Reservasi Hotel Naik 5-15 Persen Jelang WJNC 2026, PHRI DIY Ungkap Kondisinya
Reservasi hotel di Jogja naik 5%-15% menjelang WJNC 2026. PHRI DIY menyebut okupansi 25%-40% dan berharap dampak wisatawan meluas.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon ditemui dalam penutupan IPCC 2026 di Museum Benteng Vredeburg, Rabu malam (14/10/2026). Anisatul Umah-Harian Jogja.
Harianjogja.com, JOGJA—Kementerian Kebudayaan menargetkan pemugaran Mahastupa atau Yasti Candi Borobudur rampung pada 24 Oktober 2026. Pekerjaan ini menjadi perhatian karena bagian tersebut belum kembali dipugar sejak penanganan pada masa kolonial yang dipimpin Van Erp pada 1907-1911.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, mengatakan pemugaran kali ini merupakan upaya penanganan kembali Mahastupa setelah lebih dari satu abad. Menurutnya, pemugaran Borobudur yang pernah dilakukan pada 1973-1983 di bawah pimpinan Soekmono tidak mencakup bagian tersebut.
"Ini pertama kalinya kita lakukan pemugaran Borobudur untuk Mahastupa atau Yasti," ujarnya saat ditemui dalam penutupan IPCC 2026 di Museum Benteng Vredeburg, Rabu malam (14/10/2026).
Fadli menjelaskan dirinya telah melihat langsung kondisi Mahastupa, termasuk bagian dalam stupa. Dari pemeriksaan tersebut, ia menemukan sejumlah bagian yang perlu diperkuat karena mengalami pergeseran.
Selain itu, penggunaan semen pada masa lalu diduga meninggalkan residu kapur pada batu candi. Residu tersebut disebut berkaitan dengan munculnya bercak putih pada permukaan batu akibat proses penggaraman.
Menurut Fadli, proses tersebut juga dapat menyebabkan batu melunak sehingga sejumlah bagian perlu mendapat penanganan lebih lanjut.
"Sehingga banyak, batu di sana itu perlu diperkuat, harus ada yang diisi lagi, dan juga strukturnya, terutama di Mahastupa juga, perlu diperkuat," jelasnya.
Bercak Putih Borobudur Ditangani dengan Laser
Selain memperkuat struktur Mahastupa, penanganan juga dilakukan terhadap bercak putih akibat penggaraman pada relief Candi Borobudur. Menurut Fadli, proses tersebut menggunakan laser yang dioperasikan secara manual.
Metode itu digunakan untuk menghilangkan endapan garam yang masuk ke pori-pori batu tanpa merusak material candi. Penanganan telah berlangsung sekitar dua pekan dan ditargetkan selesai pada 24 Oktober 2026.
Setelah pekerjaan tersebut rampung, perawatan relief Borobudur direncanakan berlanjut pada awal 2027.
"Kita merencanakan untuk maintenance juga relief, tapi mungkin tahun depan ya, awal tahun depan," paparnya.
Perawatan lanjutan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi relief dan material candi. Namun, pelaksanaannya direncanakan pada periode berikutnya setelah penanganan yang sedang berlangsung selesai.
Pemasangan Chattra Borobudur Masih Berproses dengan UNESCO
Di luar pemugaran Mahastupa, rencana pemasangan Chattra atau payung di puncak Candi Borobudur masih dibahas bersama UNESCO. Fadli mengatakan pemasangan baru akan dilakukan setelah seluruh prosedur terpenuhi, termasuk heritage impact assessment atau kajian dampak terhadap warisan budaya yang masih berjalan.
Menurutnya, pemasangan Chattra juga berkaitan dengan aspirasi umat Buddha yang telah lama disampaikan. Ia menyebut rencana tersebut sejalan dengan gagasan menjadikan Borobudur sebagai living heritage atau warisan budaya yang tetap hidup, bukan hanya monumen bersejarah.
"Dan di dalam konstitusi kita kan kita harus memberikan kebebasan di dalam menjalankan agama dan keyakinan. Nah, tentu kita harus hormati apa yang menjadi harapan dari umat Buddha, karena begitu dipasang Chattra itu, dia menjadi living heritage," ujarnya.
Fadli menjelaskan bahwa Chattra sebenarnya pernah dibuat pada masa Van Erp, yakni pada periode 1907-1911. Namun, payung tiga tingkat tersebut kemudian diturunkan karena konstruksinya dinilai terlalu berat.
Adapun aspirasi umat Buddha saat ini, menurutnya, mengarah pada pemasangan Chattra dengan bentuk yang disesuaikan dan tidak lagi menggunakan batu sebagai materialnya.
Fadli berharap pemasangan Chattra dapat menarik lebih banyak umat Buddha dari berbagai negara untuk berkunjung ke Borobudur, termasuk dari China dan India. Ia menyebut jumlah umat Buddha di berbagai negara mencapai sekitar 600 juta orang.
"Kalau 1% saja kan 6 juta bisa. Nah, oleh karena itu, terutama kita menganggap ini sebagai bagian dari penjalanan konstitusi kita untuk memberikan kebebasan di dalam menjalankan agama dan kepercayaannya itu," lanjutnya.
Meski demikian, pemasangan Chattra masih menunggu penyelesaian prosedur bersama UNESCO. Dengan demikian, rencana tersebut belum dapat dipastikan pelaksanaannya sebelum proses kajian dan persyaratan yang diperlukan selesai.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Reservasi hotel di Jogja naik 5%-15% menjelang WJNC 2026. PHRI DIY menyebut okupansi 25%-40% dan berharap dampak wisatawan meluas.
Pemkab Magelang menanggung biaya pengobatan korban dugaan keracunan es buah. Sebanyak 167 warga dilaporkan telah masuk rumah sakit.
Ubi jalar Bima Pasru di Seyegan, Sleman, mencatat produktivitas 27,8 ton per hektare berdasarkan hasil pengubinan DP3.
Sebanyak 29 Kopdes Merah Putih di Kota Probolinggo mencatat transaksi Rp5,32 miliar sepanjang 2026, didominasi penjualan beras SPHP.
IMCF 2026 di ISI Jogja melibatkan 20 komponis dari lima negara dengan tema Vestigium Sonorum dan kecerdasan artistik.
DPRD DIY meminta UMKM lokal dilibatkan dalam program MBG dan Kopdes Merah Putih serta mendorong perluasan pemasaran dan akses modal.