Tren Downgrade Wisatawan Jadi Tantangan Biro Perjalanan DIY

Anisatul Umah
Anisatul Umah Senin, 26 Oktober 2026 16:57 WIB
Tren Downgrade Wisatawan Jadi Tantangan Biro Perjalanan DIY

Wisatawan bermasin di Gumuk Pasir wilayah Parangkusumo, Minggu (18/10/2026)/Harian Jogja-Kiki Luqman

Harianjogja.com, JOGJA—Wisatawan kini semakin selektif dalam mengatur anggaran perjalanan. Kondisi ini menjadi tantangan bagi biro perjalanan wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk menyediakan pilihan paket yang sesuai dengan kemampuan belanja konsumen tanpa mengurangi kualitas layanan.

Humas DPD Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIY, Iwan Sulistyanto, mengatakan tren penyesuaian konsumsi atau downgrade perlu dicermati oleh pelaku industri pariwisata. Wisatawan dinilai tetap membutuhkan rekreasi, tetapi semakin mempertimbangkan harga, manfaat, kenyamanan, dan pengalaman yang akan diperoleh.

“Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya jumlah perjalanan, melainkan juga perubahan preferensi dan anggaran wisatawan,” ujarnya, Senin (26/10/2026).

Menurut Iwan, perubahan perilaku tersebut dapat terlihat dari pilihan paket yang lebih ekonomis, durasi perjalanan yang lebih singkat, hingga pengurangan komponen perjalanan yang dianggap kurang prioritas. Wisatawan juga semakin memperhatikan kesesuaian antara harga dan layanan yang diterima.

Meski demikian, pasar untuk wisata premium tetap tersedia. Sebagian wisatawan masih mengutamakan kenyamanan, layanan personal, dan pengalaman eksklusif sehingga biro perjalanan perlu menawarkan produk yang beragam, mulai dari paket ekonomis hingga premium.

“Secara umum, wisatawan domestik berpotensi lebih cepat merespons perubahan daya beli dan kondisi ekonomi rumah tangga karena keputusan berwisata mereka berkaitan erat dengan pengeluaran sehari-hari serta kebutuhan prioritas lainnya,” jelasnya.

Sementara itu, karakter wisatawan mancanegara lebih beragam karena dipengaruhi negara asal, tujuan perjalanan, nilai tukar, dan segmen pasar. Sebagian wisatawan asing sensitif terhadap harga, sedangkan kelompok lainnya tetap memprioritaskan kualitas pengalaman.

“Kami melihat pentingnya melakukan pemetaan berdasarkan segmen pasar. Kami tidak ingin menyamaratakan dampaknya terhadap wisatawan domestik maupun mancanegara tanpa didukung data yang lebih spesifik,” ucapnya.

Biro Perjalanan Perlu Tawarkan Nilai Tambah

Perkembangan platform digital membuat wisatawan semakin mudah merencanakan perjalanan secara mandiri. Pemesanan tiket, akomodasi, dan aktivitas wisata kini dapat dilakukan langsung melalui berbagai layanan digital.

Namun, menurut Iwan, biro perjalanan wisata masih memiliki peran penting, terutama dalam menyusun rencana perjalanan yang efisien, mengelola perjalanan rombongan dan korporasi, menyediakan wisata minat khusus, serta menangani kebutuhan wisatawan yang memerlukan layanan terintegrasi.

Nilai tambah biro perjalanan, lanjutnya, bukan sekadar pemesanan tiket atau hotel. Pelaku usaha juga menawarkan keahlian dalam merancang perjalanan, berkoordinasi dengan penyedia layanan, mendampingi wisatawan, dan memitigasi risiko selama perjalanan.

“Karena itu, ke depan biro perjalanan perlu semakin adaptif, transparan, dan mampu menawarkan layanan yang memberikan nilai tambah nyata bagi wisatawan,” lanjutnya.

Perubahan Konsumsi Berpotensi Tekan Margin Usaha

Iwan mengatakan perubahan pola konsumsi masyarakat dapat memengaruhi strategi penjualan dan struktur pendapatan biro perjalanan wisata. Besarnya dampak terhadap setiap perusahaan bisa berbeda, bergantung pada segmen pasar, jenis produk, kontrak yang dimiliki, dan komposisi wisatawan yang dilayani.

Sebagian pelaku usaha berpotensi menghadapi tekanan pada harga jual atau margin keuntungan. Sementara itu, perusahaan yang melakukan diversifikasi produk, meningkatkan efisiensi operasional, dan mengembangkan segmen pasar baru berpeluang mempertahankan kinerja bisnisnya.

Asita DIY memandang perubahan tersebut bukan semata-mata sebagai penurunan daya beli, melainkan juga pergeseran perilaku wisatawan yang menuntut industri pariwisata semakin adaptif.

“Tantangannya adalah bagaimana menghadirkan produk wisata yang sesuai dengan anggaran masyarakat, tanpa mengorbankan kualitas pengalaman dan keberlanjutan usaha pariwisata di DIY,” lanjutnya.

Konsumen Mal Juga Makin Selektif

Perubahan pola konsumsi juga disoroti Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DIY, Surya Ananta. Sebelumnya, ia menyampaikan adanya kecenderungan konsumen beralih ke produk yang lebih terjangkau, baik di tingkat regional maupun nasional.

Menurut Surya, konsumen kini memiliki lebih banyak pilihan selain merek kelas atas, termasuk produk lokal dan nasional yang menawarkan kualitas semakin baik dengan harga lebih terjangkau.

"Konsumen di DIY yang didominasi oleh segmen keluarga muda, pekerja, dan mahasiswa tetap memanfaatkan mal sebagai ruang publik untuk hiburan, namun lebih selektif dalam membelanjakan uangnya," ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online