyarakat memiliki peran penting dalam menentukan arah pembangunan dan memperkuat perekonomian daerah. Karena itu, warga diharapkan memanfaatkan kesempatan untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada wakil rakyat sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan.

“Menjadi anggota DPRD adalah amanah dan kepercayaan warga masyarakat untuk memilih wakilnya agar bisa memperjuangkan aspirasi panjenengan semuanya,” ujarnya.

Pembangunan Perlu Berdasarkan Prioritas

Wahyudi juga mengimbau masyarakat bersama pemerintah kalurahan memetakan kebutuhan pembangunan berdasarkan skala prioritas. Langkah tersebut diharapkan membuat usulan program dan alokasi anggaran lebih tepat sasaran serta sesuai dengan kebutuhan warga.

Menurut dia, sinergi masyarakat, pemerintah kalurahan, dan legislatif diperlukan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan kegiatan ubinan guna mengukur produktivitas tanaman pangan secara objektif berdasarkan hasil panen di lapangan.

Kegiatan ubinan jagung dilaksanakan pada 22 Oktober 2026 di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kegiatan ini merupakan bagian dari pengumpulan data statistik pertanian yang digunakan untuk mendukung penghitungan estimasi produksi tanaman pangan.

Ubinan merupakan metode pengukuran produktivitas tanaman pangan melalui pemanenan pada petak sampel terpilih. Pada lahan yang memungkinkan, pengukuran dilakukan menggunakan plot berukuran 2,5 × 2,5 meter atau seluas 6,25 meter persegi. Seluruh hasil panen dari plot tersebut kemudian ditimbang. Rata-rata berat hasil panen dari seluruh sampel plot selanjutnya dikonversi ke dalam satuan kuintal per hektare untuk menggambarkan produktivitas tanaman.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online